KLH Gandeng ITB Bedah Lanskap Rawan Bencana Hidrometeorologi

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menggandeng Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk membedah lanskap kawasan rawan bencana hidrometeorologi, dengan fokus awal di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat.

Langkah ini ditempuh menyusul meningkatnya risiko banjir dan longsor di sejumlah daerah aliran sungai (DAS) prioritas nasional. Menteri Lingkungan Hidup/Kepala BPLH Hanif Faisol Nurofiq menginstruksikan penguatan pengawasan lingkungan serta kajian cepat berbasis sains sebagai upaya pencegahan bencana.

Kajian di Cisarua dilakukan melalui Rapid Environmental Assessment (REA) dengan melibatkan tim ahli ITB guna mengidentifikasi faktor pemicu kerusakan lanskap, termasuk perubahan tata ruang, tekanan aktivitas usaha, dan kerentanan wilayah hulu terhadap curah hujan ekstrem.

Read also:  ESDM Siapkan Regulasi Karbon Terintegrasi, Pengembang Jadi Pemilik Kredit Karbon

Deputi Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan KLH/BPLH, Rasio Ridho Sani, mengatakan kajian cepat tersebut menjadi dasar penting bagi perumusan kebijakan korektif, termasuk revisi Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) dan penataan ulang tata ruang di kawasan rawan bencana.

“Kami memastikan kajian lingkungan dilakukan secara cepat dan terukur untuk mencegah dampak bencana hidrometeorologi, sekaligus menjadi dasar perbaikan tata kelola wilayah,” kata Rasio di Bandung, Jumat (30/1/2026).

Read also:  Karhutla Capai 202 Ribu Hektare, 57 Persen di Kawasan Hutan

Selain pendekatan ilmiah, KLH/BPLH juga menyiapkan langkah penegakan hukum terhadap dugaan pelanggaran lingkungan yang berpotensi memperparah risiko longsor dan banjir. Tim pengawas dan penyidik lingkungan telah diterjunkan untuk mengumpulkan bahan keterangan dari lapangan.

Ahli hidrometeorologi ITB Imam Achmad Sadisun menyatakan kolaborasi dengan KLH/BPLH bertujuan memastikan analisis kerentanan wilayah dilakukan secara objektif dan berbasis data lintas disiplin.

“Kolaborasi ini diharapkan menghasilkan proyeksi yang akurat terkait risiko hidrometeorologi dan menjadi dasar pengambilan keputusan,” ujarnya.

Read also:  Kemenhut Sanksi 6 Perusahaan Terkait Kebekaran Hutan, Satu Izin Dibekukan

KLH/BPLH menyatakan pola kajian dan pengawasan ini tidak hanya diterapkan di Cisarua, tetapi akan diperluas ke sejumlah DAS prioritas lain di Pulau Jawa, seperti DAS Citarum, Ciliwung, Serayu, dan Kali Bekasi, serta DAS Ayung di Bali.

Pengawasan akan difokuskan pada aktivitas dan unit usaha di wilayah hulu DAS untuk memastikan kepatuhan terhadap daya dukung dan daya tampung lingkungan, sebagai bagian dari upaya nasional menekan risiko bencana hidrometeorologi di masa mendatang. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Pantauan Karhutla Kemenhut: Hotspot Kalteng dan Kalbar Turun Tajam, Sumsel Malah Naik

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional turun 400 titik menjadi 1.037 titik hingga Selasa (15/9/2026) malam....

B50 Sudah Mengalir di 94% SPBU, Pemerintah Kejar Deadline Transisi 1 Oktober

Ecobiz.asia — Implementasi biodiesel 50% atau B50 telah menjangkau 6.050 dari 6.412 SPBU di seluruh Indonesia atau sekitar 94%. Pemerintah kini mengejar penyelesaian transisi...

WWF Indonesia dan DIPI Dorong Transformasi Ritel untuk Perkuat Pangan Sehat dan Berkelanjutan

Ecobiz.asia — Transformasi sistem pangan di Indonesia perlu didorong dari hulu hingga hilir dengan melibatkan peritel sebagai penghubung utama antara produsen dan konsumen. Penguatan...

KKP Tetapkan 683.826,89 Ha Perairan di Maluku Tengah Jadi Kawasan Konservasi, Habitat Penting Hiu Martil

Ecobiz.asia — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menetapkan perairan Pulau Teon, Nila, dan Serua (TNS), Maluku Tengah, Maluku, seluas 683.826,89 hektare sebagai Kawasan Konservasi...

Kemenhut Blak-blakan Penegakan Hukum Karhutla, 31 Kasus Libatkan Perorangan hingga Korporasi

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengungkap penanganan 31 kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 10 provinsi dengan total areal terdampak mencapai 3.625 hektare....

TOP STORIES

Verra Launches Scope 3 Standard Program to Certify Value Chain Climate Action

Ecobiz.asia – Verra has launched its Scope 3 Standard (S3S) Program, a framework designed to quantify, verify and certify the climate outcomes of projects...

Pantauan Karhutla Kemenhut: Hotspot Kalteng dan Kalbar Turun Tajam, Sumsel Malah Naik

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional turun 400 titik menjadi 1.037 titik hingga Selasa (15/9/2026) malam....

B50 Sudah Mengalir di 94% SPBU, Pemerintah Kejar Deadline Transisi 1 Oktober

Ecobiz.asia — Implementasi biodiesel 50% atau B50 telah menjangkau 6.050 dari 6.412 SPBU di seluruh Indonesia atau sekitar 94%. Pemerintah kini mengejar penyelesaian transisi...

Trans Mall Group Resmikan PLTS Atap Terluas di Indonesia, Kolaborasi dengan Xurya

Ecobiz.asia — Trans Mall Group meresmikan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di 16 lokasi yang tersebar di 14 kota dan 11 provinsi...

WWF Indonesia dan DIPI Dorong Transformasi Ritel untuk Perkuat Pangan Sehat dan Berkelanjutan

Ecobiz.asia — Transformasi sistem pangan di Indonesia perlu didorong dari hulu hingga hilir dengan melibatkan peritel sebagai penghubung utama antara produsen dan konsumen. Penguatan...