Menteri LH Teken Aturan Perdagangan Karbon Sektor Limbah, Link Download PermenLH No 11 Tahun 2026

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat menetapkan aturan baru perdagangan karbon sektor limbah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Nomor 11 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon Sektor Limbah.

Permen tersebut ditetapkan di Jakarta pada 12 Agustus 2026 dan menjadi aturan pelaksana perdagangan karbon sektor limbah sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional.

Aturan ini mencakup perdagangan karbon pada tiga kelompok kegiatan, yakni limbah padat industri, limbah cair industri dan domestik, serta sampah atau limbah padat domestik.

Perdagangan dapat dilakukan melalui bursa karbon maupun perdagangan langsung, dengan pencatatan pemanfaatan dan transaksi Unit Karbon terintegrasi dengan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK).

Permen tersebut juga mengatur perdagangan karbon sektor limbah untuk pasar domestik dan luar negeri. Untuk perdagangan dalam negeri, mekanismenya terdiri atas Perdagangan Emisi Gas Rumah Kaca (GRK) dan Offset Emisi GRK.

Read also:  Pemerintah Didesak Segera Terbitkan Regulasi Safeguard AI dan Standar Data Center Hijau

Dalam skema perdagangan emisi, pemerintah menetapkan instalasi yang diatur, batas atas emisi GRK, kuota emisi, bagian emisi yang dapat dikompensasi melalui offset, serta mekanisme perdagangan kuota emisi.

Penetapan instalasi antara lain mempertimbangkan jenis usaha, besaran emisi, kontribusi terhadap target mitigasi, ketersediaan data emisi, dan kesiapan pelaksanaan measurement, reporting and verification (MRV).

Sementara itu, pelaku usaha dapat melakukan perdagangan kuota dengan membeli kuota emisi dari instalasi lain. Pelaku juga dapat melakukan aksi mitigasi sendiri dan/atau membeli offset emisi GRK, dengan seluruh pelaksanaannya dilaporkan melalui SRUK.

Permen ini membuka ruang bagi pemerintah daerah, swasta, dan unit pengelola untuk menjadi penanggung jawab aksi mitigasi perubahan iklim sektor limbah.

Read also:  Pertamina Siapkan 8 Inisiatif Bisnis Energi Rendah Karbon, Dari Hidrogen hingga Biofuel

Pemerintah daerah harus memiliki dasar hukum pelaksanaan aksi mitigasi dan dapat bekerja sama dengan badan usaha atau unit pengelola. Sementara badan usaha harus memiliki kewajiban melaksanakan aksi mitigasi, legalitas usaha, serta kapasitas untuk mengelola aset, teknologi, atau fasilitas mitigasi.

Untuk perdagangan luar negeri, aturan membaginya menjadi perdagangan yang membutuhkan Otorisasi dan Corresponding Adjustment serta perdagangan yang tidak membutuhkan keduanya.

Perdagangan yang membutuhkan otorisasi mencakup perdagangan emisi GRK yang terhubung dengan sistem internasional, perdagangan offset yang memenuhi Artikel 6.2 dan Artikel 6.4 Persetujuan Paris, serta perdagangan offset sukarela untuk memenuhi kewajiban internasional lainnya.

Khusus perdagangan berdasarkan Artikel 6.2, pengalihan Internationally Transferred Mitigation Outcomes (ITMO) hanya dapat dilakukan setelah memperoleh Otorisasi dari Menteri/Kepala dan harus disertai Corresponding Adjustment.

Sementara perdagangan berdasarkan Artikel 6.4 dilakukan melalui mekanisme pemanfaatan Unit Karbon sesuai Persetujuan Paris.

Read also:  Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Untuk perdagangan offset yang tidak digunakan memenuhi NDC maupun kewajiban internasional lainnya, aturan tidak mensyaratkan Otorisasi dan Corresponding Adjustment. Namun, prosesnya tetap harus melalui persetujuan Menteri/Kepala melalui pencatatan pada SRUK, perdagangan, pencatatan pemanfaatan Unit Karbon, dan pelaporan.

Permen tersebut juga mengatur peta jalan perdagangan karbon sektor limbah yang sekurang-kurangnya memuat NDC sektor limbah, profil emisi GRK, target pengurangan emisi, alokasi karbon, serta ruang lingkup aksi mitigasi. Peta jalan tersebut akan menjadi dasar pelaksanaan perdagangan karbon sektor limbah.

Dengan aturan ini, pemerintah membangun kerangka perdagangan karbon sektor limbah yang menghubungkan perdagangan domestik, pasar internasional, SRUK, mekanisme offset, serta instrumen Artikel 6 Persetujuan Paris dalam satu tata kelola. ***

Dowload PermenLH No 11 Tahun 2026 Tentang Perdagangan Karbon Sektor Limbah

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

KLH Dorong Pemda Beralih ke Ekonomi Restoratif, Karbon Bisa Jadi Sumber Pembiayaan

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong pemerintah daerah menggeser pendekatan pembangunan dari model ekstraktif menuju ekonomi restoratif yang tidak hanya...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

Mentan Terbitkan Permentan 18/2026, Atur Perdagangan Karbon Sektor Pertanian

Ecobiz.asia – Kementerian Pertanian mengatur tata cara perdagangan karbon melalui mekanisme offset emisi gas rumah kaca (GRK) di sektor pertanian, mencakup subsektor persawahan, peternakan,...

Kemenhut: GANISPH Dibutuhkan untuk Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menilai tenaga teknis pengelolaan hutan (GANISPH) akan memegang peran penting dalam ekosistem perdagangan karbon, seiring berkembangnya pemanfaatan hutan yang...

TOP STORIES

PT Timah Susun Peta Jalan Dekarbonisasi, Penggunaan PLTS dan EV Jadi Prioritas

Ecobiz.asia — PT Timah Tbk tengah menyusun peta jalan dekarbonisasi untuk mendukung target emisi nol bersih (net zero emission). Perusahaan menghadapi tantangan dalam mengganti...

Hotspot Turun 1.019 Titik, Operasi Karhutla dan Perlindungan Satwa Terus Diperkuat

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun 1.019 titik dalam sehari menjadi 317 titik pada Sabtu (24/10/2026). Meski penurunan...

PHE Andalkan Teknologi Geosains untuk Optimalkan Potensi Migas Nasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pemanfaatan teknologi geosains untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak dan...

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...