Kemenhut Dorong Perhutanan Sosial Berbasis Agroforestri untuk Swasembada Pangan

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan mendorong optimalisasi perhutanan sosial berbasis agroforestri sebagai salah satu instrumen utama mendukung swasembada pangan nasional, dengan tetap menjaga kelestarian hutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan hutan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR RI di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Ia menegaskan perhutanan sosial berperan strategis dalam mengintegrasikan produksi pangan, pengelolaan hutan berkelanjutan, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat.

“Dalam rangka mendukung swasembada pangan nasional, kami mendorong optimalisasi perhutanan sosial dengan pola agroforestri, yang mengombinasikan tanaman kehutanan dan pertanian,” ujar Rohmat.

Menurutnya, pola agroforestri memungkinkan peningkatan produksi pangan tanpa mengorbankan fungsi ekologis hutan, sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem.

Selain itu, Kementerian Kehutanan juga mendorong Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) dengan skema multiusaha kehutanan agar kawasan hutan tetap produktif dan bernilai ekonomi.

Read also:  Bappenas–CSES Perkuat Kerja Sama Industri Sawit Rendah Emisi dan Berkelanjutan

Skema lain yang dikembangkan adalah pemanfaatan kawasan hutan bertutupan lahan rendah melalui Kebijakan Kawasan Hutan untuk Ketahanan Pangan (KHKP), yang diarahkan sebagai solusi pemanfaatan hutan secara berkelanjutan.

Rohmat menyebutkan, perhutanan sosial telah ditetapkan sebagai Proyek Strategis Nasional dalam RPJMN 2025–2029 dengan target pengembangan sekitar 1,1 juta hektare di 36 provinsi, 324 kabupaten/kota, dan lebih dari 3.000 desa.

Selama sembilan tahun terakhir, Kementerian Kehutanan telah memberikan persetujuan perhutanan sosial seluas 8,3 juta hektare kepada kelompok tani hutan dan kelompok usaha perhutanan sosial, yang melibatkan sekitar 1,4 juta kepala keluarga di seluruh Indonesia.

Selain mendukung produksi pangan, pemerintah juga menyiapkan sekitar 390 ribu hektare lahan perhutanan sosial untuk pengembangan hilirisasi perkebunan berbasis masyarakat. Lahan tersebut akan dimanfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas, memperkuat rantai pasok, dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

Read also:  TFCCA Salurkan Hibah 35 Juta Dolar AS, Dorong Konservasi Terumbu Karang Berbasis Masyarakat

“Untuk tahap awal, kami telah menyandingkan data sekitar 390 ribu hektare yang akan dikembangkan untuk hilirisasi perhutanan sosial,” kata Rohmat.

Komoditas yang dikembangkan antara lain kopi, kakao, kelapa, aren, kemiri, lada, pala, jambu mete, vanili, dan kelapa. Kemenhut juga bersinergi dengan Kementerian Pertanian untuk hilirisasi enam komoditas utama, yakni kopi, kakao, kelapa, lada, pala, dan jambu mete.

Rohmat menegaskan kebijakan tersebut tidak mengubah peruntukan kawasan hutan. “Ini bukan pelepasan kawasan hutan, tetapi optimalisasi perhutanan sosial untuk kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Di sisi lain, sejumlah anggota Komisi IV DPR RI mengingatkan agar implementasi perhutanan sosial dilakukan secara hati-hati. Anggota Komisi IV Adianus Asia Sidot menilai pemilihan komoditas harus dikaji matang agar tidak memicu degradasi hutan.

Read also:  Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026, Rehabilitasi Mangrove Jadi Investasi Jangka Panjang

“Komoditas seperti kopi, kakao, lada, dan vanili berpotensi mendorong penebangan pohon jika tidak dikelola dengan baik. Ini harus dikaji agar perhutanan sosial tidak menjadi pintu masuk kerusakan hutan,” kata Adianus.

