BP BUMN Arahkan Perhutani Kembangkan Bisnis Karbon, Incar Pendapatan Rp1-2 Triliun

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Badan Pengaturan BUMN (BP BUMN) mengarahkan Perum Perhutani mengembangkan perdagangan karbon sebagai sumber pendapatan baru sekaligus bagian dari transformasi bisnis perusahaan.

Dalam jangka menengah, pendapatan dari karbon diproyeksikan dapat mencapai Rp1-2 triliun secara bertahap.

Direktur Pengelolaan Perum BP BUMN Muhammad Khoerur Roziqin mengatakan perdagangan karbon memiliki potensi besar bagi Perhutani mengingat luas kawasan yang dikelola perusahaan. Pendapatan dari karbon nantinya diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap pendapatan dari penjualan kayu.

“Transformasi ke depan, diharapkan itu Perhutani bisa juga melakukan carbon trading,” kata Roziqin, Kamis (17/9/2026).

Menurut dia, target pendapatan Rp1-2 triliun dari perdagangan karbon masih merupakan hitungan awal. Perhutani perlu membangun bisnis tersebut secara bertahap, dengan penerimaan sekitar Rp100-200 miliar pada tahap awal sebagai sasaran pembelajaran.

Read also:  Indonesia Terus Kembangkan CCS, Teknologi Dinilai Jadi Jembatan Transisi Energi

Carbon trading ini ada potensi yang sangat besar untuk Perhutani bisa mendapatkan revenue,” ujarnya.

Roziqin mengatakan pendapatan karbon pada akhirnya dapat digunakan untuk membiayai operasional dan pemeliharaan hutan, termasuk penanaman kembali serta kebutuhan pengamanan hutan.

Perubahan sumber pendapatan tersebut, menurut dia, tidak berarti seluruh aktivitas penebangan dihentikan.

Penebangan tetap dapat dilakukan secara selektif terhadap pohon yang telah memasuki usia matang, sementara tekanan terhadap penebangan pohon yang lebih muda dapat dikurangi apabila pendapatan karbon telah memadai.

“Di titik tertentu kalau carbon trading-nya sudah sangat luas, pendapatan yang mungkin benar-benar Perhutani dapatkan dari carbon trading mencukupi untuk menggantikan pendapatan dari menebang pohon,” ujarnya.

Potensi Karbon 4,72 Juta Hektare

Perhutani dan anak-anak perusahaannya mengelola kawasan hutan dan nonhutan seluas sekitar 4,72 juta hektare. Dalam paparan BP BUMN, cadangan karbon kawasan tersebut disebut mencapai 390,85 juta ton karbon.

Read also:  CIP dan Blueyou Kolaborasi Restorasi Mangrove dan Pengembangan Karbon Biru di Indonesia

Namun, potensi tersebut belum serta-merta dapat dikonversi menjadi pendapatan perdagangan karbon. Perhutani masih melakukan penilaian aset, menghitung potensi tonase, menyiapkan proyek, serta mencari pasar yang dapat menyerap kredit karbon.

Direktur Operasional Perum Perhutani Wawan Triwibowo mengatakan perusahaan masih memastikan potensi karbon sekaligus pasar sebelum dapat menghitung nilai ekonominya.

Perhutani telah membentuk Project Management Office (PMO) Carbon setingkat BOD-1 atau kepala divisi untuk membangun bisnis karbon dan mengidentifikasi proyek yang berpotensi dikembangkan.

Sejumlah penjajakan proyek karbon juga telah dilakukan melalui anak usaha maupun kerja sama dengan perusahaan lain. Salah satunya dilakukan PT Inhutani I dengan Pertamina New Renewable Energy (PNRE) di sejumlah lokasi.

Read also:  BEI: Karhutla Berpotensi Tekan Ketersediaan Unit Karbon

Dalam paparan BP BUMN, kerja sama tersebut mencakup Semanu seluas 48.647 hektare, Sei Lubu 78.240 hektare, Sambarala 90.308 hektare, dan Kunyit Simendurut 95.092 hektare. Beberapa proyek masih dalam tahap finalisasi dokumen dan persetujuan.

