Agenda Jakarta Dorong Negara Global South Perkuat Hilirisasi Mineral Kritis

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Negara-negara Global South mendorong penguatan kerja sama untuk meningkatkan nilai tambah domestik dari mineral kritis sekaligus membangun industri hijau yang lebih berkelanjutan. Dorongan tersebut dituangkan dalam Agenda Jakarta yang dirumuskan melalui forum Critical Minerals & Green Industrialization for Shared Prosperity in the Global South di Jakarta, Kamis (13/8/2026).

Agenda tersebut menekankan perlunya negara-negara produsen mineral kritis di belahan bumi selatan membangun rantai nilai regional, memperkuat kapasitas industri, serta memastikan manfaat ekonomi dari pengelolaan sumber daya alam lebih banyak dinikmati di dalam negeri.

Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan negara-negara produsen di Global South perlu membangun kemitraan strategis agar pengolahan sumber daya alam tidak dilakukan secara terpisah.

“Indonesia siap menjadi mitra sepadan untuk membangun rantai nilai mineral kritis yang bernilai tambah, bertanggung jawab, serta menyejahterakan Global South,” kata Tri.

Read also:  Tak Hanya Proteksi dan Restorasi, BP-GMN Akan Sentuh Aspek Ekonomi Gambut dan Mangrove

Menurut Tri, pengalaman Indonesia dalam hilirisasi nikel dan tembaga dapat menjadi salah satu pembelajaran bagi negara produsen lain. Namun, pengembangan industri mineral kritis perlu dibarengi penerapan standar lingkungan, keselamatan kerja, serta keterlacakan produk.

Deputi Bidang Hilirisasi Investasi Strategis BKPM Heldy Satrya Putera mengatakan pengembangan mineral kritis perlu diarahkan pada pembentukan ekosistem industri terpadu yang menggabungkan kebijakan industri dengan prinsip hijau.

“Fokus utama kita bukan sekadar mengolah komoditas mentah, melainkan membangun ekosistem industri yang berdaya saing dengan memadukan kebijakan industri dan prinsip hijau,” ujar Heldy.

Kerja sama tersebut mencakup kemitraan investasi, kolaborasi teknologi, penyelarasan standar produksi, serta penguatan kapasitas manufaktur antarnegara di Asia, Afrika, Amerika Latin, dan Timur Tengah. Pendekatan ini diharapkan memperkuat posisi negara-negara Global South dalam rantai pasok mineral kritis global.

Read also:  Populasi Satwa Liar Global Turun 73%, Peluang Pemulihan Tumbuh di Indonesia

Direktur Eksekutif INDEF Esther Sri Astuti mengatakan meningkatnya permintaan mineral kritis memberikan peluang besar bagi negara-negara Global South yang memiliki cadangan sumber daya tersebut. Namun, negara produsen perlu menghindari posisi hanya sebagai pemasok bahan mentah bagi industri global.

“Mineral kritis harus jadi modal untuk membangun industri kita sendiri dan menciptakan pekerjaan yang layak bagi rakyat kita,” ujar Esther.

Agenda Jakarta dirumuskan melalui kerja sama INDEF Green Transition Initiative dan Yayasan Penabulu-Oxfam yang mempertemukan perwakilan negara dari Asia, Afrika hingga Amerika Latin untuk membahas arah pengembangan mineral kritis dan industrialisasi hijau.

Direktur Program Yayasan Penabulu Rini Devianti Nasution mengatakan Agenda Jakarta menetapkan lima prioritas, yakni penguatan rantai nilai domestik dan diversifikasi ekonomi, perubahan pola kemitraan menuju transformasi industri, penyelarasan kebijakan lintas sektor dan negara, penguatan akuntabilitas rantai nilai, serta peningkatan kapasitas industri melalui kerja sama Selatan-Selatan.

