Ecobiz.asia – PT PLN Indonesia Power menunjuk DevvStream Corp. sebagai mitra eksklusif pengelolaan kredit karbon dari portofolio pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) milik perusahaan.
Melalui perjanjian definitif yang diumumkan Kamis (7/5/2026), DevvStream memperoleh hak eksklusif atas pengelolaan dan kepemilikan kredit karbon yang dihasilkan dari operasional PLTS PLN Indonesia Power.
Dalam kerja sama tersebut, DevvStream akan menangani seluruh proses pengembangan kredit karbon, mulai dari validasi, sertifikasi, registrasi, penyimpanan, pengamanan, hingga monetisasi kredit karbon. Pendapatan dari penjualan kredit karbon nantinya akan dibagi antara kedua pihak.
Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta menjelaskan pihaknya menerapkan proses seleksi ketat dalam memilih mitra internasional untuk monetisasi aset lingkungan.
“Kemampuan DevvStream dalam validasi, sertifikasi, registrasi, hingga pengelolaan aset lingkungan secara aman telah meyakinkan kami untuk mendukung monetisasi hasil lingkungan yang dapat diverifikasi di seluruh portofolio pembangkit,” ujarnya.
Bernardus mengatakan pengembangan PLTS menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas akses energi bersih sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Menurut dia, kerja sama ini sejalan dengan percepatan agenda transisi energi Indonesia yang menargetkan tambahan kapasitas PLTS hingga 100 GW secara nasional.
PLN Indonesia Power saat ini mengelola kapasitas pembangkit sekitar 22,1 GW di seluruh Indonesia. Sebanyak 45 PLTS telah teridentifikasi untuk masuk dalam skema pengembangan kredit karbon yang dikerjasamakan antara PLN Indonesia Power dan DevvStream.
Chief Executive Officer DevvStream, Sunny Trinh, mengatakan kerja sama ini memperkuat posisi perusahaan dalam pengembangan aset lingkungan di Asia.
“PLN Indonesia Power adalah salah satu operator listrik terkemuka di salah satu pasar energi terpenting di dunia. Perjanjian ini menempatkan DevvStream sebagai mitra eksklusif dalam penciptaan dan monetisasi aset lingkungan dari portofolio tenaga surya yang telah diidentifikasi,” ujarnya.
Menurut dia, kerja sama tersebut mencerminkan kebutuhan pasar terhadap pengelolaan kredit karbon yang memiliki integritas tinggi dan dapat dimonetisasi secara global.
Sementara itu, Pimpinan DevvStream kawasan Asia-Pasifik, Scott Harrington, menyebut model kerja sama berbasis bagi hasil memungkinkan monetisasi aset lingkungan tanpa kebutuhan investasi awal infrastruktur dari pihak DevvStream.
“Perjanjian ini membuka jalur yang dapat dikembangkan untuk monetisasi aset lingkungan berkualitas tinggi sekaligus mendukung target dekarbonisasi jangka panjang PLN Indonesia Power,” katanya. ***



