Perkuat Daya Saing Kehutanan, Kemenhut Targetkan Seluruh PBPH Terapkan Multi Usaha Kehutanan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menargetkan seluruh pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) bertransformasi dari model bisnis tunggal menjadi multi usaha kehutanan (MUK) dalam beberapa tahun ke depan guna meningkatkan kinerja usaha, memperkuat daya saing sektor kehutanan, sekaligus membuka sumber pendapatan baru dari kawasan hutan.

Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan, Laksmi Wijayanti, mengatakan transformasi tersebut diperlukan karena banyak konsesi kehutanan yang selama ini hanya mengandalkan bisnis kayu menghadapi penurunan efisiensi dan keuntungan usaha.

“Kami sedang mengejar target agar setidaknya dalam beberapa tahun ke depan semua konsesi yang tadinya single business itu bisa pindah ke multiusaha. Mengapa? Karena kami kemudian melihat berpindah multiusaha membuka kesempatan ketika kegiatan awalnya dia sudah tidak efisien,” kata Laksmi kepada wartawan di Jakarta, Kamis (26/6/2026).

Read also:  PBPH Antusias Terapkan Multiusaha Kehutanan, Padukan Kayu dengan Agroforestri dan Karbon

Menurut Laksmi, selama ini nilai ekonomi hutan kerap dihargai terlalu rendah karena pemanfaatan lebih banyak bertumpu pada kayu. Akibatnya, banyak jasa lingkungan dan hasil hutan bukan kayu yang memiliki potensi ekonomi besar belum dimanfaatkan secara optimal.

Kondisi tersebut berdampak pada menurunnya daya saing usaha kehutanan. Kemenhut menilai sekitar 30 persen pemegang konsesi saat ini memiliki kinerja yang tidak optimal sehingga mendorong pemerintah melakukan evaluasi, termasuk pencabutan izin bagi konsesi yang stagnan.

Read also:  Komunitas Iklim Asia Tenggara Desak Bank Dunia dan IMF Alihkan Pembiayaan ke Ekonomi Regeneratif

Melalui pendekatan multi usaha kehutanan, pemegang PBPH didorong mengembangkan berbagai sumber pendapatan dalam satu kawasan hutan. Selain pemanfaatan kayu, ruang usaha dapat mencakup agroforestri, wisata alam, jasa lingkungan, perdagangan karbon, rehabilitasi ekosistem, hingga pengembangan habitat keanekaragaman hayati.

Laksmi menjelaskan agroforestri akan menjadi salah satu tulang punggung pengembangan multi usaha kehutanan. Sejumlah komoditas seperti kopi dan kakao dinilai memiliki prospek pasar yang terus meningkat, terutama produk yang dihasilkan melalui sistem agroforestri yang menjaga tutupan hutan.

Read also:  Indonesia-Norwegia Luncurkan Layanan Dana Masyarakat FOLU Net Sink Periode Kelima, Targetkan 300 Kelompok

Selain itu, pemegang konsesi juga dapat memanfaatkan peluang dari perdagangan karbon, jasa lingkungan, pemulihan ekosistem, serta pengembangan komoditas pangan dan energi berbasis kawasan hutan.

Data Kemenhut menunjukkan hingga Mei 2026 terdapat 542 unit PBPH. Dari jumlah tersebut, sebanyak 476 unit telah memperoleh persetujuan Rencana Kerja Usaha Pemanfaatan Hutan (RKUPH). Dari RKUPH yang telah disetujui, sebanyak 230 unit telah menerapkan model multi usaha kehutanan. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Komunitas Iklim Asia Tenggara Desak Bank Dunia dan IMF Alihkan Pembiayaan ke Ekonomi Regeneratif

Ecobiz.asia – Komunitas iklim Asia Tenggara mendesak Bank Dunia (World Bank) dan Dana Moneter Internasional (IMF) mengubah arah kebijakan pembiayaan global dengan mengutamakan pemulihan...

PBPH Antusias Terapkan Multiusaha Kehutanan, Padukan Kayu dengan Agroforestri dan Karbon

Ecobiz.asia — Pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) mulai melihat model bisnis Multiusaha Kehutanan (MUK) sebagai peluang untuk mendiversifikasi usaha di tengah tekanan terhadap...

Kadin-Kemenhut Luncurkan Lima Proyek Multiusaha Kehutanan, Optimalkan Potensi Hutan dengan Agroforestri

Ecobiz.asia — KADIN Regenerative Forest Business Hub dan Kementerian Kehutanan meluncurkan proyek percontohan Multiusaha Kehutanan (MUK) di lima lokasi untuk mengoptimalkan potensi hutan melalui...

Indonesia-Norwegia Luncurkan Layanan Dana Masyarakat FOLU Net Sink Periode Kelima, Targetkan 300 Kelompok

Ecobiz.asia — Indonesia dan Norwegia kembali memperluas dukungan pendanaan berbasis masyarakat untuk agenda FOLU Net Sink 2030. Pada periode kelima, Layanan Dana Masyarakat FOLU Net...

Petani Sawit Kecil Siap Hadapi EUDR Tapi Pertanyakan Insentif

Ecobiz.asia – Petani sawit kecil menyatakan siap memenuhi standar European Union Deforestation Regulation (EUDR), namun masih mempertanyakan dukungan dan insentif ekonomi untuk menanggung biaya...

TOP STORIES

PHE Andalkan Teknologi Geosains untuk Optimalkan Potensi Migas Nasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pemanfaatan teknologi geosains untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak dan...

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

PEP Tanjung Salurkan 1,16 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan dan Karhutla di Tabalong

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field menyalurkan 1,156 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan sekaligus mendukung penanganan kebakaran hutan...