Pemerintah Siapkan Panduan ESG untuk Perkuat Daya Saing Industri Mineral Kritis

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian), bersama Dewan Ekonomi Nasional (DEN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia menindaklanjuti hasil studi kesenjangan regulasi ESG (Environment, Social, Governance) nasional dan internasional yang diluncurkan pada Juni 2026 lalu dengan mengadakan diskusi strategis bersama pelaku usaha mineral kritis dan kementerian terkait dalam penyusunan panduan ESG.

Dalam hasil analisis tersebut, pemetaan regulasi Indonesia terhadap tiga standar internasional, yaitu IRMA, The Copper Mark/ RMI , dan IFC Performance Standards, menunjukkan bahwa tingkat keselarasan regulasi ESG Indonesia berada pada kisaran 39–50%.

Kesenjangan yang ditemukan menunjukkan bahwa saat ini Indonesia sudah memiliki serangkaian peraturan yang berkaitan dengan ESG, namun terdapat fragmentasi dalam struktur regulasi, konsep hukum, dan otoritas yang berbeda-beda. Terdapat pula kesenjangan berupa persyaratan yang diminta oleh standar internasional terhadap regulasi nasional.

Penyusunan panduan ESG menggunakan pendekatan panduan kesetaraan (equivalency guidance) yaitu persyaratan yang diminta oleh standar internasional dicarikan kesetaraannya dengan regulasi nasional dan praktek-praktek baik dalam industri mineral kritis di Indonesia sehingga bisa diakui sebagai bukti kepatuhan yang setara dengan standar internasional.

Read also:  Konsumsi Energi Final Indonesia Diproyeksi Tumbuh 2,6% per Tahun hingga 2060

Dengan demikian, pelaku usaha yang telah mempunyai bukti kepatuhan karena memenuhi ketentuan regulasi di Indonesia dan/atau telah menerapkan praktek baik tidak perlu menjalani audit berulang yang memiliki persyaratan tumpang tindih atau bahkan saling bertentangan.

Proses pembuatan panduan ESG akan lebih banyak melibatkan pelaku industri dari sektor mineral kritis, melalui kajian, konsultasi dengan pemangku kepentingan, proses validasi dengan berbagai pemangku kepentingan, serta diseminasi yang berlangsung hingga 2027.

Agus Wibowo, Asisten Deputi Pengembangan Hilirisasi Industri Pertambangan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, menyampaikan bahwa panduan ESG sangat krusial sebagai pedoman pelaku usaha dalam memenuhi tingkat kepatuhan yang lebih baik terhadap standar ESG internasional, yang pada akhirnya meningkatkan daya saing produk industri pertambangan nasional.

Menurutnya penyusunan panduan ESG dapat bermanfaat baik bagi pelaku usaha maupun pemerintah. Bagi pelaku usaha, panduan ESG dapat digunakan untuk memenuhi persyaratan standar internasional meskipun belum diatur oleh pemerintah. Bagi Pemerintah, panduan ESG dapat digunakan untuk penyusunan peraturan baru dan penyesuaian substansi pada aturan yang telah ada supaya sesuai dengan standar internasional.

Read also:  Indonesia Luncurkan SOIFO 2026 di Markas FAO Roma: 95,5 Juta Hektare Hutan Jadi Modal Ketahanan Pangan dan Iklim

“Dalam penyusunan pedoman ini, Pemerintah berkolaborasi dengan dunia usaha, akademisi dan NGO, sehingga hasilnya akan lebih komprehensif, menggambarkan regulasi pemerintah, pandangan akademisi, praktik baik di lapangan, serta aspirasi masyarakat,” kata Agus dalam pernyataannya dikutip Senin (7/9).

Dari 1.200 izin usaha pertambangan dan 130 smelter yang beroperasi di Indonesia, baru sekitar 2% yang sudah dan sedang menjalankan Global ESG Assessments. Diharapkan setelah adanya pedoman ESG ini, lebih banyak lagi industri pertambangan yang memperoleh pengakuan dari lembaga internasional.

Sementara itu, Tubagus Nugraha, Direktur Eksekutif Bidang Sinkronisasi Kebijakan Program Prioritas Ekonomi, Dewan Ekonomi Nasional (DEN), menyebutkan Panduan ESG ini membantu rekan-rekan usaha yang ingin menggunakan ESG sebagai instrumen kepentingan usaha. Ini juga untuk kita semua dalam penyelenggaraan ESG dalam konteks global. “Analisis kesenjangan ESG di Indonesia menunjukkan perspektif bahwa industri dapat mengukur kepatuhan terhadap praktik domestik dan membandingkannya dengan standar internasional,” ujarnya.

