KKP Jajaki Sinergi Industri untuk Pemetaan Ruang Karbon Biru

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) membuka peluang sinergi dengan pelaku industri untuk memetakan dan menetapkan ruang karbon biru di kawasan industri pesisir, sebagai bagian dari penguatan tata kelola dan pengembangan nilai ekonomi karbon sektor kelautan.

Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut KKP, Kartika, menegaskan bahwa kepastian ruang laut menjadi prasyarat utama keberhasilan program karbon biru nasional. Kepastian tersebut ditempuh melalui integrasi Rencana Tata Ruang Laut, penetapan lokasi cadangan karbon biru, serta percepatan perizinan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang Laut (KKPRL).

“Dalam tata kelola karbon biru, ruang laut yang jelas, terarah, dan terukur akan memberikan manfaat nyata bagi industri, masyarakat pesisir, serta ketahanan pesisir,” ujar Kartika dalam keterangan resmi, Selasa (24/2/2026).

Read also:  RI Undang Jepang Investasi Karbon Kehutanan, Skema JCM dan VCM

KKP menilai karbon biru tidak semata agenda lingkungan, melainkan instrumen pembangunan yang mengaitkan perlindungan ekosistem pesisir dengan nilai ekonomi. Karena itu, KKP menjajaki kerja sama lintas sektor, antara lain dengan Kementerian Perindustrian, Himpunan Kawasan Industri, Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN), serta pengelola kawasan industri, untuk memetakan alokasi ruang karbon biru dan skema pembiayaan ekonomi biru.

Langkah tersebut sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional. Kartika menekankan proyek karbon biru bersifat jangka panjang, dengan periode 30–40 tahun, sehingga harus layak secara ekologis sekaligus bankable dan menarik bagi investor.

Read also:  Permenhut 6/2026 Buka Peluang Masyarakat Terlibat Perdagangan Kredit Karbon Kehutanan

Sementara itu, Direktur Pembinaan Penataan Ruang Laut KKP, Amehr Hakim, menjelaskan bahwa pengembangan proyek karbon biru diarahkan mengikuti tahapan terstandar, mulai dari uji kelayakan awal (eligibility check), studi kelayakan, pengembangan dan implementasi proyek, hingga pemantauan dan evaluasi berbasis Sistem Informasi Penataan Ruang Laut dan Ocean Monitoring System.

Sebagai model awal integrasi karbon biru dengan kawasan industri pesisir, wilayah Batang dan Semarang di Jawa Tengah ditetapkan sebagai prioritas. Kawasan ini dinilai menghadapi tekanan abrasi, rob, dan degradasi pesisir, namun sekaligus menyimpan potensi besar bagi pengembangan proyek karbon biru berbasis rehabilitasi ekosistem dan penataan ruang.

Read also:  Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) Segera Diluncurkan, KLH Ajak Pengembang Proyek Ikut Uji Coba

Dalam skema tersebut, KKP berperan sebagai regulator dan penjamin standar, pemerintah daerah sebagai penjaga keselarasan RTRW dan perizinan lingkungan, kawasan industri sebagai penyedia lokasi rehabilitasi sekaligus calon pembeli kredit karbon, pengembang proyek sebagai pelaksana teknis dan penanggung jawab sertifikasi, serta masyarakat pesisir sebagai mitra konservasi dan penerima manfaat ekonomi.

Ke depan, KKP akan mempercepat penyusunan regulasi teknis karbon biru, merampungkan studi kelayakan di Jawa Tengah, menetapkan lokasi pilot project, serta menyiapkan skema kerja sama multipihak untuk mendorong realisasi proyek karbon biru di kawasan industri pesisir. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) Segera Diluncurkan, KLH Ajak Pengembang Proyek Ikut Uji Coba

Ecobiz.asia – Pemerintah segera meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai infrastruktur utama perdagangan karbon di Indonesia. Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan...

Siapkan Investasi Awal Rp420 M, Eco Power Nusantara Kembangkan Proyek Biochar hingga Kredit Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia — PT Eco Power Nusantara menyiapkan investasi awal sekitar US$25 juta atau setara Rp420 miliar untuk pengembangan proyek biochar dan kredit karbon berbasis...

Permenhut 6/2026 Buka Peluang Masyarakat Terlibat Perdagangan Kredit Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk terlibat dalam perdagangan karbon sektor kehutanan melalui penerbitan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut)...

Menhut Terbitkan Permenhut No 6 Tahun 2026, Atur Tata Cara Perdagangan Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia - Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni secara resmi menetapkan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 6 Tahun 2026 yang mengatur tata cara perdagangan karbon...

Dukung Capaian NDC, KLH/BPLH Jalin Kerja Sama dengan Hanns Seidel Foundation

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menandatangani Memorandum Saling Pengertian (MSP) dan arahan program dengan Hanns Seidel Foundation untuk periode 2026–2028...

TOP STORIES

Indonesia to Launch Carbon Registry System in July, Invites Developers for Trial Phase

Ecobiz.asia — Indonesia is set to launch its Carbon Unit Registry System (SRUK) in July 2026 as a key infrastructure to support the country’s...

Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) Segera Diluncurkan, KLH Ajak Pengembang Proyek Ikut Uji Coba

Ecobiz.asia – Pemerintah segera meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) sebagai infrastruktur utama perdagangan karbon di Indonesia. Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan...

Dapat Pendanaan Rendah Karbon, Venambak Eksekusi Proyek Tambak Udang Ramah Lingkungan di Sumbawa

Ecobiz.asia – PT Venambak Kail Dipantara mulai mengeksekusi proyek budidaya udang ramah lingkungan di Kabupaten Sumbawa setelah memperoleh pendanaan dari skema Low Carbon Development...

PIS–PGN Siapkan Ekosistem Maritim Energi Rendah Karbon, Dari LNG hingga Hidrogen

Ecobiz.asia — PT Pertamina International Shipping (PIS) dan PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) menjalin kerja sama untuk memperkuat sinergi dalam pengembangan ekosistem...

Siapkan Investasi Awal Rp420 M, Eco Power Nusantara Kembangkan Proyek Biochar hingga Kredit Karbon Kehutanan

Ecobiz.asia — PT Eco Power Nusantara menyiapkan investasi awal sekitar US$25 juta atau setara Rp420 miliar untuk pengembangan proyek biochar dan kredit karbon berbasis...