Plastic Smart Cities WWF Dorong Praktik Ekonomi Sirkular, Kurangi Polusi Plastik di Indonesia

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Program Plastic Smart Cities (PSC) yang dijalankan WWF-Indonesia dinilai berhasil memperkuat sistem pengelolaan sampah dan mendorong praktik ekonomi sirkular sebagai upaya mengurangi polusi plastik di Indonesia.

Selama lima tahun terakhir, program ini tidak hanya membangun infrastruktur pengelolaan sampah, tetapi juga memperkuat edukasi, keterlibatan masyarakat, serta pengembangan kebijakan tanggung jawab produsen atau Extended Producer Responsibility (EPR).

Capaian tersebut dipaparkan dalam kegiatan refleksi dan diseminasi studi bertajuk “Tackling Indonesia’s Plastic Pollution and Leakage: Reflection and Pathways Forward from WWF Plastic Smart Cities Program” yang digelar di Jakarta, Jumat (19/6/2026).

Chief Conservation Officer WWF-Indonesia, Dewi Lestari Yani Rizki, mengatakan Plastic Smart Cities menunjukkan bahwa aksi lokal mampu menghasilkan solusi nyata yang dapat mendukung kebijakan nasional dan transformasi ekonomi sirkular.

“Melalui kolaborasi dengan pemerintah, masyarakat, pelaku sektor swasta, sekolah, dan mitra pembangunan, program ini menunjukkan bagaimana pengurangan kebocoran plastik dapat dicapai melalui pendekatan yang terintegrasi, berbasis bukti, dan dapat direplikasi,” ujarnya.

Read also:  Menteri Jumhur Ajak Akademisi Wujudkan Kedaulatan Ekologis Jelang 81 Tahun Indonesia Merdeka

Program PSC lahir dari komitmen global untuk mengurangi timbulan sampah plastik dan mencegah pencemaran plastik di laut. Di Indonesia, program ini mulai diimplementasikan WWF-Indonesia sejak 2020 dengan fokus di Jakarta, Depok, dan Bogor melalui dukungan WWF-Norwegia.

Pelaksanaannya diawali dari tingkat RT dan RW sebelum berkembang menjadi program berskala kota yang mencakup penguatan infrastruktur pengelolaan sampah, edukasi publik, peningkatan kesiapan implementasi EPR, serta dukungan terhadap pengembangan kebijakan nasional.

Selama periode 2021–2026, PSC menjalankan berbagai kegiatan mulai dari penyusunan studi dasar (baseline), penguatan bank sampah, pembangunan fasilitas Material Recovery Facility (MRF) berbasis 3R, peningkatan sistem pengumpulan sampah, edukasi di sekolah, hingga penguatan kolaborasi multipihak.

Salah satu capaian program adalah beroperasinya fasilitas TPS 3R di Jakarta Utara pada awal Mei 2026. Sementara di Depok, fasilitas serupa menjadi TPS 3R pertama yang dikembangkan untuk mendukung pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

Read also:  Kebakaran Padam, Kemenhut Jelaskan Kapan Wisata Gunung Bromo Dibuka

WWF-Indonesia juga mendorong pengembangan peta jalan EPR, pembahasan skema pembiayaan, eco-modulation, desain produk berkelanjutan, serta peningkatan kapasitas bagi produsen, hotel, restoran, kafe, institusi pemerintah, dan berbagai mitra pembangunan.

Menurut Dewi, selama lima tahun pelaksanaan PSC, program tersebut telah menjangkau 237 sekolah dengan sekitar 71.100 peserta didik serta melibatkan 12 perguruan tinggi di Jakarta, Bogor, Depok, dan Yogyakarta dalam edukasi pengelolaan sampah plastik.

Dalam kesempatan yang sama, WWF-Indonesia memaparkan dua hasil penelitian mengenai desain kemasan dan pengelolaan sampah kemasan bernilai rendah serta rekomendasi tata kelola dan implementasi EPR di Indonesia.

Kajian tersebut menemukan bahwa kemasan sekali pakai dan kemasan multilayer masih mendominasi pasar Indonesia. Kondisi ini menjadi tantangan karena keterbatasan infrastruktur pengelolaan menyebabkan material tersebut memiliki nilai ekonomi rendah dan tingkat pengumpulan yang masih minim sehingga berpotensi bocor ke lingkungan.

