Lindungi Masyarakat Pesisir dan Kepulauan, Wamen LH Galang Dukungan dari Negara-Negara Kepulauan Pasifik

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, menggalang dukungan negara-negara kepulauan untuk memperkuat perlindungan masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil yang semakin rentan terhadap dampak perubahan iklim, terutama kenaikan muka air laut.

Upaya tersebut dilakukan melalui serangkaian pertemuan bilateral di sela-sela Berlin Climate Mobility Forum (BCMF) 2026, yang membahas penguatan kerja sama internasional dalam menghadapi ancaman mobilitas iklim.

Diaz menegaskan Indonesia memiliki kepentingan besar untuk mendorong solusi adaptasi yang mampu melindungi masyarakat yang berada di garis depan dampak perubahan iklim.

“Oleh karena itu, upaya kami bertujuan untuk memastikan bahwa solusi adaptasi dan mobilitas melindungi masyarakat kami. Mobilitas iklim pada akhirnya adalah tentang manusia, rumah mereka, mata pencaharian, budaya, dan masa depan mereka. Tanggung jawab bersama kita adalah untuk memastikan bahwa tidak ada komunitas yang dibiarkan tanpa pilihan, perlindungan, atau harapan,” ujar Diaz dalam keterangannya, Selasa (22/6/2026).

Read also:  TuK Indonesia Soroti Minimnya Partisipasi Publik dalam Revisi POJK Keuangan Berkelanjutan, Desak Pencegahan Greenwashing

Dalam forum tersebut, Diaz melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden Palau Surangel S. Whipps Jr., Governor-General Tuvalu Tofiga Vaevalu Falani, Menteri Perubahan Iklim, Lingkungan, dan Energi Maladewa Ali Shareef, serta Ketua Komite Perlindungan Lingkungan Pemerintah Tajikistan Sheralizoda Bahodur Ahmadjon untuk membahas peluang kerja sama menghadapi ancaman kenaikan muka air laut.

Diaz juga bertemu Menteri Kehutanan, Perikanan, dan Lingkungan Hidup Afrika Selatan Willem Abraham Stephanus Aucamp yang menekankan pentingnya kolaborasi antarnegara dalam menghadapi dampak perubahan iklim.

Menurut Diaz, Menteri Afrika Selatan menilai pertemuan bilateral semacam itu penting untuk menghasilkan implementasi nyata.

“Beliau menyatakan pertemuan dengan negara lain selalu baik. Pertemuan seperti ini sangat penting. Jika kita tidak berupaya mengimplementasikan sesuatu, kita akan mengalami kerugian yang sangat besar,” ujar Diaz.

Read also:  Menteri LH Siapkan Aturan Penanaman Air (Water Farming) untuk Atasi Tanah Ambles

Sementara itu, dalam pertemuan dengan Director General for International Climate Action Jerman, Heike Henn, dibahas pentingnya menjadikan isu mobilitas iklim sebagai salah satu agenda utama menjelang Conference of the Parties (COP) ke-31 dalam kerangka United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

Menurut Diaz, Heike Henn menilai koalisi negara-negara dalam BCMF memiliki momentum kuat untuk mendorong komitmen politik yang menghasilkan aksi nyata.

Dukungan juga datang dari Managing Director Global Centre for Climate Mobility (GCCM), Kamal Akrane, yang menilai Indonesia memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara negara maju dan negara-negara kepulauan berkembang atau Small Island Developing States (SIDS).

“Indonesia sudah berhasil menjadi anggota G20 sehingga bisa menjadi contoh bagi negara-negara kepulauan kecil. Indonesia dapat menjadi jembatan antara negara-negara di utara dan di selatan,” kata Diaz mengutip pernyataan Kamal.

