KLH Uji Coba Sistem Inventarisasi Gas Rumah Kaca SIGN SMART ROBUST, Banyak Keunggulannya

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan (KLH/BPLH) Hidup melalui Direktorat Inventarisasi Gas Rumah Kaca dan Monitoring, Pelaporan, Verifikasi (IGRK MPV) menguji coba pengembangan sistem inventarisasi emisi gas rumah kaca nasional terbaru bernama SIGN SMART ROBUST.

Pengembangan tersebut dilakukan untuk memperkuat sistem penghitungan dan pelaporan emisi gas rumah kaca (GRK) nasional yang telah digunakan lebih dari satu dekade.

SIGN SMART merupakan kependekan dari Sistem Informasi Gas Rumah Kaca Nasional Sederhana, Mudah, Akurat, Ringkas, dan Transparan yang dikembangkan sejak 2015 untuk mendukung pelaporan emisi GRK Indonesia kepada United Nations Framework Convention on Climate Change.

Direktur Inventarisasi GRK dan MPV Mitta Ratna Djuwita mengatakan pengembangan SIGN SMART menjadi SIGN SMART ROBUST dilakukan untuk menjawab tantangan inventarisasi emisi di tingkat nasional maupun global.

Read also:  KLH Siapkan UU Keadilan Iklim, Pastikan Manfaat Perdagangan Karbon untuk Masyarakat Adat dan Desa

“Pengembangan SIGN SMART menjadi SIGN SMART ROBUST adalah upaya menjawab tantangan dan kebutuhan sistem inventarisasi nasional dan global. Diharapkan dengan pengembangan ini SIGN SMART semakin mudah digunakan oleh pengguna, khususnya operator di pusat, daerah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya,” ujar Mitta Ratna Djuwita dalam pernyataannya yang diterima, Senin (11/5/2026).

Uji coba SIGN SMART ROBUST dilakukan di Yogyakarta, 28–29 April 2026.
Menurut Mitta, sistem baru tersebut dirancang lebih andal, optimal, berimbang, ramah pengguna, mudah dikembangkan, dan terbuka untuk diintegrasikan dengan berbagai platform nasional lainnya.

Read also:  Empat Tantangan Proyek Karbon Kehutanan, Fairatmos Siap Dampingi PBPH

SIGN SMART ROBUST dikembangkan agar dapat terhubung dengan sejumlah sistem pemerintah seperti Sistem Registri Nasional, SIDIK, AKSARA milik Bappenas, serta APPLE GATRIK milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Sistem inventarisasi ini mencakup lima sektor utama emisi, yakni energi, pertanian, kehutanan dan perubahan penggunaan lahan (FOLU), industri dan penggunaan produk (IPPU), serta limbah.

Penghitungan emisi dilakukan melalui pendekatan bottom up dan top down. Data dihimpun langsung dari daerah dan dikonfirmasi kementerian teknis yang membidangi masing-masing sektor.

Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Daerah Istimewa Yogyakarta, Sjamsu Agung Widjaja, mengatakan pemerintah daerah masih menghadapi tantangan dalam pelaporan inventarisasi GRK.

Read also:  Indonesia Siap Jual 30 Juta Ton Kredit Karbon FOLU ke Pasar Global Awal Juli 2026

“Secara umum Provinsi DIY dan kabupaten/kota telah melakukan inventarisasi GRK sejak 2021. Namun secara khusus belum seluruhnya menyusun pelaporan IGRK karena keterbatasan SDM, ketersediaan data, dan belum terbentuknya kelompok kerja inventarisasi gas rumah kaca,” ujarnya.

Sesi Pengenalan Fitur SIGN SMART ROBUST.

Sementara itu, Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Wilayah Jawa menilai Pulau Jawa menjadi wilayah prioritas dalam implementasi inventarisasi GRK nasional karena merupakan pusat industri sekaligus wilayah yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.

Uji coba SIGN SMART ROBUST diharapkan memperkuat kualitas data emisi nasional sekaligus meningkatkan kapasitas pemerintah daerah dalam mendukung target penurunan emisi gas rumah kaca Indonesia. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

PLN Indonesia Power dan South Pole Bahas Perpanjangan Kerja Sama Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT PLN Indonesia Power dan perusahaan konsultan iklim global asal Swiss, South Pole AG, membahas perpanjangan kerja sama perdagangan karbon untuk proyek...

Menhut Ajak Dunia Bangun Pasar Karbon yang Kredibel dan Berkeadilan

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia mengajak komunitas internasional memperkuat pasar karbon global yang kredibel, transparan, dan berintegritas tinggi agar mampu memobilisasi investasi iklim dalam skala...

Di Forum Iklim London, Menhut Umumkan Penerbitan Kredit Karbon Kehutanan Terbesar Indonesia

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia akan menerbitkan kredit karbon sektor kehutanan dengan volume lebih dari 30 juta ton CO₂e pada 6 Juli 2026, menandai salah...

Indonesia Dorong Pasar Karbon Berintegritas, Perkuat Kerja Sama Gambut dan Mangrove di Forum London

Ecobiz.asia – Indonesia membawa tiga agenda utama dalam forum Forest and Climate Leaders' Partnership (FCLP) di London, yakni mendorong pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi,...

Kemenhut Tegaskan Hanya PBPH yang Berhak Ajukan Perdagangan Karbon di Konsesi Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan bahwa pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH), bukan pengembang proyek (project developer), merupakan pihak yang berhak mengajukan permohonan...

TOP STORIES

Perempuan Penggerak Ekonomi Restoratif, Akses dan Kepemimpinan Perlu Diperkuat

Ecobiz.asia – Perempuan dinilai memegang peran sentral dalam membangun ekonomi restoratif, mulai dari menjaga hutan dan sumber air, memperkuat ketahanan pangan, hingga mengembangkan usaha...

Kemenhut Gagalkan Penyelundupan Owa Jawa dan Biawak Endemik ke Oman

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menggagalkan upaya penyelundupan dua satwa endemik Indonesia, yakni owa jawa (Hylobates moloch) dan biawak tiga warna (Varanus yuwonoi), yang...

PLN Indonesia Power, South Pole Explore Expanded Carbon Market and Decarbonization Partnership

Ecobiz.asia — Indonesia's state-owned power producer PLN Indonesia Power and Swiss climate advisory firm South Pole AG are exploring an extension of their carbon...

Pendanaan Adaptasi Iklim Terbuka Lebar, Akses dan Kualitas Proyek Masih Jadi Tantangan

Ecobiz.asia – Peluang Indonesia memperoleh pendanaan internasional untuk program adaptasi perubahan iklim semakin terbuka seiring meningkatnya perhatian lembaga pendanaan global terhadap isu adaptasi. Namun,...

Synkrona Rampungkan Studi, Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut Pertama Indonesia Makin Dekat

Ecobiz.asia – PT Synkrona Enjiniring Nusantara menyelesaikan studi pra-kelayakan (pre-feasibility study) untuk proyek percontohan pembangkit listrik tenaga arus laut (PLTAL) di Nusa Penida, Bali....