RI–Jepang Teken Kerja Sama Mineral Kritis dan Pengembangan Energi Nuklir

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pemerintah Indonesia dan Jepang menandatangani nota kerja sama di bidang mineral kritis dan energi nuklir untuk memperkuat ketahanan energi serta mendukung pengembangan teknologi energi masa depan di kawasan Asia-Pasifik.

Kesepakatan tersebut diteken dalam pertemuan bilateral antara Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia dan Menteri Ekonomi, Perdagangan, dan Industri Jepang Ryosei Akazawa di sela forum Indo-Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3/2026).

Kedua negara menandatangani Memorandum of Cooperation (MoC) yang mencakup penguatan rantai pasok mineral kritis serta kerja sama pengembangan teknologi energi nuklir rendah karbon.

Read also:  Kemenhut Laporkan Penurunan Hotspot Nasional 56 Persen, Pastikan Pengendalian Karhutla Diperkuat

“Saya sangat menyambut baik memorandum yang hari ini kita tandatangani, khususnya di bidang mineral kritis. Kami sangat terbuka dan dengan senang hati meminta pemerintah Jepang maupun pengusaha Jepang untuk mengelola bersama mineral kritis yang ada di Indonesia,” ujar Bahlil.

Kerja sama di sektor mineral kritis diarahkan untuk memperkuat rantai pasok global yang lebih aman dan andal, sekaligus mendukung pengembangan teknologi energi bersih berbasis sumber daya mineral strategis.

Bahlil menegaskan Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok mineral dunia, termasuk cadangan nikel sekitar 43% dari total cadangan global, serta sumber daya bauksit, timah, tembaga, dan logam tanah jarang.

Read also:  Data Karhutla Terbaru, Kemenhut Ungkap Hotspot High Confidence Turun

“Kalau mampu kita implementasikan bersama, saya pikir itu adalah hal yang baik,” katanya.

Sementara itu, Akazawa menilai penguatan kerja sama energi antarnegara menjadi semakin penting di tengah dinamika geopolitik global dan ketidakpastian pasokan energi.

“Di tengah situasi krisis global saat ini, penting bagi kita untuk memperkuat kerja sama demi menjaga ketahanan energi. Jepang sendiri telah menyiapkan cadangan energi strategis sebagai langkah antisipasi,” ujarnya.

Akazawa juga menyampaikan apresiasi atas dukungan Indonesia terhadap pasokan liquefied natural gas (LNG) ke Jepang, serta menegaskan komitmen negaranya untuk terus mendukung berbagai proyek energi bersama Indonesia.

Read also:  KLH Bangun Ekosistem Pengelolaan Limbah Baterai Mobil Listrik, Timbulan Diproyeksi Memuncak 2040

Selain mineral kritis, kerja sama kedua negara juga mencakup pengembangan teknologi energi nuklir dengan mengedepankan standar keselamatan tinggi, memanfaatkan pengalaman Jepang dalam pengembangan energi rendah karbon.

Ke depan, Indonesia dan Jepang juga akan melanjutkan pembahasan kerja sama di sektor energi lainnya, termasuk penguatan rantai pasok LNG dan batu bara, serta percepatan proyek transisi energi dalam kerangka Asia Zero Emission Community (AZEC).

Beberapa proyek yang masuk dalam kerja sama tersebut antara lain penguatan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi Sarulla dan penyelesaian proyek PLTSa Legok Nangka di Jawa Barat. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Ecobiz.asia -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menindaklanjuti hasil...

Karhutla, Kemenhut Kembali Sanksi Administratif Lima Perusahaan PBPH

Ecobiz.asia - – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) kembali menjatuhkan sanksi administratif kepada lima perusahaan pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) di Kalimantan Barat setelah ditemukan...

KLH Bangun Ekosistem Pengelolaan Limbah Baterai Mobil Listrik, Timbulan Diproyeksi Memuncak 2040

Ecobiz.asia — Ledakan penggunaan kendaraan listrik berpotensi menghadirkan persoalan baru: gunungan baterai bekas. Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) memperkirakan timbulan limbah baterai kendaraan listrik akan...

Sungai Mengering, Ketergantungan Batu Bara Dinilai Perparah Krisis Iklim di Kalimantan

Ecobiz.asia -- Kekeringan dan pendangkalan sejumlah sungai besar di Kalimantan di tengah fenomena El Niño menjadi alarm bagi pemerintah untuk mengevaluasi kembali ketergantungan Indonesia...

KLH/BPLH Perluas Jejaring Internasional Lawan Sindikat Kejahatan Lingkungan

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) memperkuat penegakan hukum dan memperluas kerja sama internasional untuk membongkar jaringan kejahatan lingkungan yang semakin...

TOP STORIES

Singapura-Laos Sepakati Perdagangan Kredit Karbon, Atur Mekanisme Corresponding Adjustment

Ecobiz.asia — Singapura dan Laos menandatangani perjanjian implementasi untuk membangun kerangka kerja yang mengikat secara hukum bagi kerja sama kredit karbon berdasarkan Pasal 6...

Pemanasan Global Diprediksi Lampaui 1,5°C, UNEP Peringatkan Bahaya Perubahan Iklim

Ecobiz.asia – Dunia diperkirakan akan melampaui ambang pemanasan global 1,5°C dalam beberapa tahun ke depan. Namun, peluang untuk menekan kenaikan suhu dan mengembalikannya ke...

Singapore, Laos Sign Carbon Credit Deal, Set Corresponding Adjustment Mechanism

Ecobiz.asia — Singapore and Laos have signed an implementation agreement to establish a legally binding framework for carbon credit collaboration under Article 6 of...

UNEP: World Set to Cross 1.5°C Warming, Return Below Threshold Still Possible

Ecobiz.asia — Global temperatures are likely to exceed the 1.5°C warming threshold within the next few years, increasing climate risks and impacts, but the...

PLN Nusantara Power Perluas Bisnis di Luar Pembangkitan, Raih Dua Penghargaan Marketing 2026

Ecobiz.asia -- Transformasi bisnis PT PLN Nusantara Power (PLN NP) dalam mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti pembangkitan mendapat pengakuan melalui dua...