Pengembangan SRUK Capai 90%, Registri Karbon Bakal Terintegrasi dengan Pasar Global

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pengembangan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) telah mencapai sekitar 90% dan akan segera memasuki tahap uji coba. Pemerintah menekankan bahwa sistem ini dirancang interoperabel dengan registri karbon domestik maupun internasional untuk mendukung integrasi pasar karbon.

Asisten Deputi Produksi Pangan dan Perubahan Iklim Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Fajar Nuradi, mengatakan SRUK dikembangkan sebagai platform nasional tunggal untuk pencatatan unit karbon sekaligus memfasilitasi transaksi.

“Kami saat ini berada di jalur yang tepat. Sekitar 90% desain dan infrastruktur sistem telah selesai, dan uji coba akan dilakukan dalam waktu dekat, minggu ini atau pekan depan,” ujar Fajar dalam webinar Atmos Talk yang diselenggarakan Fairatmos, Kamis (26/3/2026).

Read also:  Pasar Karbon Indonesia Mulai Cari Talenta Baru, IDCTA Youth Gelar Carbon Youth Week 2026

Ia menegaskan bahwa interoperabilitas menjadi elemen kunci dalam pengembangan SRUK, sehingga dapat terhubung dengan platform domestik seperti IDX Carbon di Bursa Efek Indonesia maupun sistem registri internasional. Hal ini diharapkan memungkinkan pengakuan lintas negara atas unit karbon serta meningkatkan kredibilitas pasar.

Setelah tahap uji coba, pemerintah akan melanjutkan dengan pengujian interoperabilitas serta menjalin komunikasi dengan operator registri internasional guna menyelaraskan standar teknis dan kerangka operasional.

Read also:  ESGIN dan ASPEBINDO Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Indonesia

Indonesia menargetkan peluncuran perdagangan karbon melalui SRUK pada Juni atau paling lambat awal Juli 2026, dengan catatan seluruh kerangka regulasi lintas sektor—mulai dari kehutanan, energi, industri, limbah, pertanian, hingga karbon biru—telah rampung.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian bertindak sebagai Komite Pengarah (Komrah) implementasi penetapan harga karbon sesuai Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025.

Di sisi lain, pemerintah juga telah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Pengelolaan dan Perlindungan Karbon Biru yang bertujuan menyelaraskan kebijakan dan program lintas pemangku kepentingan. Dokumen ini diharapkan menjadi panduan pengembangan proyek karbon biru, khususnya pada ekosistem mangrove dan lamun, sekaligus menjawab tantangan utama seperti kesenjangan pembiayaan dan perlindungan masyarakat pesisir rentan.

Read also:  Pemanasan Global Diprediksi Lampaui 1,5°C, UNEP Peringatkan Bahaya Perubahan Iklim

Webinar tersebut menghadirkan pembicara Amehr Hakim dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Fajar Nuradi dari Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, serta Edwin Hartanto, Head of Carbon Trading Development Bursa Efek Indonesia.

Diskusi panel menghadirkan Rich Gilmore (CEO Carbon Growth Partners), Grace Yanti P. (Vice Director YAGASU), dan Aruna Pradipta (Chief Commercial and Operating Officer Fairatmos), dengan moderator Natalia Rialucky, CEO Fairatmos. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Dapat Dukungan Kemenhut, Riau Mantap Masuk Pasar Karbon Yurisdiksi ART-TREES

Ecobiz.asia - Provinsi Riau mulai memasuki tahap baru pengembangan kredit karbon hutan berbasis yurisdiksi setelah menyelesaikan konsep Green for Riau dan memperoleh dukungan pemerintah...

Pasar Karbon Indonesia Mulai Cari Talenta Baru, IDCTA Youth Gelar Carbon Youth Week 2026

Ecobiz.asia — Perkembangan pasar karbon Indonesia mulai menciptakan kebutuhan baru terhadap sumber daya manusia yang memahami tidak hanya isu perubahan iklim, tetapi juga mekanisme...

Singapura-Laos Sepakati Perdagangan Kredit Karbon, Atur Mekanisme Corresponding Adjustment

Ecobiz.asia — Singapura dan Laos menandatangani perjanjian implementasi untuk membangun kerangka kerja yang mengikat secara hukum bagi kerja sama kredit karbon berdasarkan Pasal 6...

Pemanasan Global Diprediksi Lampaui 1,5°C, UNEP Peringatkan Bahaya Perubahan Iklim

Ecobiz.asia – Dunia diperkirakan akan melampaui ambang pemanasan global 1,5°C dalam beberapa tahun ke depan. Namun, peluang untuk menekan kenaikan suhu dan mengembalikannya ke...

Kemenhut Perkuat Kompetensi SDM untuk Jaga Integritas Pasar Karbon

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon kehutanan yang berintegritas, menyusul penguatan...

TOP STORIES

Riau Moves to Register 2.6 Million-Hectare Forest Carbon Program Under ART-TREES

Ecobiz.asia — Indonesia’s Ministry of Forestry has backed Riau province’s plan to develop a jurisdictional forest carbon program under the ART-TREES standard, allowing the...

Singapore Opens Second-Stage Tender to Buy at Least 12 Million Article 6 Carbon Credits

Ecobiz.asia — Singapore has opened the second stage of a selective tender to procure at least 12 million internationally transferred mitigation outcomes (ITMOs) under...

Elnusa Realisasikan 35% CAPEX Rp602 Miliar hingga Semester I 2026

Ecobiz.asia -- PT Elnusa Tbk (ELSA), perusahaan jasa energi dan migas yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, telah merealisasikan sekitar 35% dari anggaran belanja...

Dapat Dukungan Kemenhut, Riau Mantap Masuk Pasar Karbon Yurisdiksi ART-TREES

Ecobiz.asia - Provinsi Riau mulai memasuki tahap baru pengembangan kredit karbon hutan berbasis yurisdiksi setelah menyelesaikan konsep Green for Riau dan memperoleh dukungan pemerintah...

Pasar Karbon Indonesia Mulai Cari Talenta Baru, IDCTA Youth Gelar Carbon Youth Week 2026

Ecobiz.asia — Perkembangan pasar karbon Indonesia mulai menciptakan kebutuhan baru terhadap sumber daya manusia yang memahami tidak hanya isu perubahan iklim, tetapi juga mekanisme...