PLN Indonesia Power dan South Pole Bahas Perpanjangan Kerja Sama Perdagangan Karbon

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – PT PLN Indonesia Power dan perusahaan konsultan iklim global asal Swiss, South Pole AG, membahas perpanjangan kerja sama perdagangan karbon untuk proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Gunung Salak sekaligus menjajaki peluang baru pengembangan pasar karbon dan program dekarbonisasi di Indonesia.

Dikutip dari laman media PLN Indonesia Power JUmat (26/6/2026), pembahasan tersebut berlangsung dalam pertemuan jajaran manajemen kedua perusahaan di Kantor Pusat PLN Indonesia Power, baru-baru ini di Jakarta, sebagai bagian dari upaya memperkuat pengembangan bisnis karbon dan mendukung percepatan transisi energi bersih.

Read also:  Indonesia Dorong Pasar Karbon Berintegritas, Perkuat Kerja Sama Gambut dan Mangrove di Forum London

Direktur Utama PLN Indonesia Power Bernadus Sudarmanta mengatakan kerja sama dengan South Pole selama ini telah memberikan kontribusi dalam monetisasi aset karbon perusahaan. Ke depan, kemitraan tersebut diharapkan dapat diperluas untuk mendukung berbagai inisiatif dekarbonisasi.

“Kami mengapresiasi kontribusi South Pole dalam mendukung monetisasi aset karbon PLN Indonesia Power. Keberhasilan kerja sama ini menjadi fondasi yang kuat untuk melanjutkan kemitraan perdagangan karbon PLTP Gunung Salak serta mengembangkan berbagai peluang kolaborasi di bidang dekarbonisasi dan energi bersih,” kata Bernadus.

Read also:  Pasokan Kredit Karbon Melimpah, Indonesia Perlu Perkuat Permintaan Pasar

Selain membahas kelanjutan Emission Reduction Purchase Agreement (ERPA) untuk PLTP Gunung Salak, kedua perusahaan juga mengevaluasi capaian kerja sama yang telah berjalan dan mendiskusikan peluang monetisasi kredit karbon dari proyek-proyek energi bersih lainnya yang dimiliki PLN Indonesia Power.

Pengembangan pasar karbon tersebut menjadi bagian dari strategi Beyond Energy Solutions yang dijalankan PLN Indonesia Power untuk menciptakan nilai tambah di luar bisnis pembangkitan listrik melalui optimalisasi aset karbon dan pengembangan solusi dekarbonisasi.

Read also:  Indonesia Siap Jual 30 Juta Ton Kredit Karbon FOLU ke Pasar Global Awal Juli 2026

Chief Executive Officer South Pole AG Nadia Kaddouri mengatakan Indonesia menjadi salah satu negara prioritas dalam pengembangan bisnis karbon global. Menurutnya, kolaborasi dengan PLN Indonesia Power membuka peluang untuk memperluas implementasi solusi iklim yang memberikan manfaat jangka panjang.

“Indonesia memiliki peran yang sangat penting dalam upaya global menuju pembangunan berkelanjutan dan transisi energi rendah karbon. Kami berkomitmen memperluas kolaborasi di Indonesia untuk mendorong aksi iklim dan dekarbonisasi sekaligus mendukung pengembangan solusi iklim yang berdampak,” ujar Nadia. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Menhut Ajak Dunia Bangun Pasar Karbon yang Kredibel dan Berkeadilan

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia mengajak komunitas internasional memperkuat pasar karbon global yang kredibel, transparan, dan berintegritas tinggi agar mampu memobilisasi investasi iklim dalam skala...

Di Forum Iklim London, Menhut Umumkan Penerbitan Kredit Karbon Kehutanan Terbesar Indonesia

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia akan menerbitkan kredit karbon sektor kehutanan dengan volume lebih dari 30 juta ton CO₂e pada 6 Juli 2026, menandai salah...

Indonesia Dorong Pasar Karbon Berintegritas, Perkuat Kerja Sama Gambut dan Mangrove di Forum London

Ecobiz.asia – Indonesia membawa tiga agenda utama dalam forum Forest and Climate Leaders' Partnership (FCLP) di London, yakni mendorong pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi,...

Kemenhut Tegaskan Hanya PBPH yang Berhak Ajukan Perdagangan Karbon di Konsesi Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan bahwa pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), bukan pengembang proyek (project developer), merupakan pihak yang berhak mengajukan permohonan...

Empat Tantangan Proyek Karbon Kehutanan, Fairatmos Siap Dampingi PBPH

Ecobiz.asia – Pengembangan proyek karbon di sektor kehutanan menghadapi sedikitnya empat tantangan utama, mulai dari persoalan status lahan, keterbatasan data karbon, tingginya biaya pengembangan...

TOP STORIES

Perempuan Penggerak Ekonomi Restoratif, Akses dan Kepemimpinan Perlu Diperkuat

Ecobiz.asia – Perempuan dinilai memegang peran sentral dalam membangun ekonomi restoratif, mulai dari menjaga hutan dan sumber air, memperkuat ketahanan pangan, hingga mengembangkan usaha...

Kemenhut Gagalkan Penyelundupan Owa Jawa dan Biawak Endemik ke Oman

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menggagalkan upaya penyelundupan dua satwa endemik Indonesia, yakni owa jawa (Hylobates moloch) dan biawak tiga warna (Varanus yuwonoi), yang...

PLN Indonesia Power, South Pole Explore Expanded Carbon Market and Decarbonization Partnership

Ecobiz.asia — Indonesia's state-owned power producer PLN Indonesia Power and Swiss climate advisory firm South Pole AG are exploring an extension of their carbon...

Pendanaan Adaptasi Iklim Terbuka Lebar, Akses dan Kualitas Proyek Masih Jadi Tantangan

Ecobiz.asia – Peluang Indonesia memperoleh pendanaan internasional untuk program adaptasi perubahan iklim semakin terbuka seiring meningkatnya perhatian lembaga pendanaan global terhadap isu adaptasi. Namun,...

Synkrona Rampungkan Studi, Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut Pertama Indonesia Makin Dekat

Ecobiz.asia – PT Synkrona Enjiniring Nusantara menyelesaikan studi pra-kelayakan (pre-feasibility study) untuk proyek percontohan pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL) di Nusa Penida, Bali....