Indonesia Beberkan Visi Asta Cita Prabowo di PBB: Hutan Jadi Senjata Lawan Kemiskinan dan Krisis Iklim

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola hutan berkelanjutan dengan menjadikan visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto sebagai landasan utama kebijakan kehutanan nasional. 

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari Kementerian Kehutanan, Laksmi Wijayanti, dalam sesi diskusi umum Forum Kehutanan PBB (United Nations Forum on Forests/UNFF) ke-20 di Markas Besar PBB, New York, Senin (6/5/2025) waktu setempat.

“Sejak Oktober 2024, arah pembangunan Indonesia dipandu oleh visi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto yang menekankan percepatan pengentasan kemiskinan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inklusif, dan berkelanjutan,” kata Dirjen Yanti dalam pidatonya.

Baca juga: Indonesia dan Norwegia Perkuat Kerja Sama Strategis Dukung Target FOLU Net Sink 2030

Sebagai bagian dari implementasi visi tersebut, Indonesia terus memperkuat kebijakan kehutanan untuk menjawab tantangan keberlanjutan. Di antaranya dengan mendorong pengelolaan hutan lestari yang mendukung ketahanan pangan dan energi, transisi dari pengelolaan berbasis kayu ke pendekatan berbasis ekosistem yang berpusat pada masyarakat melalui konsep multiusaha kehutanan, serta pencegahan kebakaran hutan dan kehilangan keanekaragaman hayati.

Read also:  Bentuk Tim Khusus dan Libatkan Dua Profesor, Kemenhut Dalami Dugaan Pidana Kebakaran Bromo

Dirjen Yanti  juga menekankan pentingnya rehabilitasi hutan dan lahan, penguatan perhutanan sosial, serta pengakuan terhadap hutan adat guna menyeimbangkan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan.

“Upaya ini menunjukkan komitmen jangka panjang Indonesia terhadap tata kelola hutan yang berkelanjutan, melalui reformasi kebijakan, penegakan hukum yang kuat, serta pelibatan pemangku kepentingan secara inklusif,” ujarnya.

Indonesia juga memandang tata kelola hutan berkelanjutan sebagai strategi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pengurangan kemiskinan, termasuk melalui promosi perdagangan internasional hasil hutan seperti kayu, bambu, dan rotan yang selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Upaya tersebut turut memperkuat pelaksanaan program Forestry and Other Land Use (FOLU) Net Sink 2030 sebagai peta jalan Indonesia menuju emisi nol bersih di sektor kehutanan dan tata guna lahan. Laksmi menyebut, keberhasilan program ini tercermin dari angka deforestasi terendah Indonesia dalam beberapa dekade terakhir pada periode 2021–2022.

Baca juga: BPDLH-BNI Kerja Sama Salurkan Dana Lingkungan Hidup Proyek FOLU Net Sink

Read also:  ESDM Siapkan Regulasi Karbon Terintegrasi, Pengembang Jadi Pemilik Kredit Karbon

“Manajemen hutan berkelanjutan yang didukung skema pembayaran berbasis hasil untuk pengurangan emisi, telah terbukti memberikan dampak nyata terhadap pencapaian Rencana Strategis PBB untuk Hutan 2017–2030,” tambahnya.

Dalam intervensi kedua yang disampaikan pada sesi lanjutan, Dirjen Yanti memaparkan kontribusi sukarela Indonesia melalui sejumlah program prioritas nasional. 

Antara lain pembentukan gugus tugas percepatan perhutanan sosial dan dan hutan adat. Hingga saat ini, Indonesia telah mengakui sekitar 332.500 hektare hutan adat serta mendistribusikan akses perhutanan sosial seluas 8,3 juta hektare kepada sekitar 11.000 kelompok tani hutan, mencakup hampir 1,4 juta rumah tangga.

Model pengelolaan hutan di Indonesia, lanjutnya, kini telah bertransformasi menjadi pendekatan berbasis bentang alam yang mengintegrasikan manfaat ekonomi, sosial, dan ekologi. Sistem perizinan kehutanan pun disederhanakan melalui skema Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH) yang mencakup berbagai komoditas dalam satu izin.

Dirjen Yanti juga menyoroti tentang adanya Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK) sebagai instrumen penting dalam mendukung pengelolaan hutan. 

