Sudah Buat Studi Kelayakan di Dua Lokasi, Perhutani Siap Masuki Bisnis Perdagangan Karbon

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Perum Perhutani menyatakan kesiapan untuk terlibat dalam bisnis perdagangan karbon sebagai bagian dari pengembangan portofolio solusi berbasis alam. 

Direktur Utama Perum Perhutani, Wahyu Kuncoro, menjelaskan bahwa sejak 2021 pihaknya telah mengidentifikasi sembilan lokasi potensial untuk pengembangan proyek Nature Ecosystem-Based Solutions di wilayah konsesi anak perusahaan PT Inhutani I.

“Kami telah menyelesaikan studi kelayakan pada dua lokasi dan bekerja sama dengan Pertamina New and Renewable Energy. Saat ini kami menunggu regulasi dari Kementerian Kehutanan untuk implementasi bisnis karbon ini,” ujar Wahyu dalam rapat kerja dengan Komisi VI DPR RI, Selasa (29/4/2025).

Read also:  RBP dan Voluntary Carbon Market Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan Indonesia

Baca juga: Pemerintah Siapkan Insentif Berbasis Ekosistem untuk Pelaku Perdagangan Karbon

Langkah ini menandai keseriusan Perhutani untuk merespons arah kebijakan ekonomi hijau nasional. 

Wahyu menambahkan bahwa pengembangan bisnis karbon sejalan dengan komitmen perusahaan dalam pengelolaan hutan berkelanjutan, yang seluruh arealnya telah tersertifikasi FSC (Forest Stewardship Council) sejak 1990 dan mengikuti penilaian CDP (Carbon Disclosure Project) sejak 2022 dengan skor terakhir B.

Read also:  ESGIN dan ASPEBINDO Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Indonesia

Perum Perhutani mengelola kawasan hutan seluas 1,38 juta hektar di Jawa dan Madura, atau sekitar 1,1% dari total luas hutan Indonesia. Wilayah ini terbagi atas hutan lindung (192.000 ha), kawasan perlindungan (216.000 ha), kawasan penggunaan lain (32.000 ha), dan hutan produksi (712.000 ha) yang menjadi sumber utama pendapatan perusahaan.

Baca juga: Gold Standard Usulkan Joint Labeling Sertifikat Karbon Indonesia, Wamen LH: Sudah Tektokan 10 Kali

Read also:  Kemenhut Hitung Emisi Karbon Dampak Karhutla, Menhut: Kami Tekan di Bawah Benchmark 2015

Wahyu menegaskan bahwa Perhutani bukan pemilik hutan, melainkan pengelola yang hanya mencatat tegakan pohon sebagai aset, bukan lahan.

Saat ini, Perhutani memiliki tiga anak perusahaan: PT Inhutani I dan Inhutani V (eks BUMN yang bergerak di pengelolaan hutan alam di luar Jawa), serta PT Perhutani Alam Wisata (fokus pada bisnis wisata alam dengan 116 objek wisata). ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Singapura-Laos Sepakati Perdagangan Kredit Karbon, Atur Mekanisme Corresponding Adjustment

Ecobiz.asia — Singapura dan Laos menandatangani perjanjian implementasi untuk membangun kerangka kerja yang mengikat secara hukum bagi kerja sama kredit karbon berdasarkan Pasal 6...

Pemanasan Global Diprediksi Lampaui 1,5°C, UNEP Peringatkan Bahaya Perubahan Iklim

Ecobiz.asia – Dunia diperkirakan akan melampaui ambang pemanasan global 1,5°C dalam beberapa tahun ke depan. Namun, peluang untuk menekan kenaikan suhu dan mengembalikannya ke...

Kemenhut Perkuat Kompetensi SDM untuk Jaga Integritas Pasar Karbon

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon kehutanan yang berintegritas, menyusul penguatan...

Kemenhut Hitung Emisi Karbon Dampak Karhutla, Menhut: Kami Tekan di Bawah Benchmark 2015

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) akan menghitung emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 sebagai bagian dari...

Kemenhut Perkuat Pemahaman CCPs untuk Bangun Pasar Karbon Berintegritas

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan memperkuat kapasitas pemangku kepentingan dalam memahami Core Carbon Principles (CCPs) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon Indonesia yang kredibel,...

TOP STORIES

Singapura-Laos Sepakati Perdagangan Kredit Karbon, Atur Mekanisme Corresponding Adjustment

Ecobiz.asia — Singapura dan Laos menandatangani perjanjian implementasi untuk membangun kerangka kerja yang mengikat secara hukum bagi kerja sama kredit karbon berdasarkan Pasal 6...

Pemanasan Global Diprediksi Lampaui 1,5°C, UNEP Peringatkan Bahaya Perubahan Iklim

Ecobiz.asia – Dunia diperkirakan akan melampaui ambang pemanasan global 1,5°C dalam beberapa tahun ke depan. Namun, peluang untuk menekan kenaikan suhu dan mengembalikannya ke...

Singapore, Laos Sign Carbon Credit Deal, Set Corresponding Adjustment Mechanism

Ecobiz.asia — Singapore and Laos have signed an implementation agreement to establish a legally binding framework for carbon credit collaboration under Article 6 of...

UNEP: World Set to Cross 1.5°C Warming, Return Below Threshold Still Possible

Ecobiz.asia — Global temperatures are likely to exceed the 1.5°C warming threshold within the next few years, increasing climate risks and impacts, but the...

PLN Nusantara Power Perluas Bisnis di Luar Pembangkitan, Raih Dua Penghargaan Marketing 2026

Ecobiz.asia -- Transformasi bisnis PT PLN Nusantara Power (PLN NP) dalam mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti pembangkitan mendapat pengakuan melalui dua...