Penelitian tersebut merekomendasikan perbaikan sistemik melalui pengembangan pasar bagi material bernilai rendah, penguatan implementasi EPR, serta percepatan transisi menuju desain kemasan yang lebih ramah lingkungan. Keberhasilan upaya tersebut dinilai memerlukan kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, produsen, serta operator pengelolaan sampah.

Read also:  Karhutla Meningkat, Pemerintah Perkuat Operasi Terpadu di Tiga Provinsi Kalimantan

Ke depan, WWF-Indonesia akan mendorong optimalisasi TPS 3R dan fasilitas pengelolaan sampah lainnya, memperkuat integrasi EPR dalam perencanaan daerah, serta memperluas replikasi program melalui pemerintah daerah, sekolah, perguruan tinggi, dan kota-kota baru. Upaya tersebut juga akan didukung pengembangan skema pembiayaan dan peningkatan investasi untuk memperkuat sistem pemulihan sampah plastik di Indonesia.

Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Norwegia untuk Indonesia, Kristian Netland, menegaskan bahwa pengurangan polusi plastik memerlukan kerja sama lintas sektor karena persoalan tersebut tidak hanya terkait pengelolaan sampah.

“Polusi plastik bukan sekadar isu pengelolaan sampah, tetapi juga menyangkut desain produk, permintaan pasar, infrastruktur, pembiayaan, dan tata kelola,” katanya. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Karhutla Meningkat, Pemerintah Perkuat Operasi Terpadu di Tiga Provinsi Kalimantan

Ecobiz.asia — Pemerintah memperkuat operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan menyusul peningkatan hotspot berkepercayaan...

Gerakan Jemaat Jaga Bumi, KLH Dorong HKBP Perkuat Pilah Sampah Menuju Gereja Hijau

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong organisasi keagamaan mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan sampah melalui perubahan perilaku jemaat. Menteri LH/Kepala...

Karhutla Capai 202 Ribu Hektare, 57 Persen di Kawasan Hutan

Ecobiz.asia – Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa berdasarkan pemantauan periode Januari hingga Juli 2026, luas kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) nasional...

Resmi! Pemerintah Serahkan Dua Izin Panas Bumi, Siapkan Lima WKP dan Tujuh WPSE

Ecobiz.asia — Pemerintah menyiapkan lima Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) dan tujuh Wilayah Penugasan Survei Pendahuluan dan Eksplorasi (WPSPE) untuk ditawarkan pada 2026 guna...

Dorong Pemanfaatan Panas Bumi 23,2 GW, Pemerintah Minta Pemegang Konsesi Segera Realisasikan Proyek

Ecobiz.asia — Pemerintah mendorong percepatan pengembangan panas bumi nasional dengan meminta pemegang konsesi segera merealisasikan proyek yang telah memperoleh izin. Langkah tersebut diperlukan untuk...

TOP STORIES

MedcoEnergi Salurkan Bantuan Logistik bagi Masyarakat Terdampak Gempa NTT

Ecobiz.asia -- PT Medco Energi Internasional Tbk (MedcoEnergi) menyalurkan bantuan kemanusiaan berupa kebutuhan logistik dan kebutuhan dasar bagi masyarakat terdampak gempa bumi bermagnitudo 7,7...

WRI Indonesia Dorong Penguatan Data dan MRV Emisi Metana Sektor Persampahan

Ecobiz.asia -- World Resources Institute (WRI) Indonesia mendorong penguatan kualitas data persampahan dan sistem measurement, reporting, and verification (MRV) untuk mempercepat upaya pengurangan emisi...

PGN Gagas Ajukan Tambahan Alokasi Gas CNG hingga 30 BBTUD untuk Periode 2026-2030

Ecobiz.asia -- PT Gagas Energi Indonesia (PGN Gagas), anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), mengajukan tambahan alokasi gas bumi untuk kebutuhan compressed...

Karhutla Meningkat, Pemerintah Perkuat Operasi Terpadu di Tiga Provinsi Kalimantan

Ecobiz.asia — Pemerintah memperkuat operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan menyusul peningkatan hotspot berkepercayaan...

Gerakan Jemaat Jaga Bumi, KLH Dorong HKBP Perkuat Pilah Sampah Menuju Gereja Hijau

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong organisasi keagamaan mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan sampah melalui perubahan perilaku jemaat. Menteri LH/Kepala...