Kemenhut Hitung Emisi Karbon Dampak Karhutla, Menhut: Kami Tekan di Bawah Benchmark 2015

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) akan menghitung emisi gas rumah kaca yang ditimbulkan dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sepanjang 2026 sebagai bagian dari evaluasi pencapaian target Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan penghitungan emisi karbon tersebut akan dilakukan dengan menggunakan data luasan karhutla dan membandingkannya dengan kondisi pada 2015, ketika Indonesia menghadapi fenomena El Nino dengan intensitas kuat.

“Kami akan tekan karhutla ini di bawah 2015, termasuk potensi emisi karbon. Berapa pun angkanya nanti, saya kira kita akan hitung dengan lebih baik dan akan transparan laporkan kepada teman-teman media,” kata Raja Juli, di Jakarta, Selasa (1/9/2026).

Read also:  Sepuluh Provinsi Baru Terima Dana Karbon GCF, Total Komitmen Capai Rp761 Miliar

Berdasarkan data Kemenhut, luas karhutla nasional pada Januari-Juli 2026 mencapai 202.004,3 hektare.

Dari luasan tersebut, sekitar 57 persen atau 115.896,5 hektare berada di kawasan hutan, sedangkan 43 persen atau 86.107,8 hektare berada di luar kawasan hutan atau areal penggunaan lain (APL).

Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2015 yang mencapai sekitar 600.000 hektare.

Read also:  Masuk Pasar Karbon Skema Jurisdictional REDD, Riau Tunggu Persetujuan Menteri Kehutanan

Raja Juli mengatakan angka tersebut akan menjadi salah satu basis dalam menghitung dampak emisi dari karhutla tahun ini.

Pemerintah juga akan menggunakan 2015 sebagai benchmark karena kondisi El Nino 2026 dinilai memiliki kemiripan dari sisi tingkat keparahannya.

“Saya belum bisa mengatakan kata pasti juga, tapi di internal kami, menetapkan benchmark dengan 2015, yang El Nino sekeras itu, levelnya segitu, maka kami akan tekan karhutla ini di bawah 2015, termasuk potensi emisi karbon,” ujarnya.

Read also:  Verra Setujui Polis Asuransi Artio untuk Kelola Risiko Reversal Kredit Karbon

Data Kemenhut selama Agustus 2026 menunjukkan hotspot high confidence masih terkonsentrasi di sejumlah provinsi prioritas.

Kalimantan Barat mencatat 6.910 hotspot, Kalimantan Tengah 4.815, Sumatera Selatan 1.489, Kalimantan Selatan 809, Riau 243, dan Jambi 213 titik.

Di Kalimantan Tengah, jumlah hotspot tertinggi tercatat pada 29 Agustus sebanyak 1.116 titik. Sementara di Kalimantan Barat, puncak hotspot juga terjadi pada 29 Agustus dengan 899 titik. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut Perkuat Kompetensi SDM untuk Jaga Integritas Pasar Karbon

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kompetensi sumber daya manusia (SDM) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon kehutanan yang berintegritas, menyusul penguatan...

Kemenhut Perkuat Pemahaman CCPs untuk Bangun Pasar Karbon Berintegritas

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan memperkuat kapasitas pemangku kepentingan dalam memahami Core Carbon Principles (CCPs) sebagai bagian dari upaya membangun pasar karbon Indonesia yang kredibel,...

Verra Setujui Polis Asuransi Artio untuk Kelola Risiko Reversal Kredit Karbon

Ecobiz.asia – Verra menyetujui penggunaan polis asuransi yang disediakan Artio dalam program Durability Pilot untuk memberikan pilihan pendekatan berbasis asuransi dalam mengelola risiko reversal...

BEI: Karhutla Berpotensi Tekan Ketersediaan Unit Karbon

Ecobiz.asia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia berpotensi memengaruhi ketersediaan unit karbon yang dapat diperdagangkan di pasar karbon pada periode...

BEI Luncurkan IDX Green Equity Designation, Dorong Transparansi dan Pembiayaan Ekonomi Hijau

Ecobiz.asia – Bursa Efek Indonesia (BEI) meluncurkan IDX Green Equity Designation untuk memberikan penetapan khusus bagi saham perusahaan tercatat yang memenuhi kriteria aktivitas ekonomi...

TOP STORIES

UNEP: World Set to Cross 1.5°C Warming, Return Below Threshold Still Possible

Ecobiz.asia — Global temperatures are likely to exceed the 1.5°C warming threshold within the next few years, increasing climate risks and impacts, but the...

PLN Nusantara Power Perluas Bisnis di Luar Pembangkitan, Raih Dua Penghargaan Marketing 2026

Ecobiz.asia -- Transformasi bisnis PT PLN Nusantara Power (PLN NP) dalam mencari sumber pertumbuhan baru di luar bisnis inti pembangkitan mendapat pengakuan melalui dua...

Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

Ecobiz.asia -- Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menindaklanjuti hasil...

TBS Receives Indonesia’s First Green Equity Transition Designation

Ecobiz.asia — PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) has become the first company to receive the Green Equity Transition designation from the Indonesia Stock...

Gelar City Gas Tour 2026, PGN Tunjukkan Efisiensi Gas Bumi dari Transportasi hingga Usaha

Ecobiz.asia — Pemanfaatan gas bumi sebagai bahan bakar kendaraan dan kegiatan usaha dinilai mampu menekan biaya energi. PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN), Subholding...