Laporan IEA: Indonesia Peringkat Kedua Emisi Metana Energi Fosil di Asia Selatan dan Tenggara

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Indonesia tercatat sebagai penghasil emisi metana dari sektor energi fosil terbesar kedua di kawasan Asia Selatan dan Asia Tenggara sepanjang 2025, dengan total emisi mencapai lebih dari 3 juta ton. Emisi tersebut didominasi dari aktivitas tambang batu bara, disusul sektor minyak dan gas bumi.

Temuan ini mengacu pada laporan Global Methane Tracker 2026 yang dirilis International Energy Agency. Secara global, sektor bahan bakar fosil menyumbang sekitar 35% emisi metana, dengan total mencapai 124 juta ton per tahun.

Dalam laporan tersebut, China menjadi penyumbang emisi metana energi fosil terbesar dunia dengan 25 juta ton, sementara Indonesia berada di peringkat kedelapan secara global. Namun, di tingkat regional Asia Selatan dan Asia Tenggara, Indonesia menempati posisi kedua setelah India.

Read also:  Danantara Jamin Kontrak Ekspor SDA Tetap Berjalan, Asal Tak Ada Under Invoicing

Kepala Ekonom Energi IEA, Tim Gould, mengatakan peningkatan ambisi global dalam pengurangan emisi metana perlu diikuti dengan implementasi kebijakan yang konkret.

“Penetapan target hanyalah langkah awal, yang terpenting adalah memastikan target tersebut didukung oleh kebijakan, rencana implementasi, dan tindakan nyata,” ujarnya, Selasa (5/5/2026).

Di kawasan ini, tambang batu bara menjadi kontributor utama emisi metana dengan porsi lebih dari 60% dari total 13 juta ton emisi pada 2025.

Read also:  Hari Lingkungan Hidup 2026, KLH Dorong Aksi Iklim Lewat Pemilahan Sampah

Senior Analis Iklim dan Energi EMBER Indonesia, Dody Setiawan, menilai pelaporan emisi metana tambang batu bara di Indonesia masih belum mencerminkan kondisi sebenarnya.

Menurutnya, intensitas emisi metana Indonesia tercatat 12,5 kali lebih tinggi dibandingkan faktor emisi yang saat ini digunakan pemerintah.

“Indonesia perlu mulai mengukur emisi tambang batu bara secara lebih akurat dan mengembangkan faktor emisi spesifik wilayah untuk meningkatkan akuntabilitas,” ujarnya.

Meski telah memiliki regulasi terkait emisi metana dan gas suar bakar (flaring), implementasinya dinilai masih menghadapi sejumlah kendala, mulai dari keterbatasan teknologi verifikasi hingga sistem pengumpulan data yang belum optimal.

Read also:  Plastic Smart Cities WWF Dorong Praktik Ekonomi Sirkular, Kurangi Polusi Plastik di Indonesia

Padahal, IEA mencatat sekitar 70% emisi metana dari sektor bahan bakar fosil dapat ditekan menggunakan teknologi yang sudah tersedia saat ini. Bahkan, lebih dari 35 juta ton emisi metana dapat dikurangi tanpa biaya tambahan, terutama di sektor minyak dan gas.

IEA menilai pengurangan emisi metana tidak hanya penting dari sisi mitigasi perubahan iklim, tetapi juga berpotensi meningkatkan keamanan energi melalui pemanfaatan kembali gas yang selama ini terbuang. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

DEN Dorong Indonesian Bioenergy Index untuk Percepat Pengembangan Bioenergi Nasional

Ecobiz.asia – Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong pembentukan Indonesian Bioenergy Index (IBI) sebagai acuan harga nasional bioenergi guna mempercepat pengembangan bioenergi dan mendukung target...

Kemenhut Siapkan Aturan Baru Pengenaan Sanksi Administratif, Buka Ruang Masukan Publik

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan tengah menyiapkan regulasi baru untuk memperkuat pengawasan dan penegakan hukum administratif di sektor kehutanan melalui penyusunan Peraturan Menteri Kehutanan tentang...

Minta PLN Segera Atasi Pemadaman Bergilir, Bahlil Singgung Manajemen Logistik Batu bara

Ecobiz.asia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta PT PLN (Persero) segera mengambil langkah mitigasi yang terukur dan komprehensif untuk...

Plastic Smart Cities WWF Dorong Praktik Ekonomi Sirkular, Kurangi Polusi Plastik di Indonesia

Ecobiz.asia – Program Plastic Smart Cities (PSC) yang dijalankan WWF-Indonesia dinilai berhasil memperkuat sistem pengelolaan sampah dan mendorong praktik ekonomi sirkular sebagai upaya mengurangi...

Cegah Karhutla, Pemerintah Percepat Pembangunan Sekat Kanal dan Perkuat Budaya Ekologis Gambut

Ecobiz.asia – Pemerintah memperkuat strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mempercepat pembangunan sekat kanal, menjaga tata kelola air gambut, serta membangun budaya...

TOP STORIES

DEN Dorong Indonesian Bioenergy Index untuk Percepat Pengembangan Bioenergi Nasional

Ecobiz.asia – Dewan Energi Nasional (DEN) mendorong pembentukan Indonesian Bioenergy Index (IBI) sebagai acuan harga nasional bioenergi guna mempercepat pengembangan bioenergi dan mendukung target...

Kemenhut Siapkan Aturan Baru Pengenaan Sanksi Administratif, Buka Ruang Masukan Publik

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan tengah menyiapkan regulasi baru untuk memperkuat pengawasan dan penegakan hukum administratif di sektor kehutanan melalui penyusunan Peraturan Menteri Kehutanan tentang...

Minta PLN Segera Atasi Pemadaman Bergilir, Bahlil Singgung Manajemen Logistik Batu bara

Ecobiz.asia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta PT PLN (Persero) segera mengambil langkah mitigasi yang terukur dan komprehensif untuk...

Agrinas Palma, South Korean Consortium Explore Green Energy Development from Palm Waste

Ecobiz.asia — Indonesia's state-owned plantation company PT Agrinas Palma Nusantara is exploring a partnership with a South Korean consortium to develop green energy and...

Indonesia, Malaysia and Thailand Advance Joint Environmental Agenda at IMT-GT Meeting

Ecobiz.asia — Indonesia, Malaysia and Thailand have reaffirmed their commitment to strengthening regional cooperation on climate resilience and environmental sustainability, with a renewed focus...