Asuransi Karbon Disiapkan, OJK Dorong Pembiayaan Berkelanjutan bagi Proyek Karbon

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan berbagai instrumen pembiayaan untuk memperkuat ekosistem perdagangan karbon nasional.

Salah satu yang sedang dikembangkan adalah asuransi karbon sebagai instrumen mitigasi risiko investasi, sehingga proyek karbon dinilai lebih layak dibiayai oleh lembaga keuangan.

Selain itu, OJK juga mendorong pemanfaatan obligasi berkelanjutan dan skema blended finance agar pengembang proyek karbon tidak lagi bergantung pada hibah atau pendanaan internasional.

Deputi Direktur Keuangan Berkelanjutan OJK Yuki Yasarani mengatakan, kerangka regulasi perdagangan karbon di Indonesia saat ini sudah semakin kuat dengan terbitnya Peraturan OJK (POJK) Nomor 10 Tahun 2026 yang menyesuaikan ketentuan dalam Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025.

Tantangan berikutnya bukan lagi membangun regulasi, melainkan memperkuat pasar dengan mempertemukan sektor jasa keuangan dan pengembang proyek karbon agar lebih banyak proyek yang memenuhi kriteria pembiayaan.

Read also:  Kemenhut Perkuat Kompetensi SDM untuk Jaga Integritas Pasar Karbon

Menurut Yuki, likuiditas di sektor jasa keuangan sebenarnya telah tersedia untuk mendukung pembiayaan hijau. Persoalannya, masih diperlukan lebih banyak proyek karbon yang memiliki kualitas dan tata kelola yang baik sehingga memenuhi standar lembaga keuangan.

“Dari sektor keuangan ini sebenarnya dananya itu ada. Tapi bagaimana kita bisa lebih memperkenalkan lagi supaya dari sektor kehutanan bisa mengoptimalkan pembiayaan yang sudah tersedia. Kita coba menjembatani kedua sektor itu,” ujar Yuki saat Webinar Nasional Transformasi Pemanfaatan Hutan Seri 8 bertajuk “Transformasi Pemanfaatan Hutan melalui Perdagangan Karbon yang Berintegritas dan Inklusif”, Kamis (6/8/2026).

Untuk memperluas sumber pendanaan, OJK mendorong pemanfaatan instrumen efek bersifat utang dan sukuk berkelanjutan sebagai alternatif pembiayaan proyek karbon.

Hingga Juni 2026, nilai penerbitan instrumen tersebut telah mencapai sekitar Rp85 triliun dan mulai menarik minat sejumlah pengembang proyek karbon.

Read also:  Indonesia Terus Kembangkan CCS, Teknologi Dinilai Jadi Jembatan Transisi Energi

Di sisi lain, OJK juga sedang mengembangkan asuransi karbon sebagai instrumen de-risking yang diharapkan mampu mengurangi risiko investasi pada proyek karbon.

Dengan adanya perlindungan tersebut, lembaga keuangan diharapkan semakin percaya diri menyalurkan pembiayaan, bahkan berpotensi memberikan bunga pinjaman yang lebih rendah kepada pengembang proyek.

Selain asuransi karbon, OJK juga menyiapkan panduan bagi sektor jasa keuangan untuk menilai kelayakan proyek karbon. Panduan tersebut diharapkan dapat menyamakan persepsi antara lembaga keuangan dan pengembang proyek mengenai standar proyek yang kredibel dan layak memperoleh pembiayaan.

“Teman-teman sektor keuangan belajar proyek seperti apa yang kredibel dan layak dibiayai, di sisi lain pelaku proyek juga tahu apa yang dicari sektor keuangan, supaya kita punya bahasa yang sama,” kata Yuki.

Sebagai bagian dari penguatan ekosistem pembiayaan, OJK juga mengembangkan inisiatif Satukarsa sebagai proyek percontohan pembiayaan reforestasi dan agroforestri.

Read also:  BEI: Karhutla Berpotensi Tekan Ketersediaan Unit Karbon

Program tersebut menargetkan pengembangan kawasan hingga 1 juta hektare secara bertahap dengan melibatkan masyarakat serta memanfaatkan skema blended finance untuk mengombinasikan berbagai sumber pendanaan.

OJK mencatat penyaluran pembiayaan berkelanjutan terus meningkat dan pada 2025 telah mencapai sekitar Rp2.100 triliun. Sektor pengelolaan lahan berkelanjutan dan keanekaragaman hayati menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan pembiayaan terbesar sehingga dinilai memiliki peluang besar mendukung pengembangan proyek karbon.

Sementara itu, transaksi di Bursa Karbon Indonesia hingga pertengahan Juni 2026 telah mencapai hampir 2 juta ton setara CO2 dengan nilai sekitar Rp93,8 miliar.

Saat ini terdapat 10 proyek karbon yang telah tercatat di bursa. OJK berharap bertambahnya instrumen pembiayaan dan proyek karbon yang kredibel akan mendorong peningkatan transaksi sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar karbon global. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut Perkuat Kompetensi SDM untuk Jaga Integritas Pasar Karbon

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon kehutanan yang berintegritas, menyusul penguatan...

Kemenhut Hitung Emisi Karbon Dampak Karhutla, Menhut: Kami Tekan di Bawah Benchmark 2015

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) akan menghitung emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 sebagai bagian dari...

Kemenhut Perkuat Pemahaman CCPs untuk Bangun Pasar Karbon Berintegritas

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan memperkuat kapasitas pemangku kepentingan dalam memahami Core Carbon Principles (CCPs) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon Indonesia yang kredibel,...

Verra Setujui Polis Asuransi Artio untuk Kelola Risiko Reversal Kredit Karbon

Ecobiz.asia – Verra menyetujui penggunaan polis asuransi yang disediakan Artio dalam program Durability Pilot untuk memberikan pilihan pendekatan berbasis asuransi dalam mengelola risiko reversal...

BEI: Karhutla Berpotensi Tekan Ketersediaan Unit Karbon

Ecobiz.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi memengaruhi ketersediaan unit karbon yang dapat diperdagangkan di pasar karbon pada periode...

TOP STORIES

Singapore, Laos Sign Carbon Credit Deal, Set Corresponding Adjustment Mechanism

Ecobiz.asia — Singapore and Laos have signed an implementation agreement to establish a legally binding framework for carbon credit collaboration under Article 6 of...

UNEP: World Set to Cross 1.5°C Warming, Return Below Threshold Still Possible

Ecobiz.asia — Global temperatures are likely to exceed the 1.5°C warming threshold within the next few years, increasing climate risks and impacts, but the...

PLN Nusantara Power Perluas Bisnis di Luar Pembangkitan, Raih Dua Penghargaan Marketing 2026

Ecobiz.asia -- Transformasi bisnis PT PLN Nusantara Power (PLN NP) dalam mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti pembangkitan mendapat pengakuan melalui dua...

Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Ecobiz.asia -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menindaklanjuti hasil...

TBS Receives Indonesia’s First Green Equity Transition Designation

Ecobiz.asia — PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) has become the first company to receive the Green Equity Transition designation from the Indonesia Stock...