Pemerintah Tawarkan Papua sebagai Destinasi Investasi Karbon Berbasis Masyarakat

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pemerintah mengundang investor dalam dan luar negeri untuk mengembangkan proyek karbon di Papua.

Kawasan dengan tutupan hutan tropis yang luas itu dinilai memiliki potensi besar menjadi salah satu pusat pengembangan ekonomi karbon nasional, seiring dengan penguatan regulasi, peningkatan kepastian hak masyarakat adat, serta pengembangan skema bisnis yang menarik investasi.

Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix Wanggai, mengatakan pemerintah telah menempatkan pengembangan ekonomi karbon sebagai salah satu agenda strategis dalam percepatan pembangunan Papua.

Kebijakan tersebut sejalan dengan komitmen Indonesia dalam pengendalian perubahan iklim serta pelaksanaan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon.

Read also:  KLH Dorong Pemda Siapkan Proyek Karbon, Bisa Jadi Sumber Pendapatan Daerah

“Papua memiliki potensi yang sangat besar untuk pengembangan proyek karbon. Kami ingin menjadikan kebijakan karbon sebagai game changer yang mampu mempertemukan pemerintah, investor, pelaku usaha, lembaga internasional, dan masyarakat adat dalam membangun ekonomi hijau di Papua,” kata Velix dalam Forum Strategis Kesiapan Pasar Karbon Nasional dan Tata Kelola Karbon Korporasi di Main Hall Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Menurut Velix, pemerintah tidak hanya menyiapkan kerangka regulasi, tetapi juga mulai memetakan kepemilikan tanah, hutan, dan wilayah laut milik masyarakat adat di seluruh Papua.

Read also:  Karbon Biru Indonesia Berpeluang Masuk Pasar CORSIA, Integritas Kredit Jadi Kunci

Pemetaan tersebut dilakukan untuk memberikan kepastian hak, memperjelas penerima manfaat (beneficiary), sekaligus menciptakan skema investasi karbon yang adil dan berkelanjutan.

Ia menjelaskan langkah tersebut menjadi bagian dari implementasi peta jalan pembangunan Papua yang telah ditetapkan pemerintah. Selain memastikan kepastian hak masyarakat adat, pemerintah juga menyiapkan pemetaan sosial, skema bisnis, serta mekanisme kolaborasi antara pemerintah daerah, masyarakat adat, pelaku usaha, dan investor.

Dia mengungkapkan salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan dalam proyek karbon berbasis masyarakat adalah dengan mengoptimalkan program Perhutanan Sosial. Papua, memiliki alokasi areal perhutanan sosial yang luas mencapai 1,86 juta hektare.

Read also:  Kemenhut: GANISPH Dibutuhkan untuk Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan

Velix mengatakan pemerintah saat ini juga tengah menyiapkan sejumlah proyek percontohan (quick wins) di enam provinsi Papua. Untuk itu, pihaknya membuka peluang kolaborasi dengan asosiasi perdagangan karbon, perusahaan nasional maupun internasional, serta pemerintah daerah guna mempercepat pengembangan proyek karbon yang dapat dilaporkan sebagai bagian dari capaian pembangunan Papua.

“Kami mengundang seluruh pelaku usaha dan investor untuk bersama-sama membangun proyek karbon di Papua. Yang ingin kami bangun bukan hanya investasi, tetapi juga ekosistem yang memberikan manfaat bagi masyarakat adat sekaligus mendukung target pengurangan emisi nasional,” ujarnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut Dorong BLUD Penanganan Iklim untuk Buka Akses Pemanfaatan Ekonomi Karbon Daerah

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan mendorong pengembangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Penanganan Iklim untuk memperluas akses pembiayaan aksi iklim dan mengoptimalkan potensi ekonomi karbon...

Incar Dekarbonisasi Sektor Wisata, Pertamina NRE Garap Pasar Kredit Karbon Ritel Lewat Wisatawan Candi Borobudur

Ecobiz.asia – Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) bersama InJourney Destination Management (IDM) menghadirkan skema kompensasi emisi karbon sukarela bagi wisatawan Candi Borobudur,...

Potensi Dana Karbon Riau Besar, Konservasi Gambut dan Satwa Jadi Kunci

Ecobiz.asia – Potensi pendanaan dari pasar karbon berbasis hutan dan gambut di Riau perlu diiringi perlindungan ekosistem, termasuk pemulihan gambut dan konservasi satwa liar....

ADM Capital Buka Peluang Pembiayaan Karbon di Riau, Integritas Proyek Jadi Kunci

Ecobiz.asia – Pengelola investasi ADM Capital menjajaki peluang pembiayaan proyek karbon di Riau setelah mulai menilai sejumlah proyek di pasar karbon sukarela di Kalimantan. Investment...

Calon Pembeli Internasional Menunggu, Riau Minta Percepatan Registrasi Program Karbon ART-TREES

Ecobiz.asia – Pemerintah Provinsi Riau meminta pemerintah pusat mempercepat registrasi program karbon hutan GREEN for Riau melalui standar Architecture for REDD+ Transactions–The REDD+ Environmental...

TOP STORIES

Pertamina, Toyota Extend Strategic Partnership Through 2030 to Develop Low-Carbon Fuels

Ecobiz.asia – Indonesia's state-owned energy company Pertamina and Japan's Toyota Group have extended their strategic partnership for another five years through 2030, with cooperation...

PLN Jajaki Pembiayaan Australia untuk Perkuat Jaringan Listrik Jawa Timur dan Bali

Ecobiz.asia – PT PLN (Persero) menjajaki dukungan pembiayaan dari Pemerintah Australia untuk proyek penguatan jaringan listrik Jawa Timur dan Bali. Kerja sama tersebut mencakup...

Kelahiran Baru di Ujung Kulon dan Jejak Perburuan Sepuluh Badak Jawa

Ecobiz.asia - Seekor anak Badak Jawa kembali lahir di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), Banten. Kehadirannya terekam kamera jebak pada 10 Oktober 2026, ketika...

WWF-Indonesia Dorong Pembiayaan Berbasis Lanskap untuk Perkebunan Berkelanjutan, Butuh Kolaborasi

Ecobiz.asia – WWF-Indonesia mendorong pembiayaan berbasis lanskap (Landscape Finance Approach) untuk meningkatkan produktivitas perkebunan sekaligus melindungi hutan, sumber air, dan keanekaragaman hayati. Pendekatan ini dinilai...

Masyarakat Sipil Desak Pemerintah Perkuat Aksi Perlindungan Keanekaragaman Hayati Pasca COP17

Ecobiz.asia – Sejumlah organisasi masyarakat sipil mendesak pemerintah Indonesia menerjemahkan kesepakatan Konferensi Para Pihak ke-17 Konvensi Keanekaragaman Hayati PBB (COP17 CBD) menjadi aksi nyata...