FSC Kembangkan Prosedur Kredit Karbon Berintegritas Tinggi

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Forest Stewardship Council (FSC) tengah mengembangkan prosedur untuk program kredit karbon berintegritas tinggi (high-quality carbon credits) dalam skema sertifikasi FSC.

Prosedur tersebut akan mengintegrasikan proses validasi dan verifikasi independen oleh pihak ketiga, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), berbagai perlindungan (safeguards) yang relevan, serta sistem pelacakan dan transparansi.

Tujuan utamanya adalah membangun kerangka kerja yang mampu menarik pembiayaan berkelanjutan sekaligus memastikan manfaat ekonomi dari perdagangan karbon mengalir kepada pengelola hutan, masyarakat adat, dan masyarakat lokal.

Direktur Jenderal FSC, Subhra Bhattacharjee, mengatakan organisasi tersebut sedang mengembangkan prosedur kredit karbon berintegritas tinggi yang akan memperkuat posisi FSC sebagai kontributor penting dalam upaya pengurangan dan penyerapan emisi gas rumah kaca.

Read also:  ESDM Catat 120 Proyek Karbon Masuk Pipeline, Nilainya Capai Rp1,7 Triliun

“Prosedur yang kami usulkan dirancang tidak hanya untuk memperkuat integritas lingkungan dari kredit karbon, tetapi juga memastikan manfaat finansial didistribusikan secara adil kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab melindungi hutan. Kami ingin memastikan pendapatan dari kredit karbon benar-benar diterima oleh para pengelola hutan, masyarakat adat, dan masyarakat lokal yang menjaga hutan,” kata Subhra Bhattacharjee kepada wartawan usai penandatanganan nota kesepahaman antara FSC dan Kementerian Kehutanan Indonesia di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Read also:  Vietnam Luncurkan Bursa Karbon, Libatkan 92 Perusahaan pada Tahap Awal

Prosedur baru tersebut diharapkan semakin meningkatkan kepercayaan pasar dengan menghadirkan perlindungan tambahan terhadap dampak sosial serta mekanisme pembagian manfaat (benefit sharing).

Menjelang penerapan prosedur baru itu, FSC telah lebih dahulu memperkuat kehadirannya di pasar karbon sukarela melalui kemitraan dengan Verra. Sejak Mei 2026, Verra mulai menerapkan label FSC pada Verified Carbon Units (VCU) yang dihasilkan dari proyek karbon di kawasan hutan bersertifikat FSC.

Label tersebut memungkinkan pembeli mengidentifikasi kredit karbon yang berasal dari hutan yang dikelola secara bertanggung jawab sesuai standar lingkungan dan sosial FSC, sehingga berpotensi meningkatkan daya tarik dan nilai kredit karbon tersebut di pasar karbon sukarela.

Read also:  PLN Indonesia Power dan South Pole Bahas Perpanjangan Kerja Sama Perdagangan Karbon

FSC merupakan organisasi nirlaba internasional yang menetapkan standar pengelolaan hutan lestari. Saat ini, lebih dari 200 juta hektare hutan di seluruh dunia telah tersertifikasi berdasarkan standar FSC, termasuk sekitar 4,5 juta hektare hutan di Indonesia. ***

Catatan Editor: Artikel yang tayang merupakan revisi dari artikel sebelumnya untuk meningkatkan akurasi informasi.

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

SRUK Resmi Meluncur, Indonesia Jadi yang Pertama Terapkan Standar Data Karbon CDSC

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) di Jakarta, Kamis (9/7/2026), yang sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di...

KLH Resmikan SRUK, Transaksi Karbon di Pasar Nasional dan Internasional Terlacak

Ecobiz.asia - Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) dijadwalkan akan meresmikan operasional Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) di Djakarta Theatre, Jakarta, Kamis (9/7/2026) sore. Peresmian akan dihadiri...

OJK Terbitkan POJK 10 Tahun 2026, Aturan Baru Perdagangan Karbon di Bursa Karbon

Ecobiz.asia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 10 Tahun 2026 tentang Perubahan atas POJK Nomor 14 Tahun 2023...

KLH Terbitkan Aturan Sistem Registri Unit Karbon, Download Link PermenLH No 10 Tahun 2026 Tentang SRUK

JAKARTA – Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) resmi menerbitkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 10 Tahun 2026 tentang Sistem Registri Unit Karbon (SRUK). Regulasi ini...

Katingan Mentaya Project Kembali ke Pasar Karbon, Terbitkan 17,3 Juta Kredit Karbon Peringkat AA

Ecobiz.asia – Proyek konservasi gambut Katingan Mentaya Project kembali memasuki pasar karbon sukarela internasional dengan penerbitan sekitar 17,3 juta Verified Carbon Units (VCU) setelah...

TOP STORIES

Aroma Liberika dan Komitmen CSR untuk Kalimantan Barat

Oleh : Gusti Hardiansyah (Guru Besar Universitas Tanjungpura, Ketua ICMI Orwil Kalbar) Ecobiz.asia - Malam itu, Ballroom Hotel Borobudur Jakarta tidak hanya menjadi ruang pertemuan....

Cegah Karhutla, KLH Minta Perusahaan Bantu Restorasi Gambut di Sekitar Konsesi

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) meminta perusahaan pemegang konsesi kehutanan, perkebunan kelapa sawit, dan kawasan industri ikut merestorasi ekosistem gambut...

Indonesia Issues Presidential Directive to Protect Sumatran and Bornean Elephants

Ecobiz.asia — Indonesian President Prabowo Subianto has issued a presidential directive mandating a coordinated, cross-government effort to protect the populations and habitats of the...

Indonesia Becomes First Country to Implement Global Carbon Data Standard in National Registry

Ecobiz.asia — Indonesia has become the first country to implement the Climate Data Steering Committee (CDSC)'s Common Carbon Credit Data Model through its newly...

SRUK Resmi Meluncur, Indonesia Jadi yang Pertama Terapkan Standar Data Karbon CDSC

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) di Jakarta, Kamis (9/7/2026), yang sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di...