Pertamina dan Boeing Jajaki Pengembangan Ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – PT Pertamina (Persero) dan Boeing menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mempercepat dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus mendukung target transisi energi dan pencapaian Net Zero Emission (NZE).

Melalui kerja sama tersebut, kedua perusahaan akan mengkaji berbagai aspek pengembangan industri SAF nasional, mulai dari identifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi, hingga dukungan terhadap penyusunan kebijakan yang dibutuhkan untuk mempercepat implementasi bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia.

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan pengembangan SAF merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun industri bahan bakar rendah karbon di Indonesia.

Read also:  ANTAM Kembali Masuk Tiga Indeks ESG KEHATI Periode Juni–November 2026

“Kolaborasi ini bukan sekadar pengembangan bahan bakar, tetapi investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional. Dengan potensi sumber daya domestik dan kapabilitas pengolahan yang dimiliki Pertamina serta keahlian Boeing di sektor aviasi, kami optimistis industri SAF Indonesia dapat berkembang lebih cepat,” ujar Simon dalam keterangannya, Selasa (8/7/2026).

Berdasarkan ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu produsen SAF terbesar di kawasan ASEAN dengan potensi surplus produksi mencapai sekitar 2,2 juta barel per hari pada 2050.

Read also:  PT Pertamina Trans Kontinental Raih Penghargaan TJSL di IDEAS 2026

Managing Director Boeing Indonesia Indra Duivenvoorde mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara.

Menurut dia, Boeing akan bekerja sama dengan Pertamina dalam mengidentifikasi potensi bahan baku, mendukung pengembangan teknologi, serta memperkuat program edukasi dan pelatihan guna mempercepat terbentuknya ekosistem SAF di Indonesia.

Boeing memperkirakan lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara akan tumbuh rata-rata 7 persen per tahun, dengan kebutuhan sekitar 4.885 pesawat baru hingga 2044. Di tengah pertumbuhan tersebut, penggunaan SAF dinilai menjadi salah satu solusi utama untuk menekan emisi karbon sektor penerbangan. Dalam bentuk murni (neat SAF), bahan bakar tersebut mampu mengurangi emisi hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar jet konvensional.

Read also:  PHI Tanam 1.500 Mangrove dan Lamun di Kepulauan Seribu, Libatkan Pekerja dan Kelompok Tani

Pertamina sebelumnya telah memulai sejumlah inisiatif pengembangan SAF, antara lain melalui produksi dan sertifikasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel, implementasi penggunaannya bersama Pelita Air, serta pengembangan proyek Cilacap Biorefinery oleh PT Pertamina Patra Niaga yang akan memproduksi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) berbahan baku minyak jelantah (used cooking oil/UCO) dan limbah berkelanjutan lainnya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Pertamina EP Bunyu Tanam 1.000 Mangrove dan Durian, Perkuat Ekosistem Pesisir dan Ekonomi Warga

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field menanam 1.000 bibit pohon yang terdiri atas 900 mangrove dan 100 durian di Desa Bunyu Selatan,...

PLN Nusantara Power Hasilkan 490,5 GWh Energi Hijau dari Cofiring Biomassa pada Semester I 2026

Ecobiz.asia -- PLN Nusantara Power (PLN NP) terus memperkuat peran biomassa sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional. Sepanjang semester I 2026, implementasi program...

HDI Jajaki Kolaborasi dengan BRIN Kembangkan Teknologi Hidrogen untuk Energi

Ecobiz.asia – PT Hidro Dinamika Internasional (HDI) menjajaki kerja sama riset dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mempercepat pengembangan teknologi hidrogen di...

Bio Farma Mulai Gunakan CNG, Pangkas Emisi dan Biaya Energi

Ecobiz.asia – PT Bio Farma (Persero) resmi bekerja sama dengan PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas) untuk memanfaatkan Compressed Natural Gas (CNG) sebagai sumber...

Terapkan Biodiesel B50 pada Lokomotif dan Kereta Pembangkit, KAI Perankan Dua Sisi Transisi Energi

Ecobiz.asia – PT Kereta Api Indonesia (Persero) mulai menerapkan penggunaan biodiesel B50 secara bertahap pada sarana diesel sejak 1 Juli 2026. Penerapan tersebut mencakup...

TOP STORIES

Pertamina EP Bunyu Tanam 1.000 Mangrove dan Durian, Perkuat Ekosistem Pesisir dan Ekonomi Warga

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Bunyu Field menanam 1.000 bibit pohon yang terdiri atas 900 mangrove dan 100 durian di Desa Bunyu Selatan,...

Indonesia Prepares Hydrogen-Diesel Bus Pilot to Advance Clean Transport

Ecobiz.asia – Indonesia is preparing to pilot a Hydrogen-Diesel Dual Fuel (H2 DDF) bus as part of its efforts to introduce hydrogen into the...

Kebijakan Kehutanan Masih Bertumpu pada Interpretasi Tunggal, Sederhanakan Keragaman Sejarah, Sosial, Budaya

Ecobiz.asia – Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ahmad Maryudi, menilai kebijakan kehutanan di Indonesia masih bertumpu pada interpretasi tunggal mengenai penguasaan...

Pemerintah Siapkan Uji Coba Bus Hidrogen-Diesel, Target Diluncurkan di GHES 2026

Ecobiz.asia – Pemerintah mulai menyiapkan uji coba bus berbahan bakar campuran hidrogen dan solar (Hydrogen-Diesel Dual Fuel/H2 DDF) sebagai langkah awal penerapan hidrogen di...

Champion Tidak Dilahirkan tapi Dibentuk, Mengapa Keteladanan Menjadi Investasi Terbesar dalam Membangun Masa Depan Bangsa

Oleh: Diah Y. Suradiredja (Founder of Natural Resources Development Center) Tulisan ini disusun sebagai sebuah Thought Leadership Paper, bukan sebagai artikel populer maupun kajian akademik yang...