Pemerintah Tetapkan Delapan Blok Mineral Tanah Jarang Prioritas, Di Sini Lokasinya

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia telah mengidentifikasi delapan blok prioritas yang dinilai memiliki potensi besar mineral tanah jarang sebagai bagian dari strategi pengamanan pasokan mineral kritis domestik serta penguatan ketahanan industri nasional.

Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, mengatakan penetapan tersebut dilakukan berdasarkan kompilasi dan analisis menyeluruh terhadap data geologi dan hasil riset.

Kedelapan blok tersebut dinilai merupakan sumber daya primer (primary resources), bukan sekadar mineral ikutan (by-product), meskipun pada beberapa lokasi pengembangannya berpotensi didukung oleh pemanfaatan mineral ikutan.

“Berdasarkan data yang telah kami kumpulkan, kami menetapkan prioritas eksplorasi mineral kritis. Ada delapan blok yang kami nilai memiliki potensi sangat besar dan seluruhnya merupakan sumber daya primer,” ujar Brian dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026).

Empat dari delapan blok prioritas tersebut berlokasi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, yakni Blok Toboali, Keposang, Mentikus, dan Batubesi, yang membentuk satu klaster mineral.

Read also:  Bali Butuh Rp623,28 Triliun untuk Capai Emisi Nol Bersih 2045, Kesiapan Proyek Jadi Tantangan

Selain mengandung unsur tanah jarang (rare earth elements/REE), wilayah ini juga memiliki mineral strategis lainnya seperti tungsten, tantalum, dan antimon, yang memiliki peran penting bagi industri pertahanan.

Brian menambahkan, pengembangan industri di Bangka Belitung ke depan diharapkan selaras dengan pengelolaan mineral ikutan dari PT Timah, khususnya monasit yang mengandung unsur tanah jarang.

Sementara itu, empat blok prioritas lainnya meliputi Melawi, Boyan Hulu, Mamuju, dan Bombana.

Saat ini, BIM tengah melakukan riset intensif di seluruh blok tersebut dan akan berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyusun rekomendasi penerbitan izin usaha pertambangan (IUP).

“Sejalan dengan arahan Presiden, mineral tanah jarang dikategorikan sebagai komoditas strategis. Karena itu, kami mendorong agar pengelolaannya diberikan kepada badan usaha milik negara yang berada di bawah kendali pemerintah,” jelasnya.

Dalam rangka mendukung perumusan kebijakan dan perencanaan industri, BIM juga melakukan riset tematik yang melibatkan peneliti dari berbagai perguruan tinggi serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Read also:  Industri Tambang Kejar Ekspansi dan Hilirisasi, Kebutuhan Listrik Andal Ikut Melonjak

Selain itu, BIM tengah mengonsolidasikan data riset historis dari institusi akademik dan menyiapkan desain industri, termasuk studi kelayakan fasilitas pengolahan dan pemurnian mineral tanah jarang.

Brian mengungkapkan, pemerintah saat ini juga tengah menyusun sejumlah kebijakan pendukung, terutama terkait tata kelola mineral ikutan yang hingga kini belum memiliki kerangka regulasi yang jelas.

Pemerintah juga telah berdiskusi dengan pelaku industri dalam dan luar negeri yang memiliki pengalaman serta penguasaan teknologi pengolahan lanjutan mineral tanah jarang.

Secara kelembagaan, BIM beroperasi berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 76 Tahun 2025 dan didukung oleh tiga deputi serta satu sekretariat, beserta tenaga profesional. Dewan pengawas BIM terdiri dari Menteri Pertahanan, Menteri ESDM, Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), serta Panglima TNI, yang mencerminkan keterkaitan strategis antara mineral tanah jarang dan sektor pertahanan.

Read also:  Tobat Ekologis, 2.649 Sekolah Jalankan Aksi Pengelolaan Sampah hingga Konservasi Energi

Sebagai bagian dari implementasi kebijakan, Presiden Prabowo Subianto melalui platform investasi Danantara telah membentuk PT Perminas sebagai kendaraan BUMN untuk mengembangkan industri pemisahan dan pemurnian mineral tanah jarang.

Perminas dimiliki 99% oleh Danantara dan 1% oleh BP BUMN, dan diharapkan berperan penting dalam mengolah bijih menjadi produk campuran tanah jarang serta unsur bernilai ekonomi tinggi.

Dalam waktu dekat, pemerintah berencana meluncurkan proyek percontohan teknologi hilirisasi mineral tanah jarang di Blok Mamuju. Pada tahap riset, dua fasilitas hilirisasi akan dibangun sebagai pilot plant, sembari merampungkan proses administrasi dan rekomendasi IUP kepada PT Perminas.

“Proyek percontohan di Mamuju diharapkan dapat menunjukkan kesiapan Indonesia untuk menjadi pemain strategis dalam industri mineral tanah jarang global serta menarik mitra internasional untuk bersama-sama mengembangkan industri hilir di dalam negeri,” tutup Brian. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Bali Butuh Rp623,28 Triliun untuk Capai Emisi Nol Bersih 2045, Kesiapan Proyek Jadi Tantangan

Ecobiz.asia – Provinsi Bali membutuhkan investasi hijau sebesar Rp623,28 triliun hingga 2045 untuk mencapai target emisi nol bersih. Namun, keterbatasan fiskal daerah dan kesiapan...

Negosiasi INC on Plastic Pollution Alot, Indonesia Tak Tinggal Diam Tangani Sampah Plastik

Ecobiz.asia – Negosiasi perjanjian internasional untuk mengatasi polusi plastik, Intergovernmental Negotiating Committee (INC) on Plastic Pollution* masih menemui jalan buntu meski telah berlangsung sejak...

BPGMN Perkuat Pengelolaan Gambut dan Pemantauan Permukaan Air untuk Tekan Karhutla, 40 Cm Jadi Warning

Ecobiz.asia — Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) akan memperkuat pengelolaan gambut melalui pemetaan risiko kebakaran, pemodelan kondisi kekeringan, dan pemantauan tinggi muka...

RUU Migas 2026, FSPPB dan Muhammadiyah Desak Pertamina Jadi BUK Migas

Ecobiz.asia — Federasi Serikat Pekerja Pertamina Bersatu (FSPPB) bersama Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mendorong agar Pertamina ditetapkan sebagai Badan Usaha Khusus (BUK) Migas dalam...

TOP STORIES

Sukses Ubah Emisi Karbon Jadi Soda Ash Bernilai Ekonomi, Kemenperin Dorong Teknologi CCU

Ecobiz.asia – Kementerian Perindustrian mendorong perluasan penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) untuk menekan emisi sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi dari pemanfaatan kembali...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

NHM-Perhapi Maluku Utara Perkuat Link and Match Pendidikan dan Industri Tambang

Ecobiz.asia – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) menggandeng Student Chapter Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Provinsi Maluku Utara untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi...

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Pertamina Uji Teknologi PertaPURE, Bidik Pemanfaatan Kembali Air Terproduksi pada Operasi Migas

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menguji teknologi PertaPURE untuk mengolah air terproduksi (produced water) dari kegiatan produksi...