Pertamina Hulu Indonesia Perkuat Konservasi Orang Utan untuk Dukung Keberlanjutan Operasi Migas

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) memperkuat komitmennya terhadap pelestarian keanekaragaman hayati di Kalimantan melalui dukungan terhadap program rehabilitasi orang utan dan pemulihan habitatnya. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan operasi hulu migas sekaligus kelestarian ekosistem di sekitar wilayah operasi perusahaan.

Dukungan tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation pada peringatan Hari Orang Utan, 19 Agustus 2026 lalu. PHI bersama anak usahanya, PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM), serta afiliasinya, PT Pertamina EP (PEP) Sangasanga Field dan Tanjung Field, mendukung program adopsi orang utan, rehabilitasi satwa, hingga pemulihan vegetasi habitat orang utan, khususnya di sekitar wilayah operasi migas perusahaan di Kalimantan.

Direktur Utama PHI Muharram Jaya Panguriseng mengatakan pelestarian orang utan merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasi hulu migas secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Menurut dia, keberlanjutan operasi migas tidak hanya ditentukan oleh aspek produksi, tetapi juga oleh kemampuan perusahaan menjaga keseimbangan lingkungan dan membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat di sekitar wilayah operasi.

“Kami percaya bahwa hubungan yang harmonis dengan masyarakat yang berdaya dan mandiri serta lingkungan yang lestari akan mendukung keberlanjutan produksi migas Perusahaan untuk puluhan tahun yang akan datang,” ujar Muharram.

Read also:  Kemenhut Tanggapi Kritik Greenpeace Soal Karhutla, Beberkan Operasi Pemadaman hingga Sanksi ke Perusahaan

Karena itu, lanjutnya, menjaga lingkungan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penerapan prinsip dan strategi keberlanjutan PHI.

Dalam program konservasi orang utan, PHI turut mendukung berbagai kebutuhan selama proses rehabilitasi, mulai dari penyediaan pakan, perawatan kesehatan, obat-obatan, pemeriksaan medis, enrichment, hingga pembelajaran berbagai kemampuan yang diperlukan agar orang utan dapat hidup mandiri di habitat alaminya.

Dukungan juga diarahkan pada pemulihan habitat. Salah satunya dilakukan PHM melalui penanaman 400 pohon di lahan seluas satu hektare. Vegetasi yang ditanam antara lain Bengkirang, Balangeran, Shorea leprosula, dan Kapur.

Area tersebut selanjutnya akan dipelihara dan diamankan selama lima tahun untuk memastikan pertumbuhan vegetasi berlangsung optimal sekaligus mendukung proses pemulihan ekosistem.

Muharram mengatakan rehabilitasi orang utan membutuhkan waktu, konsistensi, serta kolaborasi berbagai pihak. Karena itu, dukungan perusahaan diarahkan tidak hanya untuk membantu pemulihan kondisi individu orang utan, tetapi juga memastikan tersedianya habitat yang mendukung ketika satwa tersebut siap kembali ke alam.

Manager Environment PHI Kemas Adrian mengatakan proses rehabilitasi orang utan dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan perkembangan masing-masing individu.

“Rehabilitasi orang utan tidak dapat dipisahkan dari upaya memulihkan dan menjaga habitatnya. Karena itu, dukungan kami tidak hanya berfokus pada kebutuhan individu selama proses rehabilitasi, tetapi juga pada penguatan ekosistem melalui pemulihan vegetasi dan pengelolaan habitat secara berkelanjutan,” katanya.

Read also:  Beralih dari Energi Fosil, Hashim Ungkap Strategi Indonesia Kembangkan PLTS, Nuklir hingga Biofuel

Menurut Kemas, orang utan harus melalui berbagai tahapan sebelum dinilai siap hidup mandiri di alam. Tahapan tersebut antara lain mengenali sumber pakan, mengeksplorasi lingkungan, memanjat pohon, hingga membangun sarang.

