Ribut Soal Pembangunan Fasilitas Pariwisata di Pulau Padar, Kemenhut Tegaskan akan Mengacu ke Standar WHC

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan rencana pembangunan fasilitas pariwisata di Pulau Padar, Taman Nasional Komodo, masih dalam tahap konsultasi publik.

Pemerintah memastikan setiap pembangunan akan mengacu pada penilaian Environmental Impact Assessment (EIA) yang harus disetujui World Heritage Centre (WHC) dan IUCN sebelum dilaksanakan.

“Pemerintah Indonesia tidak akan mengizinkan pembangunan apa pun sebelum dokumen EIA ini disetujui WHC dan IUCN, sebagai bagian dari komitmen terhadap perlindungan Outstanding Universal Value (OUV) situs warisan dunia,” tulis Kemenhut dalam keterangan resmi, Selasa (5/8/2025).

Read also:  Penghentian Open Dumping Tak Bisa Ditawar, KLH Dorong Percepatan Pemilahan Sampah

Kemenhut menjelaskan, PT Komodo Wildlife Ecotourism (PT KWE) adalah pemegang izin usaha sarana pariwisata alam sejak 2014 dengan lokasi di zona pemanfaatan Pulau Padar. Hingga saat ini, belum ada aktivitas pembangunan.

Dari total 274,13 hektare izin usaha yang dimiliki PT KWE, pembangunan hanya direncanakan di area seluas 15,375 hektare atau 5,64 persen, bukan 426 hektare seperti yang diberitakan sebelumnya.

Read also:  Kemenhut Dorong Golo Mori Jadi Destinasi Wisata Berbasis Alam, Alternatif Taman Nasional Komodo

Pembangunan akan dilakukan bertahap dalam lima tahap di tujuh blok lokasi.

Kajian EIA, menurut Kemenhut, disusun oleh tim ahli lintas disiplin dan telah dikonsultasikan bersama pemangku kepentingan melalui forum publik di Labuan Bajo pada 23 Juli 2025.

“Pemerintah akan memastikan setiap pembangunan tidak berdampak negatif terhadap kelestarian komodo dan habitatnya,” tegas Kemenhut.

Read also:  Antisipasi El Nino 2026, Kemenhut-BMKG Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca Cegah Karhutla

Proses ini merupakan tindak lanjut dari mandat Reactive Monitoring Mission TN Komodo 2022 dan keputusan resmi sidang WHC ke-46 (Riyadh, 2023) dan ke-47 (Paris, 2025).

Kemenhut juga mengajak publik menunggu hasil penilaian internasional yang tengah berjalan serta menghindari penyebaran informasi tidak akurat. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

ESDM Panggil Produsen Bobibos, Minta Segera Lakukan Uji Teknis

Ecobiz.asia — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) meminta produsen bahan bakar alternatif Bobibos,...

Kemenhut Dorong Golo Mori Jadi Destinasi Wisata Berbasis Alam, Alternatif Taman Nasional Komodo

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendorong pengembangan kawasan Golo Mori sebagai destinasi wisata berbasis alam (ecotourism) guna menjadi alternatif kunjungan di sekitar Taman Nasional...

Tren Kenaikan Hotspot Mengkhawatirkan, Riau Siaga Penuh Kebakaran Hutan dan Lahan

Ecobiz.asia – Pemerintah menetapkan status siaga penuh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau menyusul lonjakan signifikan jumlah titik panas (hotspot) memasuki musim...

Pembatasan Wisatawan Taman Nasional Komodo, Wamenhut: Kuota Adaptif, Tidak Statis

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan kebijakan pembatasan wisatawan di Taman Nasional Komodo bersifat adaptif dan tidak statis, menyesuaikan dengan daya dukung lingkungan serta...

Indonesia-Korsel Perkuat Pengendalian Karhutla melalui Pengembangan Forest and Land Fire Management Center

Ecobiz.asia — Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Korea Selatan memperkuat kerja sama pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui pengembangan Forest and Land Fire Management...

TOP STORIES

ESDM Panggil Produsen Bobibos, Minta Segera Lakukan Uji Teknis

Ecobiz.asia — Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas) meminta produsen bahan bakar alternatif Bobibos,...

Kemenhut Dorong Golo Mori Jadi Destinasi Wisata Berbasis Alam, Alternatif Taman Nasional Komodo

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendorong pengembangan kawasan Golo Mori sebagai destinasi wisata berbasis alam (ecotourism) guna menjadi alternatif kunjungan di sekitar Taman Nasional...

Tren Kenaikan Hotspot Mengkhawatirkan, Riau Siaga Penuh Kebakaran Hutan dan Lahan

Ecobiz.asia – Pemerintah menetapkan status siaga penuh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau menyusul lonjakan signifikan jumlah titik panas (hotspot) memasuki musim...

Pembatasan Wisatawan Taman Nasional Komodo, Wamenhut: Kuota Adaptif, Tidak Statis

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menegaskan kebijakan pembatasan wisatawan di Taman Nasional Komodo bersifat adaptif dan tidak statis, menyesuaikan dengan daya dukung lingkungan serta...

Indonesia Prepares Forestry Carbon Nesting Framework, Riau Selected as Pilot

Ecobiz.asia — Indonesia is preparing to operationalize a forestry carbon nesting framework to support high-integrity transactions and attract global investment into its carbon market. Director...