“Indonesia juga telah menerbitkan lebih dari 2,2 juta dokumen melalui SVLK hingga tahun 2025 untuk mendukung ekspor produk kayu yang berkelanjutan,” kata dia. Selain itu, Indonesia menetapkan 29,5 juta hektare hutan lindung dan 22,1 juta hektare hutan konservasi, termasuk 57 taman nasional.

Read also:  Prabowo Dorong 'Ubi Bombing' untuk Perkuat Pemadaman Karhutla

Baca juga: Hutan Rakyat Simpan Karbon Tinggi, Potensial Jadi Solusi Mitigasi Perubahan Iklim

Untuk mendukung pembiayaan program kehutanan, Indonesia mengandalkan Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), termasuk peluncuran biodiversity window terbaru yang mengundang komunitas global untuk mendukung kegiatan berbasis keanekaragaman hayati.

“Perencanaan kehutanan nasional tetap sejalan dengan visi pemerintahan baru. Indonesia terus memperkuat tata kelola hutan melalui kebijakan baru, langkah korektif, dan penegakan hukum sebagai kontribusi terhadap Agenda 2030,” pungkas Dirjen Yanti.

Forum UNFF ke-20 meninjau kemajuan implementasi Rencana Strategis PBB untuk Hutan 2017–2030 (UNSPF), yang mencakup enam Tujuan Global Kehutanan (Global Forest Goals). Forum ini juga membahas kontribusi sukarela nasional, mekanisme pembiayaan, serta kolaborasi dengan mitra kunci dalam konteks Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) dan Perjanjian Paris. ****

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Hotspot Karhutla Turun 121 Titik, Chinook Jepang Siap Bantu Pemadaman

Ecobiz.asia – Jumlah hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional turun 121 titik dalam sehari menjadi...

Bentuk Tim Khusus dan Libatkan Dua Profesor, Kemenhut Dalami Dugaan Pidana Kebakaran Bromo

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendalami penyebab kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, termasuk kemungkinan adanya unsur pidana. Penelusuran diperkuat...

Hotspot Kalbar Turun Tajam hingga 71%, Kemenhut Terus Perkuat Pengendalian Karhutla

Ecobiz.asia – Hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat turun tajam dalam sehari, dari 134 menjadi 39 titik high confidence. Meski demikian,...

Kemenhut Upayakan Pemulangan Lima Bayi Orangutan dari India, Lakukan Cek DNA

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) berkoordinasi dengan otoritas India untuk memastikan penanganan dan mengupayakan pemulangan lima bayi orangutan yang ditemukan di kawasan hutan Distrik...

Pantauan Kemenhut: Kalsel Nihil Hotspot, Pengendalian Karhutla di Kalbar-Kalteng Diperkuat

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah setelah pemantauan terbaru menunjukkan kedua provinsi...

TOP STORIES

PTK Masuk Era Baru, Perkuat Green Vessel dan Terapkan AI

Ecobiz.asia — PT Pertamina Trans Kontinental (PTK) menyiapkan modernisasi armada, digitalisasi hingga penggunaan teknologi rendah emisi untuk meningkatkan kinerja operasional perusahaan. Langkah tersebut mencakup...

Hotspot Karhutla Turun 121 Titik, Chinook Jepang Siap Bantu Pemadaman

Ecobiz.asia – Jumlah hotspot kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional turun 121 titik dalam sehari menjadi...

Bentuk Tim Khusus dan Libatkan Dua Profesor, Kemenhut Dalami Dugaan Pidana Kebakaran Bromo

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mendalami penyebab kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), Jawa Timur, termasuk kemungkinan adanya unsur pidana. Penelusuran diperkuat...

PGE Borong 13 Penghargaan ENSIA 2026, Inovasi Panas Bumi Menyebar di 5 Wilayah

Ecobiz.asia — PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) memborong 13 penghargaan dalam Environmental and Social Innovation Awards (ENSIA) 2026 yang digelar PT Sucofindo (Persero)...

INALUM Raih Rating BBB- dari S&P, Perkuat Akses Pendanaan Hilirisasi

Ecobiz.asia — PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) atau INALUM memperoleh peringkat kredit internasional BBB- dengan outlook stabil dari S&P Global Ratings. Peringkat investment grade tersebut...