ASEAN Common Carbon Framework Perkuat Koordinasi Pasar Karbon Regional

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – ASEAN Common Carbon Framework (ACCF) terus memperkuat koordinasi pengembangan pasar karbon berintegritas tinggi di Asia Tenggara dan mulai bergerak menuju implementasi praktis lintas negara.

Berdasarkan siaran pers yang diterima, Senin (18/5/2026), perkembangan tersebut dibahas dalam pertemuan Steering Committee ACCF di Singapura yang digelar bertepatan dengan Ecosperity Week 2026.

ACCF merupakan inisiatif yang dipimpin pelaku industri untuk mendukung pengembangan pasar karbon ASEAN yang terintegrasi dan saling terhubung (interoperable). Kerangka ini dikembangkan bersama oleh Indonesia Carbon Trade Association (IDCTA), Malaysia Carbon Market Association (MCMA), Singapore Sustainable Finance Association (SSFA), ASEAN Alliance on Carbon Markets (AACM), dan Thailand Carbon Markets Club (TCMC).

Read also:  Kemenhut: GANISPH Dibutuhkan untuk Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan

Dalam pernyataan tersebut, ACCF menyebut selama setahun terakhir pihaknya mendorong pengembangan standar karbon nasional dan independen yang selaras dengan standar internasional seperti Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM) dan CORSIA guna memperkuat integritas dan penerimaan kredit karbon ASEAN di pasar global.

Kerja ACCF difokuskan pada tiga area utama, yakni penguatan pasokan dan permintaan, pembangunan infrastruktur pasar, serta komunikasi strategis dan peningkatan kapasitas, yang didukung penyelarasan kebijakan dan transaksi percontohan lintas negara.

Read also:  Tiga Start Up Iklim Dapat Suntikan Rp15 Miliar, Siap Uji Coba dan Komersialisasi di Indonesia

Dari Indonesia, IDCTA disebut aktif mendorong implementasi pasar karbon melalui pengembangan proyek, aktivasi pasar, dan kolaborasi internasional. Salah satu fokusnya adalah studi kelayakan kredit transisi untuk pensiun dini pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) batu bara serta pengembangan proyek penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS).

Selain itu, IDCTA juga terus memperkuat kesiapan ekosistem melalui dialog pasar, pengembangan project pipeline, transaksi percontohan, dan kerja sama lintas batas. Langkah tersebut diarahkan untuk memperbesar pasokan kredit karbon berintegritas tinggi dari kawasan ASEAN.

Read also:  Soroti Perdagangan Karbon, Wamenhut Bicara Soal Transformasi Ekonomi Kehutanan Saat Dies Natalis Fahutan UGM

ACCF menegaskan tujuan utama kerangka ini bukan menyeragamkan sistem pasar karbon antarnegara, melainkan menciptakan keterhubungan yang kredibel dan efisien antarberbagai sistem nasional yang ada di ASEAN.

Ke depan, ACCF akan memprioritaskan implementasi praktis melalui transaksi percontohan, harmonisasi kebijakan, dan penguatan kapasitas guna meningkatkan kepercayaan terhadap kredit karbon asal ASEAN dan memperkuat kolaborasi regional. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Potensi Dana Karbon Riau Besar, Konservasi Gambut dan Satwa Jadi Kunci

Ecobiz.asia – Potensi pendanaan dari pasar karbon berbasis hutan dan gambut di Riau perlu diiringi perlindungan ekosistem, termasuk pemulihan gambut dan konservasi satwa liar....

ADM Capital Buka Peluang Pembiayaan Karbon di Riau, Integritas Proyek Jadi Kunci

Ecobiz.asia – Pengelola investasi ADM Capital menjajaki peluang pembiayaan proyek karbon di Riau setelah mulai menilai sejumlah proyek di pasar karbon sukarela di Kalimantan. Investment...

Calon Pembeli Internasional Menunggu, Riau Minta Percepatan Registrasi Program Karbon ART-TREES

Ecobiz.asia – Pemerintah Provinsi Riau meminta pemerintah pusat mempercepat registrasi program karbon hutan GREEN for Riau melalui standar Architecture for REDD+ Transactions–The REDD+ Environmental...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

KLH Dorong Pemda Beralih ke Ekonomi Restoratif, Karbon Bisa Jadi Sumber Pembiayaan

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mendorong pemerintah daerah menggeser pendekatan pembangunan dari model ekstraktif menuju ekonomi restoratif yang tidak hanya...

TOP STORIES

AIIB, KfW Coordinate $850 Million in Climate Resilience Financing for Indonesia

Ecobiz.asia – The Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) and Germany’s KfW Development Bank are coordinating up to US$850 million in financing to support Indonesia’s...

Riau Seeks Faster ART-TREES Registration as International Carbon Buyers Await

Ecobiz.asia – Indonesia’s Riau provincial government is urging the central government to accelerate registration of its GREEN for Riau forest carbon program under the...

Potensi Dana Karbon Riau Besar, Konservasi Gambut dan Satwa Jadi Kunci

Ecobiz.asia – Potensi pendanaan dari pasar karbon berbasis hutan dan gambut di Riau perlu diiringi perlindungan ekosistem, termasuk pemulihan gambut dan konservasi satwa liar....

Agrinas Palma dan Pertamina Bidik Fasilitas FAME 600.000 Ton di Riau, Dukung Program Biodiesel B50

Ecobiz.asia – PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) dan PT Pertamina Power Indonesia menjajaki pengelolaan dan pemanfaatan fasilitas produksi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) milik...

AIIB dan KfW Kolaborasi Dukung Ketahanan Iklim Indonesia, Siapkan Pembiayaan Hingga Total US$850 Juta

Ecobiz.asia – Bank Pembangunan Infrastruktur Asia (Asian Infrastructure Investment Bank/AIIB) dan bank pembangunan Jerman, KfW, menjalin kerja sama untuk mendukung program adaptasi perubahan iklim...