Read also:  APHI Dukung Prabowo Koreksi Regulasi Pembakaran Lahan

“Melalui Agenda Jakarta, suara negara-negara belahan selatan diperkuat untuk memperjuangkan tata kelola mineral kritis yang menempatkan transformasi industri, keberlanjutan, inklusivitas, dan kesejahteraan bersama sebagai inti dari transisi energi global,” kata Rini.

Agenda tersebut menempatkan keberlanjutan dan manfaat ekonomi domestik sebagai bagian penting dari pengembangan industri mineral kritis, sehingga hilirisasi tidak berhenti pada pengolahan bahan mentah, tetapi berlanjut pada pembangunan kapasitas manufaktur, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan posisi negara-negara Global South dalam rantai pasok global. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Lulus Diklat, 586 Polisi Kehutanan Langsung Terjun ke Tapak Dukung Pengendalian Karhutla

Ecobiz.asia — Sebanyak 586 personel Polisi Kehutanan (Polhut) menyelesaikan pendidikan dan pelatihan selama 60 hari dan disiapkan untuk memperkuat perlindungan hutan, penegakan hukum, serta...

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...

Bali Butuh Rp623,28 Triliun untuk Capai Emisi Nol Bersih 2045, Kesiapan Proyek Jadi Tantangan

Ecobiz.asia – Provinsi Bali membutuhkan investasi hijau sebesar Rp623,28 triliun hingga 2045 untuk mencapai target emisi nol bersih. Namun, keterbatasan fiskal daerah dan kesiapan...

Negosiasi INC on Plastic Pollution Alot, Indonesia Tak Tinggal Diam Tangani Sampah Plastik

Ecobiz.asia – Negosiasi perjanjian internasional untuk mengatasi polusi plastik, Intergovernmental Negotiating Committee (INC) on Plastic Pollution* masih menemui jalan buntu meski telah berlangsung sejak...

BPGMN Perkuat Pengelolaan Gambut dan Pemantauan Permukaan Air untuk Tekan Karhutla, 40 Cm Jadi Warning

Ecobiz.asia — Badan Pengelolaan Gambut dan Mangrove Nasional (BPGMN) akan memperkuat pengelolaan gambut melalui pemetaan risiko kebakaran, pemodelan kondisi kekeringan, dan pemantauan tinggi muka...

TOP STORIES

Lulus Diklat, 586 Polisi Kehutanan Langsung Terjun ke Tapak Dukung Pengendalian Karhutla

Ecobiz.asia — Sebanyak 586 personel Polisi Kehutanan (Polhut) menyelesaikan pendidikan dan pelatihan selama 60 hari dan disiapkan untuk memperkuat perlindungan hutan, penegakan hukum, serta...

Sukses Ubah Emisi Karbon Jadi Soda Ash Bernilai Ekonomi, Kemenperin Dorong Teknologi CCU

Ecobiz.asia – Kementerian Perindustrian mendorong perluasan penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) untuk menekan emisi sekaligus menghasilkan produk bernilai ekonomi dari pemanfaatan kembali...

Sang Hyang Seri dan Legasi Alam Kembangkan Biochar, Bidik Peluang Perdagangan Karbon

Ecobiz.asia – PT Sang Hyang Seri (Persero) menjajaki pengembangan teknologi biochar untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus membuka peluang perdagangan karbon melalui penyimpanan karbon jangka...

NHM-Perhapi Maluku Utara Perkuat Link and Match Pendidikan dan Industri Tambang

Ecobiz.asia – PT Nusa Halmahera Minerals (NHM) menggandeng Student Chapter Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia (PERHAPI) Provinsi Maluku Utara untuk memperkuat keterkaitan antara pendidikan tinggi...

Kronologi Gugurnya Empat Petugas Pemadam Karhutla di Bromo, Terjebak Api hingga Luka Bakar Berat

Ecobiz.asia — Empat petugas dan mitra pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meninggal dunia saat berupaya memadamkan kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger...