Indonesia Tekankan Penguatan Tata Kelola Pasar Karbon pada Global Carbon Summit Indonesia 2025

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmen memperkuat tata kelola pasar karbon nasional sekaligus membuka konektivitas dengan standar global dalam Global Carbon Summit Indonesia 2025 yang digelar di Jakarta, Rabu (26/11/2025).

Mewakili Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH), Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Ary Sudijanto menyampaikan pidato kunci yang menyoroti arah besar kebijakan karbon Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.

Dalam pidato yang dibacakan, Menteri Hanif Faisol Nurofiq menyatakan bahwa Indonesia terus memperkuat fondasi regulasi melalui terbitnya Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 sebagai kerangka hukum komprehensif untuk penyelenggaraan harga karbon. Regulasi tersebut dirancang untuk memastikan pasar karbon nasional berjalan transparan, terukur, akuntabel, serta mampu menarik pendanaan dari berbagai skema domestik maupun internasional.

Read also:  Pengembangan SRUK Capai 90%, Registri Karbon Bakal Terintegrasi dengan Pasar Global

“Perpres 110/2025 menjadi acuan utama bagi penguatan tata kelola, pemenuhan standar integritas, dan mobilisasi pendanaan dari mekanisme pasar karbon,” demikian pernyataan Menteri Hanif.

Pemerintah menekankan bahwa pembiayaan menjadi tantangan paling krusial dalam menjalankan aksi iklim. Keterbatasan kapasitas fiskal domestik serta belum optimalnya dukungan negara maju menuntut Indonesia memperluas kerja sama bilateral dan mendorong implementasi Artikel 6 Perjanjian Paris, termasuk melalui kolaborasi dengan Pemerintah Norwegia.

Kebutuhan pendanaan iklim Indonesia meningkat signifikan dari estimasi awal 247 miliar dolar AS (2018–2030) menjadi 472 miliar dolar AS untuk periode 2030–2035, sebagaimana tercantum dalam Second NDC.

Read also:  Fairatmos Soroti Tantangan Proyek Karbon Biru, Kembangkan Solusi Digital

Dalam pidatonya, Menteri Hanif tersebut juga menegaskan bahwa penguatan pasar karbon Indonesia tidak dapat berjalan sendiri. Pemerintah memperluas keterhubungan dengan standar internasional melalui Mutual Recognition Agreements (MRAs) dengan berbagai lembaga, termasuk Gold Standard, Plan Vivo, Global Carbon Council, Verra, serta Letter of Intent dengan Puro.earth.

Melalui kerja sama ini, proyek karbon dapat memenuhi regulasi nasional sekaligus mengadopsi standar integritas global, sehingga kredit yang dihasilkan diakui lebih luas oleh pasar internasional.

Pemerintah menyiapkan langkah lanjutan untuk memastikan kebijakan berjalan efektif, termasuk penguatan sistem Measurement, Reporting, Verification (MRV); memastikan manfaat ekonomi dirasakan masyarakat penjaga hutan; serta mendorong percepatan implementasi aturan turunan lintas sektor.

Read also:  Indonesia Uji Coba Model Data Karbon G20, Perkuat Transparansi Pasar

Menteri Hanif mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk memanfaatkan momentum Global Carbon Summit Indonesia 2025 sebagai ruang memperkuat kolaborasi pemerintah–swasta–komunitas.

“Tantangan kita bukan lagi komitmen, tetapi aksi dan eksekusi. Mari pastikan ekosistem karbon Indonesia tumbuh kredibel, berintegritas, dan berdaya saing global,” demikian pesannya.

Global Carbon Summit Indonesia 2025 diselenggarakan oleh Ecobiz Asia bekerja sama dengan Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI). Forum internasional itu dibuka oleh Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki bersama Deputi Pengendalian Perubahan Iklim dan Tata Kelola Nilai Ekonomi Karbon Ary Sudijanto ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Dukung Capaian NDC, KLH/BPLH Jalin Kerja Sama dengan Hanns Seidel Foundation

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) menandatangani Memorandum Saling Pengertian (MSP) dan arahan program dengan Hanns Seidel Foundation untuk periode 2026–2028...

RI Undang Jepang Investasi Karbon Kehutanan, Skema JCM dan VCM

Ecobiz.asia — Pemerintah Indonesia mengundang Jepang untuk berinvestasi dalam ekonomi karbon sektor kehutanan sebagai bagian dari penguatan solusi berbasis alam (nature-based solutions) dalam menghadapi...

Fairatmos Soroti Tantangan Proyek Karbon Biru, Kembangkan Solusi Digital

Ecobiz.asia – Pengembang proyek dan pemilik aset di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan dalam pengembangan proyek karbon biru, terutama pada tahap awal penilaian dan...

Pengembangan SRUK Capai 90%, Registri Karbon Bakal Terintegrasi dengan Pasar Global

Ecobiz.asia – Pengembangan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) telah mencapai sekitar 90% dan akan segera memasuki tahap uji coba. Pemerintah menekankan bahwa sistem ini...

KKP dan Fairatmos Kaji Potensi Proyek Percontohan Karbon Biru di Jawa Tengah

Ecobiz.asia – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bekerja sama dengan Fairatmos tengah mengkaji potensi pengembangan proyek percontohan karbon biru di Jawa Tengah, sebagai bagian...

TOP STORIES

PT Smart Tbk – Document & License Officer, DKI Jakarta

Job Description Summary : Assist user for all the Document and License matters Job Description : • Taking care of the licenses in the PSM • Dealing with...

PT Smart Tbk – IT Audit Specialist, DKI Jakarta

Job Description Summary: A managerial personnel within IT Audit team with responsibility in managing internal audit projects and team deployment. Hold important function in ensuring...

PT. Multi Daya Mitra – Digital Marketing Intern – Surabaya

We’re Hiring: Digital Marketing Intern (PAID INTERNSHIP) PT Multi Daya Mitra membuka kesempatan buat kamu yang kreatif, inovatif, dan punya passion di dunia digital untuk...

PT. Multi Daya Mitra – Digital Marketing Intern – Surabaya

We’re Hiring: Digital Marketing Intern (PAID INTERNSHIP) PT Multi Daya Mitra membuka kesempatan buat kamu yang kreatif, inovatif, dan punya passion di dunia digital untuk...

KLH/BPLH, Hanns Seidel Foundation Sign Partnership to Support Indonesia’s NDC Targets

Ecobiz.asia — Kementerian Lingkungan Hidup / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) has signed a Memorandum of Understanding (MoU) and program directive with Hanns Seidel...