Ecobiz.asia – Negara-negara ASEAN memperkuat koordinasi untuk mengantisipasi meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap lintas batas yang dipicu fenomena El Niño.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Pertemuan ke-27 Sub-Regional Ministerial Steering Committee (MSC) on Transboundary Haze Pollution di Bali, Kamis (9/7/2026) yang dihadiri para menteri dan delegasi dari Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Timor-Leste, serta Sekretariat ASEAN.
Pertemuan yang dipimpin Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat itu membahas implementasi ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP), penguatan koordinasi regional, serta langkah antisipatif menghadapi musim kemarau yang diperkirakan lebih kering akibat perubahan iklim dan El Niño.
Dalam sambutannya, Jumhur mengatakan perubahan iklim menuntut negara-negara ASEAN meningkatkan kesiapsiagaan melalui penguatan sistem peringatan dini, pemantauan, koordinasi, dan respons cepat terhadap kebakaran hutan dan lahan.
“Potensi pengaruh fenomena El Niño menjadi pengingat bagi ASEAN untuk tetap waspada dan terus memperkuat kesiapsiagaan, koordinasi, sistem peringatan dini, pemantauan, serta respons cepat,” kata Jumhur.
Indonesia juga memaparkan berbagai langkah pengendalian karhutla yang telah dilakukan, antara lain mengaktifkan kembali Desk Koordinasi Penanggulangan Karhutla 2026, menetapkan status siaga darurat di lima provinsi rawan, meningkatkan patroli terpadu berbasis teknologi, memperkuat edukasi masyarakat, serta melaksanakan operasi darat dan udara melalui water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Dalam forum tersebut, Indonesia turut melaporkan perkembangan pembentukan ASEAN Coordinating Centre for Transboundary Haze Pollution Control (ACCTHPC). Pemerintah menyatakan telah mencatat kemajuan dalam proses ratifikasi nasional, penyusunan dokumen operasional, serta penyiapan fasilitas kantor dan teknologi pemantauan untuk mendukung operasional pusat koordinasi tersebut.
Para delegasi ASEAN mengapresiasi kesiapan Indonesia dalam mempersiapkan operasional ACCTHPC dan mendorong percepatan ratifikasi oleh seluruh negara anggota agar pusat koordinasi tersebut dapat segera berfungsi penuh dalam memperkuat pencegahan, pemantauan, pertukaran informasi, dan penanganan kabut asap lintas batas.
Menteri Sumber Asli dan Kelestarian Alam Malaysia, Dato’ Sri Arthur Joseph Kurup, menekankan pentingnya langkah pencegahan yang cepat melalui pemantauan lapangan, intervensi dini di wilayah rawan, dan penanganan segera terhadap titik api untuk mencegah kebakaran berskala besar.
Sementara itu, Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Sosial-Budaya, San Lwin, mengingatkan bahwa perkembangan El Niño berpotensi menyebabkan musim kemarau tahun ini lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal sehingga diperlukan aksi regional yang lebih kuat.
Pertemuan ke-27 MSC dan Technical Working Group (TWG) on Transboundary Haze Pollution ditutup dengan penegasan komitmen bersama negara-negara ASEAN untuk memperkuat aksi kolektif dalam mencegah karhutla dan pencemaran kabut asap lintas batas melalui peningkatan koordinasi, sistem peringatan dini, pemantauan, pertukaran informasi, dan respons cepat di tingkat regional. ***



