Kebijakan Kehutanan Masih Bertumpu pada Interpretasi Tunggal, Sederhanakan Keragaman Sejarah, Sosial, Budaya

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Guru Besar Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Ahmad Maryudi, menilai kebijakan kehutanan di Indonesia masih bertumpu pada interpretasi tunggal mengenai penguasaan hutan oleh negara. Pendekatan tersebut dinilai menyederhanakan keragaman sejarah, sosial, dan budaya yang menjadi karakteristik pengelolaan hutan di berbagai daerah.

Pandangan tersebut disampaikan Ahmad Maryudi dalam pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar bidang Kebijakan Kehutanan di Balai Senat UGM, Yogyakarta, Kamis (16/72026), dengan judul “Kebijakan Pengelolaan Hutan dalam Pusaran Politik Kepentingan.”

Menurut Maryudi, dominasi pendekatan tersebut berdampak pada lemahnya koherensi kebijakan kehutanan nasional. Meski berbagai instrumen konservasi terus berkembang, tekanan eksploitasi hutan, degradasi ekologi, dan konflik tenurial masih lebih dominan dibanding upaya membangun tata kelola hutan yang berkelanjutan.

Read also:  Menteri LH Siapkan Aturan PRO, Produsen Wajib Tanggung Biaya Pengelolaan Sampah Kemasan

“Lebih banyak instrumen kebijakan yang mengarah ke konservasi. Namun tingkat koherensinya masih lemah. Tekanan eksploitasi, cara pemanenan hasil hutan, degradasi ekologis, dan konflik tenurial masih lebih dominan dibanding upaya membangun tata kelola keberlanjutan,” ujarnya.

Maryudi menjelaskan perkembangan ilmu kebijakan kehutanan telah bergeser dari pendekatan science for policy yang menitikberatkan pada solusi teknokratis menuju science of policy, yang menempatkan dinamika politik dan kepentingan sebagai bagian penting dalam proses penyusunan kebijakan.

Menurutnya, kebijakan ideal memang harus disusun berdasarkan bukti ilmiah (evidence-based policy). Namun dalam praktiknya, keputusan publik tidak selalu mengikuti logika akademik karena dipengaruhi berbagai kepentingan politik dan sosial.

Read also:  Indonesia Serukan Penguatan Perdagangan Hasil Hutan Lestari di Forum Kehutanan APEC

Ia menilai perkembangan tersebut mendorong lahirnya pendekatan interdisipliner yang memadukan ilmu kehutanan dengan ilmu sosial, politik, hukum, kebijakan publik, hingga hubungan internasional. Dalam dua dekade terakhir, kajian mengenai aspek sosial-politik kehutanan berkembang pesat dan membentuk subdisiplin baru dalam ilmu kebijakan kehutanan.

Maryudi juga mengingatkan bahwa makna hutan tidak bersifat tunggal. Selain dipandang sebagai ekosistem penyangga kehidupan, hutan juga dimaknai sebagai ruang hidup masyarakat adat, sumber ekonomi, hingga instrumen mitigasi perubahan iklim. Keragaman perspektif tersebut, menurutnya, membuat kebijakan kehutanan tidak pernah berada dalam ruang yang sepenuhnya netral.

Read also:  Panas Bumi, SAF hingga CCS Masuk Agenda Percepatan Kerja Sama Energi Indonesia-Jepang

Mengutip pandangan ahli kebijakan kehutanan Max Krott, Maryudi mengatakan penyusunan kebijakan pada hakikatnya merupakan proses tawar-menawar berbagai kepentingan. Karena itu, karakter kebijakan kehutanan sangat ditentukan oleh interaksi para aktor yang terlibat.

Ia menilai akademisi juga memiliki tanggung jawab untuk memastikan hasil penelitian dapat memengaruhi proses pengambilan keputusan.

“Pengetahuan ilmiah harus diperjuangkan, diterjemahkan, dan diadvokasikan agar dapat dipahami oleh para pengambil keputusan,” katanya.

Pada kesempatan itu, Ketua Dewan Guru Besar UGM Baiquni menyampaikan Ahmad Maryudi merupakan guru besar aktif ke-543 di UGM dan guru besar aktif ke-19 di Fakultas Kehutanan. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Rancang Peta Arahan, Kemenhut Siapkan 5,67 Juta Hektare Kawasan Hutan untuk Perizinan Berusaha

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyiapkan alokasi sekitar 5,67 juta hektare kawasan hutan dalam Peta Arahan Pemanfaatan Hutan (PAPH) Tahun 2026 sebagai acuan penerbitan...

ClientEarth-CPI Indonesia Teken MoU, Percepat Transisi Energi Berkeadilan

Ecobiz.asia – ClientEarth dan Climate Policy Initiative (CPI) Indonesia menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk mempercepat implementasi energi terbarukan dan transisi energi berkeadilan di Indonesia. Kerja...

Menteri Jumhur Ajak Akademisi Wujudkan Kedaulatan Ekologis Jelang 81 Tahun Indonesia Merdeka

Ecobiz.asia – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat mengajak kalangan akademisi menjadikan kedaulatan ekologis sebagai fondasi baru pembangunan Indonesia...

Kemenhut Perkuat Diplomasi Publik, Siapkan SDM Hadapi Negosiasi Kehutanan Global

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang diplomasi publik dan negosiasi internasional guna mendukung kepemimpinan Indonesia dalam tata kelola...

Menteri LH Ungkap Minat Investasi Hijau di Indonesia Meningkat: Harus Dorong Kesejahteraan Masyarakat

Ecobiz.asia – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, menegaskan bahwa investasi hijau dan berbagai instrumen aksi iklim harus memberikan...

TOP STORIES

Masuk Pasar Karbon Skema Jurisdictional REDD, Riau Tunggu Persetujuan Menteri Keuangan

Ecobiz.asia – Pemerintah Provinsi Riau tinggal selangkah lagi memasuki pasar karbon internasional melalui skema Jurisdictional REDD+. Saat ini, pemerintah daerah menunggu penerbitan Letter of...

Türkiye, Ghana and Luxembourg Join The Coalition to Grow Carbon Markets

Ecobiz.asia – Türkiye, Ghana and Luxembourg have joined the Coalition to Grow Carbon Markets, bringing the number of participating governments to 14 and signaling...

Pertamina Exceeds First-Half 2026 Decarbonization Target by 118%

Ecobiz.asia - Indonesia's state-owned energy company PT Pertamina (Persero) exceeded its first-half 2026 decarbonization target by 118%, driven by emissions reduction initiatives across its...

OJK Develops Carbon Insurance to Unlock Financing for Indonesia’s Carbon Projects

Ecobiz.asia – Indonesia's Financial Services Authority (OJK) is developing carbon insurance and other sustainable finance instruments to strengthen the country's carbon market ecosystem and...

Pertamina Lampaui Target Dekarbonisasi, Emisi Karbon Turun 118% di Atas RKAP

Ecobiz.asia – PT Pertamina (Persero) melampaui target program dekarbonisasi yang ditetapkan dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026. Sepanjang semester I 2026, Pertamina...