Ecobiz.asia — Transformasi sistem pangan di Indonesia perlu didorong dari hulu hingga hilir dengan melibatkan peritel sebagai penghubung utama antara produsen dan konsumen. Penguatan peran ritel dinilai dapat memperluas akses masyarakat terhadap pangan sehat dan berkelanjutan sekaligus membuka ruang lebih besar bagi produk pangan lokal.
Direktur Eksekutif Dana Ilmu Pengetahuan Indonesia (DIPI) Prof. Jatna Supriatna mengatakan lembaganya telah melakukan berbagai kajian mengenai dampak sistem pangan yang tidak berkelanjutan di Indonesia. DIPI, kata dia, berupaya mengintegrasikan persoalan pangan dari hulu hingga hilir.
“DIPI berupaya untuk mengintegrasikan masalah pangan dari hulu ke hilir untuk mendorong pangan yang berkelanjutan,” kata Jatna dalam pemaparan hasil riset di Jakarta, Selasa (15/9/2026).
Business Engagement and Development Specialist WWF Indonesia Samuel Pablo Pareira mengatakan transformasi pangan tidak hanya berkaitan dengan penerapan pola hidup sehat, tetapi juga menjadi peluang untuk memperkuat keberadaan pangan lokal di sektor ritel.
Menurut Samuel, perubahan tersebut dapat dimulai dari segmen konsumen menengah ke atas sebelum diperluas ke kelompok masyarakat yang lebih luas. Dukungan regulasi pemerintah, baik di tingkat nasional maupun daerah, juga diperlukan untuk membangun ekosistem ritel yang mendukung pangan sehat dan berkelanjutan.
“Secara konkret, terdapat dua bentuk intervensi yang dapat diperkuat, yaitu regulasi dan kampanye publik,” ujar Samuel.
Hal tersebut menjadi bagian dari temuan studi “Retail Mapping Study: Identifying Gaps in Indonesian Retailers Based on WWF Planet-Based Diet Retailer Methodology” yang dilakukan WWF Indonesia bersama DIPI. Riset tersebut memetakan kondisi pasar, hambatan, serta peluang untuk mengintegrasikan konsep pola makan sehat, berkelanjutan, dan Planet-Based Diet ke dalam sektor ritel Indonesia.
Nia Sarinastiti, Research Advisor PuruPiru, lembaga yang melakukan riset tersebut mengatakan peritel memiliki posisi strategis karena menjadi penghubung antara produsen dan konsumen melalui penyediaan produk, penetapan harga, promosi, informasi kepada konsumen, serta strategi pemasaran.
“Namun, terdapat dilema dalam menerapkan keberlanjutan di sektor ritel. Hal ini karena peritel berada di antara tuntutan hilir dan kesiapan ekosistem hulu,” kata Nia.
Studi tersebut menemukan sejumlah peluang untuk mempercepat transformasi ritel. Di antaranya melalui penguatan regulasi dan insentif, peningkatan ketersediaan produk lokal dan produk bersertifikasi berkelanjutan, serta komunikasi kepada konsumen mengenai pola makan sehat dan berkelanjutan.
Penelitian dilakukan melalui analisis basis data Scopus periode 2016–2026, pemantauan 156 artikel media daring pada April 2025–Maret 2026, wawancara dengan enam peritel utama, serta diskusi kelompok terarah dengan empat peritel di Bandung.
Transformasi juga dinilai membutuhkan kolaborasi produsen atau petani, media dan platform, akademisi, peritel, serta pemerintah. Kolaborasi dapat dilakukan melalui penyusunan kampanye bersama dan penerjemahan konsep healthy and sustainable diets ke dalam istilah yang lebih mudah dipahami masyarakat. *** Jadita Banjar Nahor




