Pembangunan PLTA di Bendungan Eksisting Dikebut, Gunakan Skema KPBU

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia – Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU) Diana Kusumastuti bertemu dengan Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung di Kantor Kementerian PU, Senin (3/3/2025). 

Pertemuan ini membahas potensi Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU) dalam pengembangan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di bendungan eksisting.

Wamen Diana menekankan bahwa pembangunan bendungan harus dimanfaatkan secara optimal, termasuk sebagai sumber energi listrik. 

Baca juga: The International Hydropower Association (IHA) Luncurkan Outlook PLTA di Asia Tenggara, Potensi Besar Indonesia Terungkap

“Kami ingin bendungan berperan dalam mencapai swasembada energi sesuai dengan Asta Cita. Untuk itu, berbagai langkah perlu dilakukan agar pemanfaatan bendungan lebih maksimal. Saya berharap pertemuan ini dapat mempercepat upaya tersebut,” ujarnya.

Read also:  Menhut Raja Juli Kembali Cabut Izin Lima PBPH Terkait Karhutla, Sebut Perintah Prabowo

Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Pekerjaan Umum Rachman Arief Dienaputra menjelaskan bahwa saat ini ada tiga bendungan dalam proses KPBU, yaitu Bendungan Tiga Dihaji di Sumatera Selatan, Bendungan Bintang Bano di Nusa Tenggara Barat, dan Bendungan Leuwikeris di Jawa Barat. 

“Ketiga bendungan ini potensial untuk mendukung ketahanan energi. Bendungan Tiga Dihaji berpotensi menghasilkan listrik 40 MW, Bendungan Bintang Bano 6,3 MW, dan Bendungan Leuwikeris 7,4 MW,” katanya.

Dari 61 bendungan yang dibangun pada 2015–2024, terdapat 43 bendungan dengan potensi PLTA. Sebanyak 35 di antaranya telah masuk dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) dengan potensi listrik sebesar 250,51 MW, sementara delapan lainnya masih dalam proses kajian dengan potensi 7,65 MW.

Read also:  Pemerintah Dorong Penguatan Rantai Pasok EBT untuk Perkuat Kemandirian Energi

Dari 35 bendungan tersebut, terdapat 10 bendungan prioritas KPBU PLTA yakni Bendungan Bulango Ulu di Gorontalo, Bendungan Way Apu di Maluku, Bendungan Lau Simeme di Sumatera Utara, Bendungan Keureuto di Aceh, Bendungan Cipanas di Jawa Barat, Bendungan Pamukkulu di Sulawesi Selatan, Bendungan Batang Tongar di Sumatera Barat, Batang Batahan di Sumatera Utara, Bendungan Leuwikeris di Jawa Barat dan Bendungan Bener di Jawa Tengah.

Wamen ESDM Yuliot Tanjung menekankan pentingnya mengintegrasikan pembangunan bendungan dan PLTA dalam satu skema KPBU. 

Read also:  KPH Diarahkan Jadi “Konduktor” Pengelolaan Hutan di Tingkat Tapak

Baca juga: PLN Targetkan PLTA Jatigede 110 MW Beroperasi Akhir Tahun, Tingkatkan Pasokan Listrik EBT

“Jika skema KPBU dapat menggabungkan pembangunan bendungan dan PLTA dalam satu paket, prosesnya akan lebih efisien. Dengan skema satu paket baik untuk irigasi, air baku maupun PLTA perencanaan ekonomi bisa lebih matang sejak awal. Ketika ditawarkan dalam skema KPBU nilai keekonomiannya bagi pelaku usaha juga menjadi lebih menarik,” pungkas Wamen Yuliot.

KPBU PLTA ini diharapkan dapat berkontribusi pada swasembada energi dengan memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia. Skema ini juga memungkinkan percepatan pembangunan infrastruktur listrik secara efisien melalui keterlibatan pihak swasta. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Potensi Jadi Andalan Listrik Bersih Industri, Pengembangan Hidro dan Geotermal Hadapi Banyak Tantangan

Ecobiz.asia — Pembangkit listrik tenaga air (hidro) dan panas bumi (geotermal) dinilai dapat menjadi sumber listrik bersih yang stabil untuk memenuhi kebutuhan industri berintensitas...

Indonesia Tawarkan Energi Hijau untuk Tarik Investasi Data Center

Ecobiz.asia — Pemerintah menawarkan potensi energi baru terbarukan (EBT) Indonesia untuk menarik investasi pusat data (data center), seiring meningkatnya kebutuhan listrik industri digital. Potensi...

Bahlil Assures No Increase in Subsidized Fuel Prices through End-2026

Ecobiz.asia - Energy and Mineral Resources Minister Bahlil Lahadalia has assured that subsidized fuel prices will not increase through the end of 2026, in...

Pemerintah Kebut PLTS 100 GW, Investasi Dibutuhkan Capai US$73 Miliar

Ecobiz.asia — Pemerintah mempercepat pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun. Program tersebut diperkirakan membutuhkan...

Industri Tambang Kejar Ekspansi dan Hilirisasi, Kebutuhan Listrik Andal Ikut Melonjak

Ecobiz.asia — Kebutuhan energi industri pertambangan meningkat seiring ekspansi produksi dan hilirisasi, tetapi pelaku usaha menghadapi tantangan menjaga keandalan listrik sekaligus menekan emisi dari...

TOP STORIES

ESGIN Global Partners, Heritage Group Sign MOU for Cambodia Sustainable Agriculture, Carbon Projects

Ecobiz.asia -- PT ESGIN Global Partners (ESGIN) and Cambodia-based Heritage Group Co., Ltd. have signed a memorandum of understanding (MOU) to develop sustainable agriculture...

Renewables Account for 18.19% of Indonesia’s Electricity Generation in 2026

Ecobiz.asia – New and renewable energy (NRE) sources accounted for 18.19% of Indonesia’s total electricity generation in 2026, as the government continues to expand...

Potensi Jadi Andalan Listrik Bersih Industri, Pengembangan Hidro dan Geotermal Hadapi Banyak Tantangan

Ecobiz.asia — Pembangkit listrik tenaga air (hidro) dan panas bumi (geotermal) dinilai dapat menjadi sumber listrik bersih yang stabil untuk memenuhi kebutuhan industri berintensitas...

Potensi Bioenergi 80 Juta Ton, Baru 20 Juta Ton Dimanfaatkan

Ecobiz.asia — Indonesia baru memanfaatkan sekitar 20 juta ton dari lebih dari 80 juta ton potensi biomassa per tahun, sehingga masih terdapat sekitar 60...

300 Companies Mobilized to Fight Wildfires Threatening South Kalimantan’s Food, Energy and Water-Security Zone

Ecobiz.asia — The Indonesian government is mobilizing at least 300 companies and business units in South Kalimantan to conduct simultaneous operations to extinguish forest...