Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan menggelar pelatihan internasional pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di ekosistem gambut dengan melibatkan sejumlah mitra global, termasuk Asian Forest Cooperation Organization (AFoCO), IPB University, Korea Forest Service, Sekretariat ASEAN, serta Pemerintah Prancis.
Pelatihan bertajuk 2nd Training of Trainers (ToT) for Forest Fire Suppression in Peatland ini berlangsung selama 12 hari, mulai 13 hingga 24 April 2026, dengan lokasi pembelajaran di Bogor, Jawa Barat, serta praktik lapangan di Manggala Agni Daops Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan.
Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki mengatakan Indonesia memiliki komitmen kuat dalam perlindungan ekosistem gambut sebagai salah satu kawasan penting penyerap karbon.
“Lahan gambut Indonesia adalah ekosistem berharga sebagai penyerap karbon dan habitat keanekaragaman hayati,” ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Ia menjelaskan, strategi pengendalian karhutla Indonesia bertumpu pada tiga pilar utama, yakni analisis risiko iklim dan modifikasi cuaca, pengendalian operasional terpadu lintas sektor, serta pengelolaan lanskap yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.
Menurutnya, pelatihan ini menjadi kunci dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang penanganan kebakaran gambut.
“Keterampilan yang diperoleh, mulai dari analisis perilaku kebakaran gambut, pemanfaatan GIS, hingga teknik pemadaman lapangan, akan memberdayakan peserta menjadi agen perubahan di negara masing-masing,” kata Rohmat.
Pembukaan pelatihan pada 13 April 2026 di Jakarta turut dihadiri Duta Besar Republik Korea untuk Indonesia Yoon Soon-gu, Wakil Sekretaris Jenderal ASEAN untuk Komunitas Ekonomi ASEAN Satvinder Singh, serta perwakilan Pemerintah Prancis dan lembaga internasional lainnya.
Pelatihan ini diikuti 23 peserta dari enam negara, terdiri atas 10 peserta dari Indonesia, masing-masing tiga peserta dari Brunei Darussalam, Filipina, dan Timor Leste, serta masing-masing dua peserta dari Kamboja dan Malaysia.
Selain peningkatan kapasitas teknis, pelatihan ini juga ditujukan untuk memperkuat jejaring profesional lintas negara dalam penanganan karhutla, sekaligus mendorong pertukaran pengetahuan dan praktik terbaik di kawasan, khususnya pada ekosistem gambut. ***