Perhutani juga bekerja sama dengan United Tractors untuk proyek karbon seluas 423,13 hektare. Proyek yang telah berjalan sejak 2022 tersebut masih dalam proses validasi pencapaian dan memerlukan finalisasi perjanjian kerja sama untuk memenuhi ketentuan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK).

Pengembangan proyek karbon juga disiapkan melalui skema mandiri dan kemitraan, termasuk proyek berbasis masyarakat dan kerja sama dengan mitra korporasi.

Jenis proyek yang dipetakan meliputi afforestation, reforestation and revegetation (ARR), pengurangan emisi dari deforestasi dan degradasi hutan (REDD), agroforestri, pelestarian mangrove, serta pengelolaan lahan gambut. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

IDXCarbon Gratiskan Biaya Pendaftaran, Incar Lebih Banyak Pengguna Jasa Karbon

Ecobiz.asia – Bursa karbon Indonesia (IDXCarbon) menggratiskan biaya pendaftaran dan keanggotaan bagi perusahaan yang ingin menjadi Pengguna Jasa Bursa Karbon (PJBK). Kebijakan tersebut ditujukan...

Incar Blue Carbon, Lampung Perluas Cakupan Tim Koordinasi Inisiatif Karbon

Ecobiz.asia – Pemerintah Provinsi Lampung memperluas cakupan kerja Tim Koordinasi Inisiatif Karbon dari semula berfokus pada karbon hutan menjadi pengembangan ekosistem karbon daratan dan...

COP31 Jadi Momentum Indonesia Perkuat Peran dalam Diplomasi Iklim dan Biodiversitas

Ecobiz.asia — Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP31) yang akan berlangsung November nanti menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat perannya dalam tata kelola iklim global,...

Menteri LH Tegaskan Indonesia Bangun Biodiversity Credit Berbasis Tiga Prinsip Utama, Apa Saja?

Ecobiz.asia — Indonesia tengah mematangkan instrumen biodiversity credit sebagai skema pembiayaan konservasi dengan berpegang pada tiga prinsip utama, yakni integritas ilmiah, inklusi sosial, dan...

Verra Luncurkan Program Scope 3, Buka Jalur Sertifikasi Aksi Iklim Rantai Nilai

Ecobiz.asia – Verra meluncurkan Scope 3 Standard (S3S) Program, kerangka kerja untuk mengukur, memverifikasi, dan mensertifikasi hasil aksi iklim yang dilakukan dalam rantai nilai...

TOP STORIES

WWF-Indonesia, CPOPC Partner to Strengthen Sustainable Palm Oil Supply Chains

Ecobiz.asia – WWF-Indonesia and the Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) signed a memorandum of understanding (MoU) on Friday (Sept. 18, 2026) in...

EcoGuard, CONFED Launch Digital Carbon Platform for 3 Million Philippine Coconut Farmers

Ecobiz.asia – Swiss climate-tech company EcoGuard Global and the Confederation of Coconut Farmers Organizations (CONFED) of the Philippines have launched the CONFED Carbon Office,...

WWF-Indonesia dan CPOPC Jalin Kerja Sama Penguatan Transparansi Rantai Pasok Sawit Berkelanjutan

Ecobiz.asia - WWF-Indonesia dan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC) sepakat menjalin kemitraan strategis untuk memperkuat sistem komoditas berkelanjutan sekaligus meningkatkan pengakuannya di...

Pertamina dan Eni Perkuat Kolaborasi, Dari Teknologi Eksplorasi Migas hingga SAF Berbasis Minyak Nabati

Ecobiz.asia — PT Pertamina (Persero) dan perusahaan energi asal Italia, Ente Nazionale Idrocarburi (Eni), menjajaki penguatan kerja sama di sektor hulu dan hilir energi,...

Prabowo Instruksikan Persiapan BBM E50, Susul Penerapan B50

Ecobiz.asia — Presiden Prabowo Subianto menginstruksikan pemerintah segera menyiapkan langkah konkret untuk mengembangkan bahan bakar minyak (BBM) campuran bioetanol 50% atau E50 di Indonesia. Menteri...