Ia menyarankan komoditas seperti kemiri, jambu mete, pala, dan kelapa yang dinilai lebih kompatibel dengan tegakan hutan.

Sementara itu, Anggota Komisi IV Rina Sa’adah mengapresiasi target pengembangan perhutanan sosial, namun menekankan pentingnya memastikan peningkatan pendapatan masyarakat. Menurutnya, perhutanan sosial harus diarahkan pada diversifikasi usaha, kepastian pasar, dan integrasi dengan rantai pasok nasional maupun global. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Peringatan Hari Lahan Basah Sedunia 2026, Rehabilitasi Mangrove Jadi Investasi Jangka Panjang

Ecobiz.asia — Rehabilitasi mangrove menjadi investasi jangka panjang untuk perlindungan wilayah pesisir sekaligus penguatan ekonomi masyarakat. Demikian ditegaskan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan pentingnya...

Pertemuan APEC-EGILAT, Indonesia Tegaskan Penguatan SVLK dan Penegakan Hukum untuk Berantas Pembalakan Liar

Ecobiz.asia — Indonesia menegaskan komitmen memperkuat tata kelola perdagangan produk kehutanan legal melalui optimalisasi Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (SVLK) dan penguatan penegakan hukum pada...

TFCCA Salurkan Hibah 35 Juta Dolar AS, Dorong Konservasi Terumbu Karang Berbasis Masyarakat

Ecobiz.asia — Program Tropical Forest and Coral Reef Conservation Act (TFCCA) Siklus Pertama resmi digulirkan secara nasional, menandai dimulainya pelaksanaan hibah konservasi terumbu karang...

Bappenas–CSES Perkuat Kerja Sama Industri Sawit Rendah Emisi dan Berkelanjutan

Ecobiz.asia – Kementerian PPN/Bappenas dan Chinese Society of Environmental Sciences (CSES) menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) kerja sama pengembangan industri kelapa sawit rendah emisi dan...

Bayi Panda Pertama Lahir di Indonesia, Jadi Bukti Kolaborasi Konservasi Indonesia–Tiongkok

Ecobiz.asia — Kelahiran bayi panda raksasa pertama di Indonesia menjadi penanda keberhasilan kerja sama konservasi dan diplomasi lingkungan antara Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok...

TOP STORIES

Indonesia Belajar dari India, Tekan Biaya Pembangkitan PLTS hingga 3 Sen Dolar per kWH

Ecobiz.asia — Pemerintah Indonesia mempelajari pengalaman India dalam menekan biaya pembangkitan listrik tenaga surya sebagai bagian dari upaya mempercepat transisi energi dan meningkatkan pemanfaatan...

Dorong Hilirisasi, Menteri Bahlil Mau Setop Ekspor Timah

Ecobiz.asia — Pemerintah membuka peluang penghentian ekspor timah mentah sebagai bagian dari penguatan agenda hilirisasi nasional guna mendorong transformasi ekonomi dan memperkuat basis industri...

Bekasi Darurat Sampah, Menteri LH Minta Warga Kelola Sampah Mulai dari Rumah

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup menyatakan Kota Bekasi berada dalam kondisi darurat sampah seiring timbulan limbah harian yang mencapai 1.801 ton. Perubahan perilaku masyarakat menjadi...

Internalisasi Dampak Iklim dan Nilai Ekonomi Karbon Jadi Kunci Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan

Ecobiz.asia — Internalisasi dampak perubahan iklim dan pemanfaatan nilai ekonomi karbon dinilai semakin mendesak bagi perusahaan, seiring perubahan struktural ekonomi dan meningkatnya tuntutan regulasi...

Dorong Pengembangan Ekonomi Karbon, Atkarbonist Gandeng Sucofindo dan DMB Global

Ecobiz.asia — Asosiasi Penggiat Karbon dan Bisnis Berkelanjutan atau Atkarbonist menjalin kerja sama dengan PT Sucofindo dan PT Daya Mitra Bersama (DMB) Global untuk...