Ecobiz.asia – PT Pertamina (Persero) dan Boeing menandatangani nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) untuk menjajaki pengembangan ekosistem Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia. Kerja sama tersebut diarahkan untuk mempercepat dekarbonisasi sektor penerbangan sekaligus mendukung target transisi energi dan pencapaian Net Zero Emission (NZE).
Melalui kerja sama tersebut, kedua perusahaan akan mengkaji berbagai aspek pengembangan industri SAF nasional, mulai dari identifikasi potensi bahan baku (feedstock), pengembangan teknologi, hingga dukungan terhadap penyusunan kebijakan yang dibutuhkan untuk mempercepat implementasi bahan bakar penerbangan berkelanjutan di Indonesia.
Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri mengatakan pengembangan SAF merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan dalam membangun industri bahan bakar rendah karbon di Indonesia.
“Kolaborasi ini bukan sekadar pengembangan bahan bakar, tetapi investasi jangka panjang untuk membangun ekosistem industri SAF nasional. Dengan potensi sumber daya domestik dan kapabilitas pengolahan yang dimiliki Pertamina serta keahlian Boeing di sektor aviasi, kami optimistis industri SAF Indonesia dapat berkembang lebih cepat,” ujar Simon dalam keterangannya, Selasa (8/7/2026).
Berdasarkan ASEAN 2050 SAF Outlook, Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu produsen SAF terbesar di kawasan ASEAN dengan potensi surplus produksi mencapai sekitar 2,2 juta barel per hari pada 2050.
Managing Director Boeing Indonesia Indra Duivenvoorde mengatakan Indonesia memiliki posisi strategis untuk menjadi pusat pengembangan penerbangan berkelanjutan di Asia Tenggara.
Menurut dia, Boeing akan bekerja sama dengan Pertamina dalam mengidentifikasi potensi bahan baku, mendukung pengembangan teknologi, serta memperkuat program edukasi dan pelatihan guna mempercepat terbentuknya ekosistem SAF di Indonesia.
Boeing memperkirakan lalu lintas penumpang udara di Asia Tenggara akan tumbuh rata-rata 7 persen per tahun, dengan kebutuhan sekitar 4.885 pesawat baru hingga 2044. Di tengah pertumbuhan tersebut, penggunaan SAF dinilai menjadi salah satu solusi utama untuk menekan emisi karbon sektor penerbangan. Dalam bentuk murni (neat SAF), bahan bakar tersebut mampu mengurangi emisi hingga 80 persen dibandingkan bahan bakar jet konvensional.
Pertamina sebelumnya telah memulai sejumlah inisiatif pengembangan SAF, antara lain melalui produksi dan sertifikasi Pertamina Sustainable Aviation Fuel, implementasi penggunaannya bersama Pelita Air, serta pengembangan proyek Cilacap Biorefinery oleh PT Pertamina Patra Niaga yang akan memproduksi SAF dan Hydrotreated Vegetable Oil (HVO) berbahan baku minyak jelantah (used cooking oil/UCO) dan limbah berkelanjutan lainnya. ***



