Sudah Kantongi Izin Lingkungan dan Hutan, INPEX Tegaskan Komitmen Percepat Proyek Masela

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — INPEX Corporation menegaskan komitmennya untuk mempercepat pengembangan Proyek Abadi Masela setelah proyek gas raksasa tersebut mengantongi sejumlah perizinan kunci dari pemerintah Indonesia, termasuk persetujuan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan izin pelepasan kawasan hutan.

Komitmen tersebut disampaikan CEO INPEX Takayuki Ueda dalam pertemuan dengan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026).

“Terima kasih atas dukungan dan komitmen pemerintah terhadap proyek ini. INPEX memiliki komitmen kuat untuk mempercepat realisasi Proyek Abadi Masela,” kata Ueda.

Menurut dia, proyek tersebut telah menjadi fokus perusahaan selama lebih dari satu dekade. “Saya sendiri sudah sekitar 12 tahun menangani proyek Abadi. Setelah berdiskusi dengan Pak Menteri, kami semakin bersemangat untuk mempercepat penyelesaian proyek ini,” ujarnya.

Read also:  Lindungi Ekosistem dan Karbon, KKP dan PLN Sinergikan Penataan Ruang Laut untuk Infrastruktur Ketenagalistrikan

Proyek gas di Laut Arafura itu diperkirakan memiliki nilai investasi sekitar US$20 miliar atau setara lebih dari Rp339 triliun. Saat ini, progres pengembangan proyek dilaporkan telah mencapai sekitar 25 persen.

Dari sisi perizinan, proyek Masela juga mencatat kemajuan penting pada awal 2026. Dokumen AMDAL disetujui pada 13 Februari 2026, sementara izin pelepasan kawasan hutan telah diterbitkan oleh Kementerian Kehutanan pada Januari 2026.

Read also:  Menteri LH Siapkan Aturan Penanaman Air (Water Farming) untuk Atasi Tanah Ambles

Dengan sejumlah izin utama tersebut, proyek kini diarahkan untuk segera memasuki tahap Front End Engineering and Design (FEED) pada kuartal II 2026 atau paling lambat kuartal III 2026.

Pemerintah Indonesia juga mendorong percepatan proses tersebut agar proyek tidak kembali mengalami penundaan setelah lebih dari dua dekade pengembangan.

Lapangan Abadi Masela sendiri dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 9 juta ton LNG per tahun (MTPA) dan diharapkan menjadi salah satu sumber pasokan gas utama bagi industri nasional sekaligus penggerak ekonomi di kawasan Indonesia timur.

Read also:  Danantara Jamin Kontrak Ekspor SDA Tetap Berjalan, Asal Tak Ada Under Invoicing

Dalam pertemuan tersebut, Bahlil juga menawarkan skema dukungan pasar domestik apabila hingga April 2026 belum terdapat pembeli utama untuk LNG dari proyek tersebut. Pemerintah membuka kemungkinan agar pasokan gas dari Masela dapat diserap oleh entitas investasi negara Danantara, termasuk untuk kebutuhan program hilirisasi energi.

Proyek Abadi Masela dipandang sebagai salah satu proyek strategis sektor energi Indonesia yang diharapkan memperkuat pasokan gas nasional sekaligus mendorong pengembangan industri di wilayah timur Indonesia. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Indonesia Susun Instrumen Biodiversity Credit Sesuai Karakteristik Keanekaragaman Hayati Nasional

Ecobiz.asia - Pemerintah mulai menyusun instrumen biodiversity credit yang disesuaikan dengan karakteristik keanekaragaman hayati Indonesia sebagai negara megabiodiversitas, guna memperkuat perlindungan dan pemanfaatan sumber...

P3HKI Dorong Sertifikat Kepatuhan Ketenagakerjaan Jadi Syarat Merger dan Akuisisi

Ecobiz.asia – Penguatan kepatuhan ketenagakerjaan dinilai menjadi agenda penting dalam menciptakan iklim investasi yang berkelanjutan di Indonesia. Salah satu langkah yang diusulkan adalah menjadikan...

AgResults Berikan Rp23 Miliar Kepada Pemenang Kompetisi Budidaya Perikanan Berkelanjutan

Ecobiz.asia - Sebanyak 17 pelaku usaha dan koperasi sektor perikanan menerima total insentif senilai Rp23 miliar melalui proyek AgResults Indonesia Aquaculture Challenge yang mendorong...

Budidayakan Gaharu di Hutan Adat, KTH Sadar Sendiri Papua Raih Penghargaan Kalpataru 2026

Ecobiz.asia - Dari hutan adat di Papua, Kelompok Tani Hutan (KTH) Sadar Sendiri membuktikan bahwa kearifan lokal mampu menjadi benteng pertahanan lingkungan sekaligus sumber...

Buka INVIROTECH 2026, Menteri Jumhur Tegaskan Aksi Iklim Tak Bisa Ditunda Lagi

Ecobiz.asia - Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa krisis lingkungan dan perubahan iklim tidak lagi bisa dipandang...

TOP STORIES

Pertamina dan BRIN Luncurkan Alat Pengubah Sampah Plastik Jadi Solar di Bantul

Ecobiz.asia – Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pemerintah Kabupaten Bantul meluncurkan alat pirolisis multikondensor Gen 5.0 (Faspol...

CBG Jadi Solusi Transisi dari LNG, Manfaatkan 130 Juta M3 Limbah Sawit

Ecobiz.asia - PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendorong pengembangan Compressed Biomethane Gas (CBG) berbasis limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill...

Tobat Ekologis, Suatu Pendekatan Ekoteologi

Oleh: Saiful Latief, M.Si (Pranata Humas Ahli Muda, Direktorat Inventarisasi GRK dan MPV, Deputi Bidang Pengendalian Perubahan Iklim dan TKNEK, Kementerian Lingkungan Hidup) Ecobiz.asia -...

Indonesia Launches SIGN SMART Robust to Strengthen Transparency of National Carbon Emissions Data

Ecobiz.asia — Indonesia’s Ministry of Environment/Environmental Control Agency (KLH/BPLH) has launched a new national greenhouse gas inventory platform called SIGN SMART Robust to improve...

KLH Luncurkan SIGN SMART Robust, Perkuat Transparansi Data Emisi Karbon Nasional

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meluncurkan Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca Nasional (SIGN SMART Robust) untuk memperkuat kualitas, transparansi, dan...