Kemenhut Perkuat Pemahaman CCPs untuk Bangun Pasar Karbon Berintegritas

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan memperkuat kapasitas pemangku kepentingan dalam memahami Core Carbon Principles (CCPs) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon Indonesia yang kredibel, transparan, dan berintegritas tinggi.

Penasihat Utama Menteri Kehutanan Edo Mahendra mengatakan besarnya potensi hutan dan aksi mitigasi Indonesia harus diikuti dengan tata kelola serta kapasitas yang mampu membangun kepercayaan pasar.

“Indonesia memiliki modal yang besar berupa hutan dan potensi aksi mitigasi. Namun, potensi tersebut baru akan bernilai apabila didukung integritas, tata kelola, dan kapasitas yang kuat. Sehingga yang sedang kita tuju adalah membangun ekosistem perdagangan karbon yang berkualitas dan berintegritas,” ujar Edo dalam Lokakarya Peningkatan Pemahaman Core Carbon Principles (CCPs) di Balikpapan, Kalimantan Timur, Selasa (1/9/2026).

Read also:  RBP dan Voluntary Carbon Market Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Kehutanan Indonesia

Lokakarya yang berlangsung pada 1–2 September 2026 tersebut diselenggarakan Balai Pengelolaan Hutan Lestari Wilayah XIII dan merupakan kegiatan pertama dari rangkaian lokakarya yang direncanakan Kementerian Kehutanan bersama Integrity Council for the Voluntary Carbon Market (ICVCM).

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 80 peserta dari pemerintah pusat dan daerah, pengelola dan pengembang proyek karbon, lembaga pendamping, serta pemangku kepentingan terkait.

Pembukaan lokakarya turut dihadiri Kepala Pusat Diklat SDM Kehutanan Tuti Herawati yang mewakili Kepala BP2SDM dan Director of Public Affairs ICVCM Lorna Ritchie.

Read also:  CIP dan Blueyou Kolaborasi Restorasi Mangrove dan Pengembangan Karbon Biru di Indonesia

Tuti mengatakan kegiatan tersebut merupakan implementasi nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Kementerian Kehutanan dan ICVCM pada November 2025. Kerja sama tersebut mencakup peningkatan kapasitas dan kesadaran pemangku kepentingan serta pengembangan kegiatan kolaboratif untuk mendukung pasar karbon sukarela yang berintegritas tinggi di Indonesia.

Dalam lokakarya tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai Core Carbon Principles, termasuk metodologi, pengukuran, pelaporan dan verifikasi (measurement, reporting and verification/MRV), pengelolaan risiko, serta prinsip-prinsip untuk memastikan kualitas dan integritas kredit karbon.

Bagi Indonesia, penguatan integritas pasar karbon dinilai strategis mengingat besarnya potensi sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya (FOLU) dalam mendukung aksi mitigasi perubahan iklim.

Read also:  Sepuluh Provinsi Baru Terima Dana Karbon GCF, Total Komitmen Capai Rp761 Miliar

Pasar karbon diharapkan tidak hanya menjadi instrumen ekonomi, tetapi juga mendorong pengelolaan hutan berkelanjutan, memperkuat pembiayaan aksi iklim, serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

Melalui lokakarya tersebut, Kementerian Kehutanan berharap kesiapan pemangku kepentingan dalam mengembangkan ekosistem pasar karbon semakin kuat, terutama dalam memenuhi prinsip kualitas, transparansi, akuntabilitas, dan integritas lingkungan.

Kementerian Kehutanan juga akan terus memperkuat sumber daya manusia, tata kelola, dan kolaborasi lintas sektor untuk memastikan potensi karbon Indonesia dikelola secara berkelanjutan dan mendukung pencapaian target iklim nasional. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut Perkuat Kompetensi SDM untuk Jaga Integritas Pasar Karbon

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon kehutanan yang berintegritas, menyusul penguatan...

Kemenhut Hitung Emisi Karbon Dampak Karhutla, Menhut: Kami Tekan di Bawah Benchmark 2015

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) akan menghitung emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 sebagai bagian dari...

Verra Setujui Polis Asuransi Artio untuk Kelola Risiko Reversal Kredit Karbon

Ecobiz.asia – Verra menyetujui penggunaan polis asuransi yang disediakan Artio dalam program Durability Pilot untuk memberikan pilihan pendekatan berbasis asuransi dalam mengelola risiko reversal...

BEI: Karhutla Berpotensi Tekan Ketersediaan Unit Karbon

Ecobiz.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi memengaruhi ketersediaan unit karbon yang dapat diperdagangkan di pasar karbon pada periode...

BEI Luncurkan IDX Green Equity Designation, Dorong Transparansi dan Pembiayaan Ekonomi Hijau

Ecobiz.asia – Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan IDX Green Equity Designation untuk memberikan penetapan khusus bagi saham perusahaan tercatat yang memenuhi kriteria aktivitas ekonomi...

TOP STORIES

Singapore, Laos Sign Carbon Credit Deal, Set Corresponding Adjustment Mechanism

Ecobiz.asia — Singapore and Laos have signed an implementation agreement to establish a legally binding framework for carbon credit collaboration under Article 6 of...

UNEP: World Set to Cross 1.5°C Warming, Return Below Threshold Still Possible

Ecobiz.asia — Global temperatures are likely to exceed the 1.5°C warming threshold within the next few years, increasing climate risks and impacts, but the...

PLN Nusantara Power Perluas Bisnis di Luar Pembangkitan, Raih Dua Penghargaan Marketing 2026

Ecobiz.asia -- Transformasi bisnis PT PLN Nusantara Power (PLN NP) dalam mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti pembangkitan mendapat pengakuan melalui dua...

Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Ecobiz.asia -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menindaklanjuti hasil...

TBS Receives Indonesia’s First Green Equity Transition Designation

Ecobiz.asia — PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) has become the first company to receive the Green Equity Transition designation from the Indonesia Stock...