Ecobiz.asia – Tekanan panas ekstrem akibat perubahan iklim menyebabkan pekerja sektor pertanian di Indonesia kehilangan rata-rata 595,1 jam kerja sepanjang 2024. Kondisi tersebut dinilai mengancam produktivitas pertanian dan berpotensi mengganggu rantai pasok pangan global.
Laporan Energy & Climate Intelligence Unit (ECIU) bertajuk Heat Stress & UK Food Imports mencatat jumlah jam kerja yang hilang per pekerja di Indonesia meningkat 21,8 persen dibanding 2022. Secara total, kehilangan jam kerja di sektor pertanian Indonesia mencapai 23,6 juta jam sepanjang 2024.
Indonesia menjadi salah satu dari 15 negara dengan tingkat kerentanan iklim tinggi yang secara kolektif memasok 11 persen impor pangan Inggris senilai 7,4 miliar poundsterling pada 2025.
Nilai impor pangan Inggris dari Indonesia tercatat mencapai 172 juta poundsterling atau setara 101 juta kilogram, meliputi kopi, minyak sawit, kelapa kering, hingga tuna cakalang.
Kepala Program Internasional ECIU, Gareth Redmond King, mengatakan perubahan iklim tidak hanya berdampak pada produksi pangan, tetapi juga terhadap keselamatan dan produktivitas pekerja sektor pertanian.
“Ancaman dari perubahan iklim semakin meningkat, berdampak pada tanaman pangan itu sendiri, tetapi juga pada para pekerja yang kita andalkan untuk memproduksinya,” ujar Gareth.
Menurut dia, suhu ekstrem yang terjadi di sejumlah negara telah membuat aktivitas kerja luar ruang menjadi berbahaya dan mengancam pasokan pangan global.
Indonesia sendiri menghadapi tekanan iklim yang semakin besar terhadap sektor pangan. Peningkatan suhu, perubahan pola curah hujan, dan deforestasi memicu banjir serta tanah longsor yang lebih sering terjadi sepanjang 2025.
Selain itu, kota-kota besar mengalami gelombang panas, sementara peningkatan suhu laut mengancam keberadaan terumbu karang dan ekosistem mangrove.
ECIU juga memperingatkan potensi El Niño pada 2026–2027 yang diperkirakan dapat meningkatkan risiko kekeringan, kebakaran hutan, dan gangguan musim tanam akibat perubahan pola muson.
Manager Outreach & Advocacy CERAH, Bondan Andriyanu, mengatakan dampak cuaca ekstrem tidak hanya dirasakan petani, tetapi juga masyarakat perkotaan melalui kenaikan harga pangan.
“Selain oleh petani yang kehilangan mata pencaharian saat panen, dampak dari cuaca ekstrem juga dirasakan oleh warga kota yang membeli produk turunannya, kopi dan sayur-mayur. Barang-barang tersebut menjadi mahal dan langka,” kata Bondan.
Secara global, sekitar 1,5 miliar orang atau 25,3 persen populasi usia kerja bekerja di luar ruangan pada 2024. Penelitian tersebut memperkirakan kehilangan jam kerja akibat paparan panas mencapai 640 miliar jam pada tahun yang sama, meningkat 98,1 persen dibanding rata-rata dekade 1990–1999.
Pekerja sektor pertanian menyumbang hampir dua pertiga dari total kehilangan jam kerja global akibat tekanan panas ekstrem.
Laporan itu merekomendasikan percepatan mitigasi perubahan iklim dan peningkatan perlindungan tenaga kerja sektor pertanian guna menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan dunia. ***



