Dapat Persetujuan KLH, Proyek Energi Terbarukan LX International Buka Peluang Monetisasi Kredit Karbon

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Perusahaan energi yang berbasis di Republik Korea, LX International membuka babak baru dalam pengembangan bisnis karbon di Indonesia setelah memperoleh persetujuan yang memungkinkan monetisasi pengurangan emisi dari proyek energi terbarukannya.

Dalam pernyataan pers yang dikutip Kamis (12/2/2026), perusahaan menyampaikan bahwa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Hasang telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) sebagai proyek pengurangan emisi karbon berdasarkan mekanisme Pasal 6.4 Perjanjian Paris.

Persetujuan ini menjadikan PLTA Hasang sebagai proyek energi terbarukan pertama di Indonesia yang secara formal mendapat izin untuk melakukan transfer internasional pengurangan emisi karbon di bawah kerangka Perjanjian Paris sejak mekanisme tersebut berlaku pada 2021.

Read also:  ABB Motion Dorong Kolaborasi Industri–Kampus untuk Siapkan Talenta Teknik Masa Depan

Pasal 6.4 sendiri merupakan skema baru yang difasilitasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk perdagangan internasional pengurangan emisi terverifikasi, menggantikan Clean Development Mechanism (CDM) era Protokol Kyoto.

Setelah menyelesaikan tahapan administratif, LX International berencana memanfaatkan kredit karbon tersebut baik melalui konversi ke pasar karbon domestik maupun penjualan di pasar karbon global.

“Ini merupakan capaian penting dari inisiatif pertumbuhan baru kami, yang menggabungkan keahlian dalam pengelolaan aset energi terbarukan dengan pengembangan bisnis kredit karbon,” ujar perwakilan LX International dalam pernyataannya.

Read also:  Pertamina Hadirkan Green Terminal di Cilegon, Perkuat Ketahanan Energi Rendah Karbon

Ia menambahkan, persetujuan ini menjadi fondasi penting bagi monetisasi kredit karbon lintas negara dengan menghubungkan pasar karbon Indonesia dengan pasar global.

Ke depan, LX International menargetkan pembentukan portofolio kredit karbon di Indonesia sekitar 310.000 ton per tahun. Kontribusi terbesar berasal dari PLTA Hasang sekitar 210.000 ton, sementara sisanya sekitar 100.000 ton ditopang proyek pembangkit listrik biogas berbasis perkebunan kelapa sawit.

Read also:  Rimbawan Rumuskan Pesan Dramaga, Lima Komitmen Strategis untuk Masa Depan Kehutanan Indonesia

PLTA Hasang yang berlokasi di Sumatra Utara memiliki kapasitas terpasang 41 megawatt dan memanfaatkan perbedaan elevasi alami air untuk menghasilkan listrik. Pembangkit ini mampu memasok kebutuhan listrik tahunan sekitar 150.000 rumah tangga.

Selain itu, LX International juga tengah menyiapkan transisi pengurangan emisi dari proyek pembangkit listrik biogasnya di Kalimantan Barat ke dalam mekanisme Perjanjian Paris. Proyek waste-to-energy tersebut memanfaatkan biogas dari limbah cair perkebunan kelapa sawit untuk dikonversi menjadi listrik. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

KKP Susun Baseline Emisi Ekosistem Lamun, Pondasi Penting Pengelolaan Karbon Biru

Ecobiz.asia — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyusun baseline emisi gas rumah kaca (GRK) dari ekosistem lamun sebagai langkah memperkuat tata kelola karbon biru...

PGE Gandeng South Pole, Percepat Transisi Portofolio Karbon ke Mekanisme Paris Agreement

Ecobiz.asia — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) mempercepat transisi portofolio proyek karbon panas buminya ke mekanisme pasar karbon global berdasarkan Pasal 6.4 Paris...

Rekor! PLN EPI Kirim 6.700 Ton Biomassa Sekali Angkut ke PLTU Balikpapan

Ecobiz.asia — PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mencatat pengiriman biomassa terbesar sepanjang program cofiring setelah mengangkut sekitar 6.700 ton cangkang sawit ke...

Malaysia Apresiasi PLN, Proyek Elektrifikasi Kereta Listrik di Kelantan dan Pahang Tuntas Lebih Awal

Ecobiz.asia — Tenaga Nasional Berhad (TNB) dan Tenaga Switchgear (TSG) menyatakan puas atas kinerja PLN Nusantara Power (PLN NP) dalam proyek elektrifikasi East Coast...

Dari Energi hingga Limbah, Lebih dari 165 Proyek Siap Masuk Mekanisme Kredit Karbon Paris Agreement

Ecobiz.asia — Lebih dari 165 proyek yang telah disetujui negara tuan rumah sedang dalam proses transisi dari mekanisme Clean Development Mechanism (CDM) menuju mekanisme...

TOP STORIES

KKP Susun Baseline Emisi Ekosistem Lamun, Pondasi Penting Pengelolaan Karbon Biru

Ecobiz.asia — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyusun baseline emisi gas rumah kaca (GRK) dari ekosistem lamun sebagai langkah memperkuat tata kelola karbon biru...

PGN Perkuat Integrasi Infrastruktur Gas untuk Perluas Akses Energi Bersih

Ecobiz.asia -- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Subholding Gas PT Pertamina (Persero), terus memperkuat pengembangan infrastruktur gas bumi nasional guna memperluas akses energi...

Chandra Asri’s Recycled Plastic Used for Plastic Asphalt at Java 9 & 10 Power Plant

Ecobiz.asia — Indonesian petrochemical producer PT Chandra Asri Pacific Tbk has supplied recycled plastic material for plastic asphalt used in road construction within the...

President Prabowo Prepares Decree on Elephant Protection, Task Force for National Park Financing

Ecobiz.asia — Indonesia's President Prabowo Subianto is preparing two strategic policies to strengthen wildlife conservation and the management of protected areas, including a presidential...

Presiden Siapkan Inpres Penyelamatan Gajah, Intervensi Penyusutan Kantong Habitat

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto menyiapkan dua kebijakan strategis untuk memperkuat konservasi satwa liar dan pengelolaan kawasan konservasi, yakni Instruksi Presiden (Inpres) penyelamatan gajah...