Indonesia Terima Hampir 500 Juta Dolar AS Insentif Pengurangan Emisi, Dorong Target FOLU Net Sink 2030

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Indonesia telah menerima hampir 500 juta dolar AS dalam bentuk Result-Based Payment (RBP) sebagai insentif atas keberhasilan pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dari sektor kehutanan dan penggunaan lahan. 

Dana ini mendukung upaya Indonesia mencapai target Forest and Other Land Use (FOLU) Net Sink pada 2030.

“RBP merupakan insentif yang diberikan kepada negara yang telah terbukti menurunkan emisi dari kegiatan REDD+,” ujar pakar iklim dan kehutanan IPB Prof. Rizaldi Boer dalam diskusi FOLU Talks, di Jakarta, Rabu (12/6/2025).

Baca juga: Dari Kebijakan ke Aksi Nyata: Melihat Operasionalisasi FOLU Net Sink di Lapangan

Read also:  Verra Luncurkan Program Scope 3, Buka Jalur Sertifikasi Aksi Iklim Rantai Nilai

Kegiatan REDD+ (Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation) mencakup upaya pengurangan deforestasi dan degradasi hutan, konservasi, pengelolaan hutan berkelanjutan, serta peningkatan cadangan karbon melalui restorasi dan agroforestri.

Menurut Prof. Rizaldi, insentif ini penting karena menjadi pendorong (enhancer) aksi mitigasi. 

Pembayaran berbasis kinerja ini diatur dalam berbagai keputusan internasional, termasuk COP13 Bali dan Paris Agreement.

Dana RBP yang dikelola oleh Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) berasal dari berbagai sumber, seperti Green Climate Fund (104 juta dolar AS), Forest Carbon Partnership Facility (110 juta), dan kerja sama bilateral seperti Indonesia-Norwegia melalui skema Result-Based Contribution (216 juta).

Read also:  Pemda DIY dan WWF Perluas Kerja Sama, Pengadaan Hijau Pangkas Emisi 48%

“Dana ini sebagian telah disalurkan, antara lain untuk pengembangan sistem monitoring kehutanan nasional, restorasi lahan gambut, pelatihan pengendalian kebakaran, hingga penguatan kelembagaan,” kata Rizaldi.

Baca juga: Sekjen Kemenhut Sebut FOLU Net Sink Tulang Punggung Aksi Iklim Indonesia, Kontribusi hingga 60 Persen

FOLU Net Sink 2030 ditargetkan tercapai ketika serapan karbon sektor kehutanan dan lahan melebihi emisinya. REDD+ menjadi pilar penting karena terbukti efektif dalam menekan emisi serta meningkatkan cadangan karbon, termasuk melalui skema agroforestri.

Read also:  ESGIN dan ASPEBINDO Perkuat Ekosistem Perdagangan Karbon Indonesia

Pendanaan RBP dapat diakses oleh pemerintah daerah, kelompok masyarakat, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat hukum adat, dengan syarat proposal kegiatan harus teregistrasi di Sistem Registri Nasional (SRN) dan memperoleh rekomendasi dari kementerian terkait.

“RBP ini bukan sekadar penghargaan, tetapi menjadi pemicu untuk memperkuat kebijakan nasional, memperluas kegiatan hijau, serta mempercepat transisi menuju pengelolaan hutan yang lestari dan ekonomi berbasis rendah karbon,” pungkas Rizaldi. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Menteri LH Tegaskan Indonesia Bangun Biodiversity Credit Berbasis Tiga Prinsip Utama, Apa Saja?

Ecobiz.asia — Indonesia tengah mematangkan instrumen biodiversity credit sebagai skema pembiayaan konservasi dengan berpegang pada tiga prinsip utama, yakni integritas ilmiah, inklusi sosial, dan...

Verra Luncurkan Program Scope 3, Buka Jalur Sertifikasi Aksi Iklim Rantai Nilai

Ecobiz.asia – Verra meluncurkan Scope 3 Standard (S3S) Program, kerangka kerja untuk mengukur, memverifikasi, dan mensertifikasi hasil aksi iklim yang dilakukan dalam rantai nilai...

Susun Biennial Transparency Report, Indonesia Laporkan Capaian Pengurangan Emisi

Ecobiz.asia – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mulai menyusun Biennial Transparency Report (BTR) Kedua dan Ketiga untuk melaporkan perkembangan aksi iklim, termasuk...

Pemda DIY dan WWF Perluas Kerja Sama, Pengadaan Hijau Pangkas Emisi 48%

Ecobiz.asia – Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) dan WWF-Indonesia memperluas kerja sama pembangunan berkelanjutan, termasuk penguatan pengadaan barang dan jasa (PBJ) berkelanjutan...

Menteri LH: Pasar Karbon Harus Berbasis Aksi Nyata, Bukan Sekadar Transaksi

Ecobiz.asia – Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Moh Jumhur Hidayat menegaskan pasar karbon Indonesia harus dibangun berdasarkan aksi iklim yang terukur,...

TOP STORIES

Verra Launches Scope 3 Standard Program to Certify Value Chain Climate Action

Ecobiz.asia – Verra has launched its Scope 3 Standard (S3S) Program, a framework designed to quantify, verify and certify the climate outcomes of projects...

Pantauan Karhutla Kemenhut: Hotspot Kalteng dan Kalbar Turun Tajam, Sumsel Malah Naik

Ecobiz.asia — Jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional turun 400 titik menjadi 1.037 titik hingga Selasa (15/9/2026) malam....

B50 Sudah Mengalir di 94% SPBU, Pemerintah Kejar Deadline Transisi 1 Oktober

Ecobiz.asia — Implementasi biodiesel 50% atau B50 telah menjangkau 6.050 dari 6.412 SPBU di seluruh Indonesia atau sekitar 94%. Pemerintah kini mengejar penyelesaian transisi...

Trans Mall Group Resmikan PLTS Atap Terluas di Indonesia, Kolaborasi dengan Xurya

Ecobiz.asia — Trans Mall Group meresmikan instalasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di 16 lokasi yang tersebar di 14 kota dan 11 provinsi...

WWF Indonesia dan DIPI Dorong Transformasi Ritel untuk Perkuat Pangan Sehat dan Berkelanjutan

Ecobiz.asia — Transformasi sistem pangan di Indonesia perlu didorong dari hulu hingga hilir dengan melibatkan peritel sebagai penghubung utama antara produsen dan konsumen. Penguatan...