RBP dan Voluntary Carbon Market Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan Indonesia

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan mekanisme Results-Based Payment (RBP) dan pasar karbon sukarela (voluntary carbon market) menjadi instrumen yang saling melengkapi dalam memperkuat ekosistem perdagangan karbon Indonesia. Pengembangan kedua skema tersebut diharapkan mendukung pencapaian target Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“RBP berbasis terhadap kinerja. Kita membayar sesuatu karena basis kinerja. Ini saling melengkapi dengan regulasi pendukung lainnya untuk membuat satu ekosistem perdagangan karbon yang baik,” ujar Raja Juli saat menghadiri penandatanganan Perjanjian Penyaluran Dana Proyek RBP REDD+ Green Climate Fund (GCF) Output 2 di Jakarta, Rabu (12/8/2026).

Menurut Raja Juli, pemerintah juga terus mengembangkan pasar karbon sukarela. Saat ini, proses nesting tengah berjalan di 10 provinsi untuk mengintegrasikan pengelolaan karbon di tingkat proyek dengan pendekatan yurisdiksi.

Read also:  BEI: Karhutla Berpotensi Tekan Ketersediaan Unit Karbon

Ia berharap pengembangan RBP dan pasar karbon sukarela dapat memperkuat ekosistem perdagangan karbon sekaligus memberikan dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) menambah 10 provinsi penerima pendanaan RBP REDD+ GCF Output 2. Dengan tambahan tersebut, hingga 2026 sebanyak 34 dari 38 provinsi telah mengakses pendanaan dengan total komitmen mencapai Rp761,02 miliar.

Direktur Utama BPDLH Joko Tri Haryanto mengatakan tambahan 10 provinsi tersebut memperoleh komitmen pendanaan sekitar Rp253 miliar.

“Sampai batch ketiga ini sudah ada 34 provinsi dari 38. Empat provinsi tersisa sedang berproses untuk bisa segera masuk di batch keempat,” ujar Joko.

Read also:  Perusahaan Global Kejar Net Zero, Pasar Kredit Karbon Indonesia Terbuka Luas

Pendanaan RBP REDD+ GCF merupakan insentif yang diterima Indonesia atas capaian pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan. Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia-Pasifik yang memperoleh pendanaan berbasis hasil dari Green Climate Fund senilai US$103,78 juta atas capaian pengurangan emisi sebesar 20,25 juta ton CO2e.

Sejak implementasi Output 2 pada Agustus 2023 hingga Juli 2026, BPDLH telah menyalurkan lebih dari Rp500 miliar atau sekitar 37 persen dari total alokasi. Dana tersebut digunakan untuk mendukung berbagai program pengelolaan hutan dan lingkungan, antara lain perluasan akses Perhutanan Sosial lebih dari 2 juta hektare, penguatan 150 Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) di 24 provinsi, serta rehabilitasi hutan dan lahan sekitar 3.000 hektare.

Read also:  Verra Setujui Polis Asuransi Artio untuk Kelola Risiko Reversal Kredit Karbon

Pendanaan juga diarahkan untuk penguatan Masyarakat Peduli Api (MPA), fasilitasi usulan hutan adat, Sistem Registri Nasional (SRN), Program Kampung Iklim, dan pengelolaan sampah berkelanjutan. Secara keseluruhan, program tersebut telah menjangkau sekitar 1.266 desa di 225 kabupaten.

Raja Juli juga mengapresiasi tata kelola BPDLH yang dinilai telah mendapat pengakuan internasional dan menjadi salah satu alasan lembaga donor tertarik menyalurkan pendanaan lingkungan ke Indonesia.

“BPDLH ini adalah satu legacy baik yang dikelola secara profesional. Jaga integritas BPDLH, transparansinya dijaga, dan terus lakukan inovasi baru untuk menyempurnakannya,” tegasnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut Perkuat Kompetensi SDM untuk Jaga Integritas Pasar Karbon

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon kehutanan yang berintegritas, menyusul penguatan...

Kemenhut Hitung Emisi Karbon Dampak Karhutla, Menhut: Kami Tekan di Bawah Benchmark 2015

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) akan menghitung emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 sebagai bagian dari...

Kemenhut Perkuat Pemahaman CCPs untuk Bangun Pasar Karbon Berintegritas

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan memperkuat kapasitas pemangku kepentingan dalam memahami Core Carbon Principles (CCPs) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon Indonesia yang kredibel,...

Verra Setujui Polis Asuransi Artio untuk Kelola Risiko Reversal Kredit Karbon

Ecobiz.asia – Verra menyetujui penggunaan polis asuransi yang disediakan Artio dalam program Durability Pilot untuk memberikan pilihan pendekatan berbasis asuransi dalam mengelola risiko reversal...

BEI: Karhutla Berpotensi Tekan Ketersediaan Unit Karbon

Ecobiz.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi memengaruhi ketersediaan unit karbon yang dapat diperdagangkan di pasar karbon pada periode...

TOP STORIES

Singapore, Laos Sign Carbon Credit Deal, Set Corresponding Adjustment Mechanism

Ecobiz.asia — Singapore and Laos have signed an implementation agreement to establish a legally binding framework for carbon credit collaboration under Article 6 of...

UNEP: World Set to Cross 1.5°C Warming, Return Below Threshold Still Possible

Ecobiz.asia — Global temperatures are likely to exceed the 1.5°C warming threshold within the next few years, increasing climate risks and impacts, but the...

PLN Nusantara Power Perluas Bisnis di Luar Pembangkitan, Raih Dua Penghargaan Marketing 2026

Ecobiz.asia -- Transformasi bisnis PT PLN Nusantara Power (PLN NP) dalam mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti pembangkitan mendapat pengakuan melalui dua...

Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Ecobiz.asia -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menindaklanjuti hasil...

TBS Receives Indonesia’s First Green Equity Transition Designation

Ecobiz.asia — PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) has become the first company to receive the Green Equity Transition designation from the Indonesia Stock...