Read also:  Pemerintah Didesak Segera Terbitkan Regulasi Safeguard AI dan Standar Data Center Hijau

Egi Suarga, Senior Manager for CEF Programme WRI Indonesia, turut menyimpulkan bahwa Proses konsultasi, validasi, dan verifikasi dalam penyusunan panduan ESG ini diharapkan menjadi langkah penting untuk memastikan bisnis yang berkelanjutan. “Komitmen dalam pengurangan emisi sejak Perjanjian Paris bergulir menjadi tonggak penting dalam upaya bersama untuk menciptakan transisi menuju pembangunan ekonomi hijau,” pungkasnya.

Dalam pertemuan ini, para pelaku industri menyoroti pilar lingkungan sebagai pilar yang telah memiliki rangkaian peraturan nasional yang relatif lebih lengkap, sedangkan pilar sosial cenderung berhenti pada pengaturan normatif dan masih minim yang sifatnya memberikan pedoman dalam implementasi. Penyusunan panduan ESG diharapkan dapat membantu mengatasi tantangan yang ada serta mengarusutamakan berbagai peraturan ESG di Indonesia. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Hotspot Turun 1.019 Titik, Operasi Karhutla dan Perlindungan Satwa Terus Diperkuat

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun 1.019 titik dalam sehari menjadi 317 titik pada Sabtu (24/10/2026). Meski penurunan...

IWC-11 Dorong Pembiayaan Inovatif untuk Perluas Solusi Pengelolaan Perairan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Pembiayaan inovatif dan keterlibatan masyarakat menjadi kunci untuk memperluas penerapan solusi pengelolaan perairan, mulai dari konservasi pesisir hingga penanganan sampah plastik. Isu...

Tak Tebang Pilih, Menhut Bekukan Izin Enam Perusahaan di Kalteng terkait Karhutla

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membekukan izin enam perusahaan yang terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah. Dengan penambahan tersebut,...

Kemenhut Tanggapi Kritik Greenpeace Soal Karhutla, Beberkan Operasi Pemadaman hingga Sanksi ke Perusahaan

Ecobiz.asia - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menanggapi kritik Greenpeace Indonesia dengan menegaskan bahwa anggapan pemerintah tidak bertindak dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak...

Pusat Data Butuh Tambahan 20 GW, Bahlil Siapkan Energi Bersih untuk Batam–Karimun–Bintan

Ecobiz.asia — Indonesia membutuhkan tambahan pasokan listrik sekitar 20 gigawatt (GW) untuk memenuhi kebutuhan pengembangan pusat data. Pemerintah menyiapkan Batam, Karimun, dan Bintan sebagai...

TOP STORIES

PT Timah Susun Peta Jalan Dekarbonisasi, Penggunaan PLTS dan EV Jadi Prioritas

Ecobiz.asia — PT Timah Tbk tengah menyusun peta jalan dekarbonisasi untuk mendukung target emisi nol bersih (net zero emission). Perusahaan menghadapi tantangan dalam mengganti...

Hotspot Turun 1.019 Titik, Operasi Karhutla dan Perlindungan Satwa Terus Diperkuat

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas (hotspot) dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia turun 1.019 titik dalam sehari menjadi 317 titik pada Sabtu (24/10/2026). Meski penurunan...

PHE Andalkan Teknologi Geosains untuk Optimalkan Potensi Migas Nasional

Ecobiz.asia — PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Subholding Upstream Pertamina, mendorong pemanfaatan teknologi geosains untuk meningkatkan keberhasilan eksplorasi dan mengoptimalkan produksi lapangan minyak dan...

Pertagas Kerahkan Tim Tanggap Darurat untuk Bantu Penanganan Karhutla di Sumsel

Ecobiz.asia -- PT Pertamina Gas (Pertagas), bagian dari Subholding Gas Pertamina, mengerahkan tim tanggap darurat dan mobil pemadam kebakaran untuk membantu penanganan kebakaran hutan...

Uni Eropa Sepakati Kenaikan Ambang Penghapusan Kuota Karbon, Jaga Stabilitas Pasar

Ecobiz.asia – Dewan Uni Eropa dan Parlemen Eropa mencapai kesepakatan sementara untuk menaikkan ambang penghapusan kuota emisi dalam Market Stability Reserve (MSR) dari 400...