Pemerintah Jajaki Kredit Karbon dan Biodiversity Credit untuk Biayai Pengelolaan Taman Nasional

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pemerintah mulai menjajaki berbagai skema pendanaan alternatif untuk pengelolaan taman nasional, termasuk perdagangan karbon dan kredit keanekaragaman hayati (biodiversity credit), guna mengurangi ketergantungan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki mengatakan saat ini seluruh 57 taman nasional di Indonesia masih dibiayai melalui APBN karena perannya yang penting dalam menjaga kawasan konservasi dan habitat satwa liar.

Namun ke depan pemerintah mendorong pengembangan skema pembiayaan inovatif, termasuk melalui mekanisme pasar lingkungan.

“Kita butuh penggalangan pendanaan alternatif, bukan hanya APBN, misalkan pendanaan dari internasional, terutama melalui skema perdagangan karbon yang khusus untuk kegiatan Afforestation Reforestation and Revegetation,” kata Rohmat usai upacara Hari Bakti Rimbawan ke-43 di Jakarta, Senin (16/3/2026).

Read also:  Gold Standard Luncurkan Metodologi G-RESET, Perluas Akses Pembiayaan Karbon untuk Proyek Energi Terbarukan

Selain kredit karbon, Wamen Rohmat menyatakan skema biodiversity credit atau kredit keanekaragaman hayati juga akan dieksplorasi. Skema ini merupakan instrumen pembiayaan berbasis pasar yang memberikan nilai ekonomi pada upaya konservasi atau pemulihan ekosistem, seperti perlindungan habitat satwa, restorasi hutan, atau peningkatan populasi spesies terancam.

Dalam skema tersebut, perusahaan atau investor dapat membeli kredit yang dihasilkan dari proyek konservasi sebagai bagian dari komitmen keberlanjutan atau target perlindungan keanekaragaman hayati.

Read also:  PHE Dorong Asri Basin Jadi Hub Penyimpanan Karbon Regional

Sejumlah proyek serupa telah mulai dikembangkan di berbagai negara. Misalnya proyek konservasi hutan hujan di Australia dan program pemulihan habitat di Inggris yang menghasilkan kredit biodiversitas bagi perusahaan yang ingin mendukung perlindungan ekosistem.

Di tingkat global, konsep ini juga didorong oleh organisasi seperti World Economic Forum dan World Bank sebagai mekanisme pembiayaan baru untuk menutup kesenjangan pendanaan konservasi alam.

Read also:  Soroti Perdagangan Karbon, Wamenhut Bicara Soal Transformasi Ekonomi Kehutanan Saat Dies Natalis Fahutan UGM

Upaya mencari sumber pendanaan baru ini sejalan dengan pembentukan Satgas Inovasi Pembiayaan dan Pengelolaan Taman Nasional yang diumumkan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni pada 12 Maret lalu.

Satgas tersebut dipimpin oleh Hashim Djojohadikusumo dengan dukungan sejumlah tokoh, termasuk ekonom Mari Elka Pangestu.

Sebagai tahap awal, pemerintah menyiapkan proyek percontohan pengelolaan taman nasional, salah satunya di Taman Nasional Way Kambas. Program ini juga diarahkan untuk mengurangi konflik manusia dan Gajah Sumatra yang kerap terjadi di wilayah sekitar taman nasional. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

KLH Dorong Pemda Beralih ke Ekonomi Restoratif, Karbon Bisa Jadi Sumber Pembiayaan

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong pemerintah daerah menggeser pendekatan pembangunan dari model ekstraktif menuju ekonomi restoratif yang tidak hanya...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

Mentan Terbitkan Permentan 18/2026, Atur Perdagangan Karbon Sektor Pertanian

Ecobiz.asia – Kementerian Pertanian mengatur tata cara perdagangan karbon melalui mekanisme offset emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor pertanian, mencakup subsektor persawahan, peternakan,...

Kemenhut: GANISPH Dibutuhkan untuk Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menilai tenaga teknis pengelolaan hutan (GANISPH) akan memegang peran penting dalam ekosistem perdagangan karbon, seiring berkembangnya pemanfaatan hutan yang...

TOP STORIES

PHE Andalkan Teknologi Geosains untuk Optimalkan Potensi Migas Nasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pemanfaatan teknologi geosains untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak dan...

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

PEP Tanjung Salurkan 1,16 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan dan Karhutla di Tabalong

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field menyalurkan 1,156 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan sekaligus mendukung penanganan kebakaran hutan...