Di Samboja Lestari, misalnya, Anggoro, orang utan jantan berusia 11 tahun, terus mengembangkan kemampuan bertahan hidup melalui aktivitas di kompleks sosialisasi. Sementara di Nyaru Menteng, Bumi, orang utan jantan berusia 9 tahun, telah memasuki Pulau Pra-Pelepasliaran setelah sebelumnya menjalani pembelajaran di Sekolah Hutan.

Sejumlah orang utan lainnya juga menunjukkan perkembangan dalam proses rehabilitasi. Monita, orang utan betina berusia 7 tahun, semakin terampil mengeksplorasi pepohonan, mencari buah, dan membuat sarang. Ecky, orang utan betina berusia 10 tahun, telah mampu mengenali dan mengonsumsi sekitar 50 jenis pakan alami serta membuat sarang secara mandiri.

Sementara itu, Otan dan Feruza yang masing-masing berusia 5 tahun terus mengembangkan kemampuan memanjat, mengenali pakan alami, serta membangun sarang di Sekolah Hutan Samboja Lestari.

Kemas menilai pemulihan habitat menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan program konservasi. Ketika orang utan telah memiliki kemampuan untuk kembali ke alam, satwa tersebut membutuhkan lingkungan yang sehat, sumber pakan yang memadai, serta ruang hidup yang sesuai.

Read also:  RUU Pengendalian Perubahan Iklim Berkeadilan Dibawa ke COP31

“Ketika orang utan siap kembali ke habitat alaminya, lingkungan yang sehat dan mampu menyediakan sumber pakan serta ruang hidup menjadi bagian penting dari keberhasilan proses tersebut,” ujarnya.

Selain program konservasi orang utan, PHI juga menjalankan berbagai program pemulihan lingkungan di sekitar wilayah operasi. Dalam lima tahun terakhir, perusahaan telah melakukan penanaman lebih dari 600.000 pohon, termasuk pohon endemik Kalimantan dan pohon buah-buahan.

Penanaman tersebut ditujukan untuk mendukung konservasi flora dan fauna sekaligus berkontribusi terhadap upaya pengurangan emisi karbon.

Kemas mengatakan upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan lembaga konservasi, pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya.

“ Kami percaya pentingnya komitmen dan tindakan nyata bersama untuk memastikan kegiatan operasi hulu migas berjalan seiring dengan upaya menjaga lingkungan dan keberlanjutan ekosistem bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

Bagi PHI, pengelolaan risiko dan dampak lingkungan merupakan bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan. Langkah tersebut diharapkan dapat menjaga kelestarian ekosistem di wilayah operasi sekaligus mendukung keberlangsungan kegiatan hulu migas yang berperan dalam menjaga ketersediaan dan ketahanan energi nasional. *** Cepi Setiadi

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Hotspot Turun 1.019 Titik, Operasi Karhutla dan Perlindungan Satwa Terus Diperkuat

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun 1.019 titik dalam sehari menjadi 317 titik pada Sabtu (24/10/2026). Meski penurunan...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...

Kemenhut Tanggapi Kritik Greenpeace Soal Karhutla, Beberkan Operasi Pemadaman hingga Sanksi ke Perusahaan

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menanggapi kritik Greenpeace Indonesia dengan menegaskan bahwa anggapan pemerintah tidak bertindak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak...

Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih untuk Batam–Karimun–Bintan

Ecobiz.asia — Indonesia membutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 20 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pusat data. Pemerintah menyiapkan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai...

TOP STORIES

PT Timah Susun Peta Jalan Dekarbonisasi, Penggunaan PLTS dan EV Jadi Prioritas

Ecobiz.asia — PT Timah Tbk tengah menyusun peta jalan dekarbonisasi untuk mendukung target emisi nol bersih (net zero emission). Perusahaan menghadapi tantangan dalam mengganti...

Hotspot Turun 1.019 Titik, Operasi Karhutla dan Perlindungan Satwa Terus Diperkuat

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun 1.019 titik dalam sehari menjadi 317 titik pada Sabtu (24/10/2026). Meski penurunan...

PHE Andalkan Teknologi Geosains untuk Optimalkan Potensi Migas Nasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pemanfaatan teknologi geosains untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak dan...

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...