Ecobiz.asia – Pertamina melalui Pertamina Foundation bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pemerintah Kabupaten Bantul meluncurkan alat pirolisis multikondensor Gen 5.0 (Faspol 5.0) yang mampu mengubah sampah plastik menjadi bahan bakar solar.
Teknologi tersebut mulai diimplementasikan di bank sampah yang dikelola Kelompok Swadaya Mandiri (KSM) Pilah Berkah Kapanewon Imogiri, Bantul, Yogyakarta, sebagai bagian dari penguatan pengelolaan sampah berbasis masyarakat sekaligus pengembangan energi alternatif.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan inovasi Faspol diharapkan menjadi solusi jangka panjang bagi persoalan pengelolaan sampah di wilayahnya, terutama setelah penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan.
“Pengelolaan sampah di Bantul membutuhkan banyak sinergi karena penanganannya semakin menantang pasca TPA Piyungan ditutup. Hadirnya BRIN lewat inovasi Faspol yang didukung Pertamina Foundation melalui program PFsains selaras dengan fokus penanganan kami saat ini,” ujar Halim dikutip Senin (15/6/2026).
Teknologi Faspol dikembangkan peneliti BRIN sekaligus penerima program PFsains Pertamina Foundation 2024, Heru Susanto. Mesin tersebut mengolah sampah plastik, termasuk plastik kotor dan basah, menjadi bahan bakar bernama Petasol menggunakan teknologi pirolisis multikondensor.
Menurut Heru, satu kilogram sampah plastik mampu menghasilkan sekitar 0,8 hingga 0,9 liter solar melalui proses pemanasan suhu tinggi selama tujuh hingga delapan jam.
“Satu kilogram sampah plastik bisa menghasilkan 0,8-0,9 liter solar. Pengolahannya melalui proses pemanasan suhu tinggi, penjernihan, dan beberapa tahapan lainnya hingga akhirnya diperoleh solar yang siap digunakan pada mesin berbasis diesel,” jelas Heru.
Saat ini teknologi Faspol 5.0 telah diterapkan di 53 lokasi di Indonesia. BRIN menargetkan setiap desa atau kecamatan nantinya dapat memiliki mesin pengolah sampah plastik tersebut.
Heru mengatakan dukungan Pertamina Foundation melalui program PFsains memungkinkan inovasi Faspol direplikasi ke berbagai daerah yang menghadapi persoalan pengelolaan sampah.
“Dukungan Pertamina Foundation melalui program PFsains membuat kami bisa mereplikasi inovasi ini ke Bantul yang tengah bergulat dengan tantangan pengelolaan sampah,” ujarnya.
Sementara itu, Presiden Director Pertamina Foundation Agus Mashud S. Asngari menegaskan program PFsains diarahkan untuk mendorong inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan memiliki manfaat ekonomi langsung.
“Permasalahan sampah plastik yang selama ini menjadi tantangan lingkungan dapat diubah menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Lewat program PFsains, kami menjembatani hasil riset dan inovasi agar tidak berhenti sebagai karya ilmiah, tetapi dapat dihilirisasikan menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” kata Agus.
Sejak 2020, program PFsains telah mendukung sedikitnya 45 inovator dan peneliti di berbagai bidang, mulai dari energi terbarukan, pertanian, perikanan, hingga pengelolaan limbah. ***



