Ecobiz.asia – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) memperkuat komitmennya terhadap dekarbonisasi dan transisi energi berkelanjutan dengan mendorong pengembangan ekosistem blue carbon berbasis mangrove dan padang lamun sebagai solusi alami penyerapan karbon.
Komitmen tersebut disampaikan dalam kegiatan HSSE Talk #4 bertema “Nature-Based Solutions for Decarbonization: Unlocking the Power of Blue Carbon Ecosystem” yang digelar secara daring dalam rangka memperingati Hari Keanekaragaman Hayati Internasional 2026.
Vice President Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan (K3KL) PLN EPI, Muhammad Aminuddin, mengatakan perusahaan energi tidak hanya memiliki tanggung jawab menjaga ketahanan pasokan energi nasional, tetapi juga memastikan operasional bisnis berjalan selaras dengan perlindungan lingkungan, khususnya di wilayah pesisir.
“PLN EPI memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi nasional. Namun di saat yang sama, kami juga memiliki tanggung jawab untuk menjaga ekosistem pesisir yang menjadi rumah bagi mangrove dan padang lamun sebagai penyerap karbon alami atau blue carbon,” ujar Aminuddin dikutip Senin (25/5/2026).
Menurut dia, ekosistem mangrove dan padang lamun memiliki kemampuan menyerap karbon hingga 10 kali lebih efektif dibandingkan hutan daratan. Potensi tersebut menjadikan ekosistem pesisir sebagai salah satu solusi berbasis alam (Nature-Based Solutions/NBS) yang penting untuk mendukung target penurunan emisi dan Net Zero Emission Indonesia 2060.
PLN EPI juga menilai perubahan iklim telah meningkatkan ancaman terhadap kawasan pesisir, mulai dari kenaikan muka air laut, abrasi, hingga cuaca ekstrem yang berdampak langsung pada masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Senior Business Development Manager CarbonEthics, Farhan Prastiyan, memaparkan bahwa Indonesia memiliki sekitar 3,4 juta hektare kawasan mangrove yang mampu menyimpan hingga 3,1 miliar ton CO2. Namun, sekitar 40 persen kawasan mangrove mengalami degradasi dalam tiga dekade terakhir.
Menurut Farhan, rehabilitasi mangrove, konservasi lahan gambut, dan pengelolaan pesisir berkelanjutan tidak hanya berkontribusi terhadap penurunan emisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru berbasis blue economy dan pemberdayaan masyarakat pesisir.
“Solusi berbasis alam memiliki potensi besar dalam mendukung mitigasi perubahan iklim sekaligus menciptakan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat pesisir,” katanya.
Sebagai bagian dari implementasi strategi tersebut, PLN EPI bersama CarbonEthics telah terlibat dalam proyek rehabilitasi mangrove di Tanjung Pakis, Karawang. Program tersebut melibatkan masyarakat lokal melalui pelatihan, pengembangan UMKM, hingga penguatan ekonomi berbasis ekowisata.
Aminuddin menegaskan, meningkatnya tuntutan regulasi, ekspektasi investor, serta berkembangnya pasar karbon domestik menjadi momentum bagi PLN EPI untuk memperkuat strategi bisnis berbasis nature-positive.
“PLN EPI perlu memposisikan diri sebagai pelopor integrasi nature-positive strategy dalam operasional energi. Keberlanjutan bukan lagi sekadar pelengkap, tetapi bagian penting dalam membangun bisnis energi masa depan yang resilien dan bernilai tambah,” ujarnya. ***



