Uji 1.000 Jam, Pelaku Tambang Sebut Biodiesel B50 Aman untuk Alat Berat

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Uji coba penggunaan biodiesel 50 persen (B50) pada alat berat sektor pertambangan menunjukkan hasil positif, dengan kinerja mesin tetap stabil dan tanpa gangguan signifikan selama pengujian.

General Manager Plant PT Harmoni Panca Utama, Rochman Alamsjah, mengatakan pihaknya telah melakukan pengujian dengan membandingkan penggunaan B40 dan B50 pada unit alat berat Komatsu HD785.

“Pengujian telah berjalan hingga mendekati 1.000 jam operasi. Secara umum tidak ada masalah pada performa mesin, meskipun terdapat kenaikan konsumsi bahan bakar sekitar 1–3 persen pada penggunaan B50,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi Kementerian ESDM, Kamis (9/4/2026).

Read also:  Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Hasil pengujian juga menunjukkan bahwa B50 memenuhi spesifikasi teknis, termasuk parameter kandungan air, stabilitas oksidasi, serta kadar fatty acid methyl ester (FAME), sehingga dinilai siap digunakan pada sektor non-otomotif dengan beban kerja tinggi.

Secara operasional, konsumsi bahan bakar B50 tercatat meningkat sekitar 3,12 persen dibandingkan B40. Namun peningkatan tersebut masih dalam batas wajar dan tidak memengaruhi produktivitas alat berat secara signifikan.

Read also:  Hilirisasi dan Transisi Energi Kini Dikoordinasikan Satu Pintu, Bahlil Jadi Menko

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan hasil sementara uji B50 menunjukkan performa yang stabil baik dari sisi teknis maupun operasional.

“Tidak ditemukan gangguan signifikan pada mesin, sehingga biodiesel dapat diandalkan untuk mendukung operasional sektor industri,” ujarnya.

Pengujian dilakukan secara komprehensif, mencakup kualitas bahan bakar, kinerja mesin, ketahanan operasional, hingga stabilitas penyimpanan. Hingga akhir Maret 2026, uji ketahanan dinamis telah mencapai lebih dari 900 jam operasi tanpa indikasi gangguan akibat kualitas bahan bakar.

Read also:  Satgas PKH Kuasai Kembali 6,21 Juta Hektare Kawasan Hutan Jadi Sawit, 14.633,79 Hektare Jadi Tambang

B50 merupakan campuran 50 persen biodiesel berbasis minyak nabati dan 50 persen solar. Pengembangan ini merupakan kelanjutan dari implementasi B40 secara nasional sejak awal 2025.

Pemerintah akan melanjutkan pengujian B50 di berbagai sektor, termasuk transportasi, pembangkit listrik, kereta api, dan alat mesin pertanian, sebagai dasar penyusunan kebijakan dan standar teknis implementasi secara nasional. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...

Kemenhut Tanggapi Kritik Greenpeace Soal Karhutla, Beberkan Operasi Pemadaman hingga Sanksi ke Perusahaan

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menanggapi kritik Greenpeace Indonesia dengan menegaskan bahwa anggapan pemerintah tidak bertindak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak...

Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih untuk Batam–Karimun–Bintan

Ecobiz.asia — Indonesia membutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 20 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pusat data. Pemerintah menyiapkan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai...

Transmisi Jadi Tantangan, PLN Sebut Butuh Investasi Rp3.400 Triliun Untuk Transisi Energi

Ecobiz.asia — Pembangunan jaringan transmisi menjadi salah satu tantangan utama transisi energi Indonesia karena sumber energi dan pusat permintaan listrik tersebar di wilayah berbeda....

TOP STORIES

PHE Andalkan Teknologi Geosains untuk Optimalkan Potensi Migas Nasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pemanfaatan teknologi geosains untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak dan...

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

PEP Tanjung Salurkan 1,16 Juta Liter Air Bersih untuk Atasi Kekeringan dan Karhutla di Tabalong

Ecobiz.asia – PT Pertamina EP (PEP) Tanjung Field menyalurkan 1,156 juta liter air bersih untuk membantu masyarakat menghadapi kekeringan sekaligus mendukung penanganan kebakaran hutan...