Ecobiz.asia – Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang, Fairatmos, dan Mandala Katalika (Manka) menandatangani perjanjian kerja sama untuk menjajaki pengembangan proyek blue carbon berbasis ekosistem mangrove seluas sekitar 24.000 hektare di Aceh Tamiang, Aceh.
Kerja sama tersebut mencakup fasilitasi, koordinasi, dan kajian awal pengembangan proyek karbon berbasis alam. Penandatanganan dilakukan di Jakarta pada 17 September 2026 oleh Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi, Founder & CEO Fairatmos Natalia Rialucky, dan Direktur Manka Juliarta Bramansa Ottay.
Kerja sama ini merupakan tindak lanjut nota kesepahaman yang telah ditandatangani ketiga pihak pada September 2025.
Dalam kerja sama tersebut, Pemkab Aceh Tamiang akan menyediakan data, memfasilitasi koordinasi dengan pemangku kepentingan, serta membangun komunikasi dengan pemerintah dan masyarakat di sekitar kawasan. Fairatmos bertanggung jawab atas pelaksanaan kajian, sedangkan Manka mendukung aspek tata kelola, penyusunan prospektus, dan penjajakan pendanaan.
Bupati Aceh Tamiang Armia Pahmi mengatakan kerja sama tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar kawasan mangrove.
“Kami berharap kerja sama ini membawa manfaat nyata bagi masyarakat Aceh Tamiang, terutama dari sisi ekonomi. Meski sempat menghadapi berbagai tantangan, kami tetap berkomitmen untuk menjajaki potensi ini bersama Fairatmos dan Manka,” ujar Armia dalam keterangan tertulis, Rabu (23/9/2026).
Founder & CEO Fairatmos Natalia Rialucky mengatakan pengembangan proyek karbon perlu memperhatikan aspek integritas sejak tahap awal, tidak hanya dari sisi potensi kredit karbon tetapi juga dampak terhadap masyarakat dan biodiversitas.
“Pembeli hari ini tidak hanya melihat besarnya sebuah proyek, tetapi juga dampak yang dibawanya bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya,” kata Natalia.
Menurut dia, kajian akan melihat potensi karbon sekaligus manfaat sosial dan biodiversitas kawasan mangrove Aceh Tamiang sebagai satu kesatuan lanskap.
Sementara itu, Direktur Manka Juliarta Bramansa Ottay mengatakan Manka akan mendukung penguatan aspek tata kelola, termasuk kejelasan hak atas karbon dan mobilisasi pendanaan untuk tahapan studi selanjutnya.
“Manka akan membantu memastikan kejelasan hak atas karbon serta menggalang pendanaan untuk tahapan studi berikutnya, sehingga potensi ini dapat dikembangkan di atas fondasi yang kuat,” ujarnya.
Lanskap mangrove yang menjadi objek penjajakan tersebar di empat kecamatan, yakni Seruway, Bendahara, Banda Mulia, dan Manyak Payed.
Dalam kerja sama tersebut, calon pembeli dan investor, termasuk dari luar negeri, juga dapat menjajaki peluang offtake dan investasi sejak tahap awal melalui AtmosFund, platform Fairatmos yang menghubungkan proyek iklim dengan sumber pendanaan internasional.
Indonesia sendiri memiliki sekitar 3,44 juta hektare mangrove berdasarkan Peta Mangrove Nasional 2024, atau sekitar 20% dari luas mangrove dunia. ***