Read also:  Pagu Indikatif Anggaran Kementerian ESDM Tahun 2027 Rp27,335 T, Begini Rinciannya

Diaz menegaskan Indonesia menghadapi tantangan yang sama dengan negara-negara kepulauan kecil akibat kenaikan muka air laut, cuaca ekstrem, intrusi air laut, dan abrasi pantai.

“Indonesia merupakan kumpulan lebih dari 17 ribu pulau dan masyarakat kita berada di garis depan menghadapi kenaikan permukaan laut, cuaca ekstrem, intrusi air asin, dan erosi garis pantai seperti negara-negara kepulauan lainnya. Karena itu, kita harus mengakui kondisi khusus negara-negara kepulauan, wilayah pesisir, dan pulau-pulau kecil,” ujarnya.

Berlin Climate Mobility Forum merupakan forum internasional yang bertujuan meningkatkan perhatian global terhadap mobilitas iklim, yakni perpindahan penduduk akibat dampak perubahan iklim yang semakin mengancam keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir dan negara-negara kepulauan. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut Siapkan Reformasi Kebijakan untuk Dongkrak Kontribusi Kehutanan terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah menyiapkan serangkaian reformasi kebijakan untuk meningkatkan kontribusi sektor kehutanan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, mulai dari revisi Undang-Undang Kehutanan,...

DEN Dorong Indonesian Bioenergy Index untuk Percepat Pengembangan Bioenergi Nasional

Ecobiz.asia – Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong pembentukan Indonesian Bioenergy Index (IBI) sebagai acuan harga nasional bioenergi guna mempercepat pengembangan bioenergi dan mendukung target...

Kemenhut Siapkan Aturan Baru Pengenaan Sanksi Administratif, Buka Ruang Masukan Publik

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan tengah menyiapkan regulasi baru untuk memperkuat pengawasan dan penegakan hukum administratif di sektor kehutanan melalui penyusunan Peraturan Menteri Kehutanan tentang...

Minta PLN Segera Atasi Pemadaman Bergilir, Bahlil Singgung Manajemen Logistik Batu bara

Ecobiz.asia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta PT PLN (Persero) segera mengambil langkah mitigasi yang terukur dan komprehensif untuk...

Plastic Smart Cities WWF Dorong Praktik Ekonomi Sirkular, Kurangi Polusi Plastik di Indonesia

Ecobiz.asia – Program Plastic Smart Cities (PSC) yang dijalankan WWF-Indonesia dinilai berhasil memperkuat sistem pengelolaan sampah dan mendorong praktik ekonomi sirkular sebagai upaya mengurangi...

TOP STORIES

Kemenhut Siapkan Reformasi Kebijakan untuk Dongkrak Kontribusi Kehutanan terhadap Pertumbuhan Ekonomi

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) telah menyiapkan serangkaian reformasi kebijakan untuk meningkatkan kontribusi sektor kehutanan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, mulai dari revisi Undang-Undang Kehutanan,...

Kemenhut Tegaskan Hanya PBPH yang Berhak Ajukan Perdagangan Karbon di Konsesi Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan bahwa pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), bukan pengembang proyek (project developer), merupakan pihak yang berhak mengajukan permohonan...

Empat Tantangan Proyek Karbon Kehutanan, Fairatmos Siap Dampingi PBPH

Ecobiz.asia – Pengembangan proyek karbon di sektor kehutanan menghadapi sedikitnya empat tantangan utama, mulai dari persoalan status lahan, keterbatasan data karbon, tingginya biaya pengembangan...

PGN Garap Stranded Gas Lapangan Sengeti, Tambah Pasokan Gas Domestik

Ecobiz.asia – PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menyiapkan tambahan pasokan gas bumi dari Lapangan Sengeti sebagai bagian dari strategi memperkuat ketahanan energi...

APHI Fasilitasi Peningkatan Kapasitas Perusahaan Kehutanan Masuk ke Pasar Karbon

Ecobiz.asia – Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menjalankan program peningkatan kapasitas bagi perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) untuk mempercepat pengembangan proyek dan...