Kemenhut–ICRAF Perbarui Kerja Sama, Dorong Implementasi Agroforestri

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kementerian Kehutanan Republik Indonesia memperbarui kerja sama strategis dengan International Centre for Research in Agroforestry untuk mendorong implementasi agroforestri dalam pengelolaan hutan dan lanskap berkelanjutan di Indonesia.

Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kehutanan Mahfudz dan Director General ICRAF Eliane Ubalijoro di Jakarta, Kamis (5/3/2026).

Kemitraan ini mencakup enam bidang utama, yakni pengembangan model agroforestri, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) dan restorasi lanskap, pengembangan skema pendanaan inovatif untuk agroforestri, pengembangan agroforestri pada Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK), digitalisasi serta pengelolaan pengetahuan, dan penguatan sosial-ekonomi masyarakat melalui program perhutanan sosial.

Read also:  Perkuat Daya Saing Kehutanan, Kemenhut Targetkan Seluruh PBPH Terapkan Multi Usaha Kehutanan

Mahfudz menegaskan agroforestri merupakan pendekatan teknis yang mampu menyeimbangkan fungsi ekologis dan ekonomi hutan secara bersamaan.

“Visi kami dalam Renstra 2025–2029 adalah menjadikan kawasan hutan sebagai entitas tapak yang mengalirkan manfaat ekologi, ekonomi, dan sosial. Hutan harus menjadi ruang hidup yang produktif dan lestari, bukan sekadar kawasan yang dilindungi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, sistem agroforestri yang mengintegrasikan tanaman kehutanan dengan tanaman pertanian dapat meningkatkan tutupan vegetasi, memperbaiki kesuburan tanah, serta berkontribusi pada peningkatan stok karbon nasional. Pendekatan ini juga dinilai relevan dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana hidrometeorologi.

Read also:  Perempuan Penggerak Ekonomi Restoratif, Akses dan Kepemimpinan Perlu Diperkuat

Kementerian Kehutanan berharap kerja sama tersebut segera ditindaklanjuti melalui program konkret di tingkat tapak, sekaligus memperkuat model bisnis kehutanan yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar kawasan hutan.

Sementara itu, Eliane Ubalijoro mengatakan praktik agroforestri sebenarnya telah lama berkembang di berbagai komunitas dunia, jauh sebelum istilah tersebut dikenal secara ilmiah pada 1970-an.

Ia mencontohkan sejumlah sistem agroforestri tradisional di Indonesia yang telah teruji secara turun-temurun, seperti Repong Damar, Tembawang, Mamar, Pelak, dan Parak.

Read also:  Kemenhut Pastikan Multiusaha Kehutanan Tak Tinggalkan Bisnis Kayu, Bidik Seluruh PBPH Bertransformasi

“Melalui MoU ini, ICRAF ingin mendukung visi Indonesia Emas 2045. Agroforestri dapat menjadi solusi penting pada persimpangan kebutuhan pangan, energi, dan air, sekaligus meningkatkan ketahanan lanskap menghadapi perubahan iklim,” kata Eliane.

Ia menambahkan pengembangan agroforestri juga dapat memperkuat pengelolaan sekitar 8 juta hektare kawasan hutan yang telah dikelola masyarakat, sekaligus mendorong perluasan hingga 12 juta hektare yang berpotensi memberi manfaat bagi sekitar 1,4 juta rumah tangga di Indonesia. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Kemenhut dan FSC Teken MoU, Sinergi Sertifikasi Hutan SVLK-FSC

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) dan Forest Stewardship Council (FSC) memperkuat kerja sama pengelolaan hutan berkelanjutan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU). Kemitraan ini...

Perempuan Penggerak Ekonomi Restoratif, Akses dan Kepemimpinan Perlu Diperkuat

Ecobiz.asia – Perempuan dinilai memegang peran sentral dalam membangun ekonomi restoratif, mulai dari menjaga hutan dan sumber air, memperkuat ketahanan pangan, hingga mengembangkan usaha...

Kemenhut Pastikan Multiusaha Kehutanan Tak Tinggalkan Bisnis Kayu, Bidik Seluruh PBPH Bertransformasi

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan menegaskan implementasi Multi Usaha Kehutanan (MUK) tidak berarti meninggalkan pemanfaatan kayu sebagai salah satu bisnis utama sektor kehutanan. Sebaliknya, pemerintah akan...

Perkuat Daya Saing Kehutanan, Kemenhut Targetkan Seluruh PBPH Terapkan Multi Usaha Kehutanan

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menargetkan seluruh pemegang Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) bertransformasi dari model bisnis tunggal menjadi multi usaha kehutanan (MUK) dalam...

Panas Ekstrem Akibat Perubahan Iklim, Pangkas Produktivitas Pekerja Pertanian Indonesia

Ecobiz.asia – Tekanan panas ekstrem akibat perubahan iklim menyebabkan pekerja sektor pertanian di Indonesia kehilangan rata-rata 595,1 jam kerja sepanjang 2024. Kondisi tersebut dinilai...

TOP STORIES

Indonesia Issues Presidential Directive to Protect Sumatran and Bornean Elephants

Ecobiz.asia — Indonesian President Prabowo Subianto has issued a presidential directive mandating a coordinated, cross-government effort to protect the populations and habitats of the...

Indonesia Becomes First Country to Implement Global Carbon Data Standard in National Registry

Ecobiz.asia — Indonesia has become the first country to implement the Climate Data Steering Committee (CDSC)'s Common Carbon Credit Data Model through its newly...

SRUK Resmi Meluncur, Indonesia Jadi yang Pertama Terapkan Standar Data Karbon CDSC

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia secara resmi meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) di Jakarta, Kamis (9/7/2026), yang sekaligus menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di...

ASEAN Strengthens Regional Readiness for El Niño and Transboundary Haze

Ecobiz.asia — ASEAN environment ministers have reaffirmed their commitment to strengthening regional preparedness against forest fires and transboundary haze as the region faces an...

SRUK: Tak Lagi Sekadar Trailer, Perang Karbon Indonesia Akhirnya Masuk Layar Lebar

Oleh: Gusti Hardiansyah (Guru Besar Universitas Tanjungpura, Ketua ICMI Orwil Kalbar) Ecobiz.asia - Pagi itu aroma kopi liberika dari lanskap rawa gambut asli Pontianak masih...