SRUK Meluncur, INDEF Ingatkan Perluasan ETS Jadi Kunci Meningkatkan Permintaan Kredit Karbon

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Green Transition Initiative (GTI) menilai tantangan terbesar pengembangan pasar karbon Indonesia saat ini bukan lagi pada sisi infrastruktur, melainkan rendahnya permintaan terhadap kredit karbon.

Direktur INDEF Green Transition Initiative (GTI) Imaduddin Abdullah mengatakan peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) oleh pemerintah merupakan langkah penting untuk memperkuat integritas, transparansi, dan kredibilitas pasar karbon nasional.

Namun, menurutnya, keberadaan sistem registri saja belum cukup untuk menciptakan pasar karbon yang aktif apabila jumlah pembeli kredit karbon masih terbatas.

“SRUK memperkuat integritas dan kepercayaan terhadap unit karbon Indonesia. Namun, sistem yang baik tidak otomatis membuat pasar berkembang selama jumlah pembeli masih terbatas,” kata Imaduddin dalam keterangan tertulis, dikutip Senin (13/7/2026).

Ia menjelaskan, pasar karbon yang sehat membutuhkan tiga komponen utama, yakni pasokan kredit karbon yang kredibel, permintaan dari pembeli, serta infrastruktur transaksi yang memadai. Saat ini, tantangan terbesar justru berada di sisi permintaan.

Read also:  RBP dan Voluntary Carbon Market Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan Indonesia

Menurut Imaduddin, skema Emissions Trading System (ETS) di Indonesia masih terbatas pada sebagian subsektor ketenagalistrikan. Sementara itu, sektor-sektor penghasil emisi lainnya belum diwajibkan memenuhi target pengurangan emisi maupun membeli kredit karbon.

Di sisi lain, pasar karbon sukarela juga dinilai belum berkembang optimal dan masih memerlukan penguatan integritas agar tidak dimanfaatkan sebagai praktik greenwashing. Kondisi tersebut menyebabkan jumlah pembeli masih terbatas, volume transaksi rendah, dan harga karbon belum cukup menarik untuk mendorong investasi rendah emisi.

Karena itu, INDEF mendorong pemerintah segera memperluas implementasi ETS secara bertahap ke sektor-sektor beremisi tinggi, memperkuat kebijakan harga karbon, memperketat target pengurangan emisi, serta memanfaatkan peluang perdagangan karbon internasional melalui mekanisme Pasal 6 Perjanjian Paris.

Read also:  Kemenhut Hitung Emisi Karbon Dampak Karhutla, Menhut: Kami Tekan di Bawah Benchmark 2015

Imaduddin menyebut pemerintah telah menunjukkan sinyal positif, salah satunya melalui Kementerian Perindustrian yang tengah menyusun peta jalan perluasan ETS ke berbagai sektor industri. Momentum tersebut dinilai perlu dijaga agar permintaan kredit karbon domestik terus meningkat.

Selain memperkuat pasar domestik, SRUK juga dinilai membuka peluang perdagangan karbon internasional yang dapat menghadirkan pembiayaan iklim bagi proyek-proyek konservasi hutan, restorasi mangrove, energi terbarukan, dan berbagai proyek rendah karbon lainnya.

Meski demikian, INDEF mengingatkan agar ekspor kredit karbon dilakukan secara selektif. Indonesia perlu memastikan manfaat ekonomi dari perdagangan karbon tetap memberikan nilai tambah di dalam negeri melalui investasi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pendapatan masyarakat, serta perlindungan ekosistem.

Read also:  CIP dan Blueyou Kolaborasi Restorasi Mangrove dan Pengembangan Karbon Biru di Indonesia

Imaduddin juga mengingatkan bahwa perdagangan karbon internasional melalui mekanisme Pasal 6 Perjanjian Paris harus mempertimbangkan dampaknya terhadap pencapaian target Nationally Determined Contribution (NDC) Indonesia. Kredit karbon yang telah diotorisasi untuk digunakan negara lain melalui mekanisme corresponding adjustment tidak lagi dapat dihitung sebagai bagian dari capaian pengurangan emisi nasional.

Menurutnya, kondisi tersebut berpotensi membuat Indonesia harus melakukan upaya mitigasi tambahan dengan biaya yang lebih besar pada masa mendatang agar target NDC tetap tercapai.

“Pada akhirnya, tujuan pasar karbon bukan sekadar memperdagangkan kredit karbon, melainkan mendorong investasi pada proyek-proyek yang menurunkan emisi. SRUK menjadi fondasi penting untuk membangun pasar karbon Indonesia, tetapi keberhasilannya sangat bergantung pada tumbuhnya permintaan dan terbentuknya harga karbon yang mampu memberikan insentif bagi investasi rendah emisi,” ujar Imaduddin. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut Perkuat Kompetensi SDM untuk Jaga Integritas Pasar Karbon

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon kehutanan yang berintegritas, menyusul penguatan...

Kemenhut Hitung Emisi Karbon Dampak Karhutla, Menhut: Kami Tekan di Bawah Benchmark 2015

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) akan menghitung emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 sebagai bagian dari...

Kemenhut Perkuat Pemahaman CCPs untuk Bangun Pasar Karbon Berintegritas

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan memperkuat kapasitas pemangku kepentingan dalam memahami Core Carbon Principles (CCPs) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon Indonesia yang kredibel,...

Verra Setujui Polis Asuransi Artio untuk Kelola Risiko Reversal Kredit Karbon

Ecobiz.asia – Verra menyetujui penggunaan polis asuransi yang disediakan Artio dalam program Durability Pilot untuk memberikan pilihan pendekatan berbasis asuransi dalam mengelola risiko reversal...

BEI: Karhutla Berpotensi Tekan Ketersediaan Unit Karbon

Ecobiz.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi memengaruhi ketersediaan unit karbon yang dapat diperdagangkan di pasar karbon pada periode...

TOP STORIES

Singapore, Laos Sign Carbon Credit Deal, Set Corresponding Adjustment Mechanism

Ecobiz.asia — Singapore and Laos have signed an implementation agreement to establish a legally binding framework for carbon credit collaboration under Article 6 of...

UNEP: World Set to Cross 1.5°C Warming, Return Below Threshold Still Possible

Ecobiz.asia — Global temperatures are likely to exceed the 1.5°C warming threshold within the next few years, increasing climate risks and impacts, but the...

PLN Nusantara Power Perluas Bisnis di Luar Pembangkitan, Raih Dua Penghargaan Marketing 2026

Ecobiz.asia -- Transformasi bisnis PT PLN Nusantara Power (PLN NP) dalam mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti pembangkitan mendapat pengakuan melalui dua...

Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Ecobiz.asia -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menindaklanjuti hasil...

TBS Receives Indonesia’s First Green Equity Transition Designation

Ecobiz.asia — PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) has become the first company to receive the Green Equity Transition designation from the Indonesia Stock...