Kementerian PPN/Bappenas Luncurkan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Nasional 

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Kementerian PPN/Bappenas bersama WRI Indonesia secara resmi meluncurkan Peta Jalan Dekarbonisasi Industri Nikel Nasional. Peta jalan ini menargetkan pengurangan emisi karbon industri nikel sebesar 81% pada tahun 2045, sejalan dengan RPJPN 2025–2045 dan komitmen Indonesia untuk mencapai Net Zero Emissions (NZE) sebelum 2060. 

Untuk mencapai target tersebut, peta jalan merumuskan empat strategi utama: (1) Efisiensi Energi dan Material, melalui teknologi dalam pemanfaatan sisa panas, (2) Penggantian Bahan Bakar, dari batubara menjadi biofuel dan LNG, (3) Substitusi Material, melalui pembatasan kadar nikel dalam input bijih serta penggunaan reduktor berbasis biomassa, dan (4) Penggunaan Listrik Rendah Karbon, melalui peralihan ke listrik yang bersumber dari energi terbarukan. 

Baca juga: RI Mantap Dekarbonisasi Listrik, Penggunaan Batubara Jadi Tantangan

Peta jalan ini juga memberikan rekomendasi kebijakan untuk membangun ekosistem yang mendukung implementasi strategi dekarbonisasi. Transisi menuju industri rendah karbon masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti keterbatasan infrastruktur energi, tingginya biaya energi dan material rendah karbon, serta ketidakpastian kebijakan.

Untuk mendukung transisi di sektor pembangkit, peta jalan merekomendasikan pembangunan 47,3 GW pembangkit energi terbarukan (PLTA, PLTB, dan PLTS) disertai ekspansi jaringan transmisi menuju kawasan industri nikel hingga tahun 2045. 

Read also:  Menhut Terbitkan Permenhut No 6 Tahun 2026, Atur Tata Cara Perdagangan Karbon Kehutanan

Khusus di Provinsi Maluku Utara, yang memiliki keterbatasan potensi EBT, direkomendasikan penambahan 5,1 GW pembangkit berbasis hidrogen hijau. Selain itu, penyediaan infrastruktur distribusi LNG dan biomassa juga diperlukan untuk mendukung dekarbonisasi proses di smelter.

Untuk mengatasi tantangan harga, peta jalan mendorong penerapan kebijakan harga khusus bagi energi rendah karbon agar dapat bersaing dengan batu bara. Terakhir, untuk memperkuat landasan regulasi, peta jalan merekomendasikan adanya standar nikel hijau indonesia yang mengatur tingkat penggunaan energi bersih dan emisi GRK pada proses produksi nikel.

Leonardo A.A.T Sambodo, Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, menyatakan strategi penggunaan listrik rendah karbon menjadi prioritas, mengingat sumber emisi terbesar di industri nikel berasal dari PLTU captive.

Dengan memanfaatkan potensi energi terbarukan yang ada di wilayah penghasil dan pengolahan nikel, industri dapat memanfaatkan energi yang bersumber dari surya, angin, air, biomassa serta hidrogen hijau untuk mengurangi ketergantungan pada batu bara.

“Kami berharap, implementasi dekarbonisasi industri nikel tidak hanya dapat mengurangi dampak negatif produksi nikel ke lingkungan sekitar namun juga mampu meningkatkan daya saing dan penerimaan produk nikel nasional di ragam pasar serta menjadi motor pertumbuhan ekonomi Indonesia yang rendah karbon,” kata Leonardo saat meresmikan acara peluncuran peta jalan dekarbonisasi tersebut di Jakarta, Kamis (12/6). 

Read also:  Siapkan Investasi Awal Rp420 M, Eco Power Nusantara Kembangkan Proyek Biochar hingga Kredit Karbon Kehutanan

Sementara itu Egi Suarga, Senior Manager for Climate WRI Indonesia pada kesempatan yang sama menambahkan bahwa dekarbonisasi industri nikel adalah langkah awal dalam proses transformasi tatakelola untuk memanfaatkan potensi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar di dunia.

“Sehingga Indonesia dapat menjadi pemimpin global dalam menghasilkan nikel yang rendah karbon dan bertanggungjawab,” kata Egi.

Disebutkan, kerja sama penyusunan peta jalan ini dilaksanakan sejak awal tahun 2024 lalu dan telah melibatkan lebih dari 30 perusahaan pertambangan dan smelter nikel dari berbagai daerah di Sulawesi dan Maluku Utara, Kementerian dan Lembaga, Pemerintah Daerah serta Perguruan Tinggi.

Dengan 60% produksi nikel dunia berasal dari Indonesia, strategi pengolahan biji nikel di dalam negeri yang berkelanjutan dan rendah karbon dapat menjawab peluang dan ancaman dalam tata kelola hilirisasi nikel yang berkeadilan dan sejalan dengan visi pemerintah Indonesia. Dengan target pertumbuhan ekonomi 8%, peta jalan dekarbonisasi industri nikel akan memberikan arah strategis pembangunan industri nikel yang rendah karbon dan berdaya saing tinggi.

Read also:  Permenhut 6/2026 Buka Peluang Masyarakat Terlibat Perdagangan Kredit Karbon Kehutanan

Baca juga: Gas Alam Didorong Jadi Pilar Transisi Energi dan Dekarbonisasi Global

Pembangunan rendah karbon berprinsip pada pendekatan pembangunan yang mempertimbangkan ulang perencanaan pembangunan dengan target emisi yang lebih rendah. Pada 2023, industri nikel di Indonesia berkontribusi terhadap 22% dari emisi sektor energi dan Industrial Process and Product Use (IPPU) nasional.

Penggunaan pembangkit listrik berbasis fosil dan teknologi ekstraksi nikel di Indonesia yang cenderung menghasilkan emisi yang tinggi menyebabkan pemroresan nikel di Indonesia menghasilkan emisi GRK sekitar 7 hingga 10 kali lebih tinggi untuk setiap ton logam nikel murni yang diproduksi. 

“Lewat analisa dari WRI Indonesia, dengan adanya peningkatan pengolahan biji nikel dalam negeri dan permintaan global, maka emisi karbon dari industri nikel bisa mencapai 86% lebih tinggi pada tahun 2045. Untuk itu, kita perlu membangun praktik berkelanjutan melalui dekarbonisasi proses produksi dan rantai pasok industri nikel,” tandas Egi. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Pasca Permenhut 6/2026, Kemenhut Bidik Penjualan Karbon Stok Kaltim dan Pipeline Proyek

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membidik penjualan kredit karbon dari stok penurunan emisi di Kalimantan Timur serta sejumlah pipeline project kehutanan, menyusul terbitnya Permenhut...

Kemenhut Sosialisasikan Permenhut 6/2026, Aturan Perdagangan Karbon Libatkan Masyarakat Secara Langsung

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mensosialisasikan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon Sektor Kehutanan di Gedung Manggala...

OJK Revisi Aturan Perdagangan Karbon, Target Rampung Juni 2026

Ecobiz.asia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan revisi regulasi perdagangan karbon sekaligus mengembangkan sistem registri pendukung guna memperkuat kerangka pasar karbon nasional. Ketua Dewan...

Indonesia Siapkan Implementasi Nesting Karbon Kehutanan, Riau Jadi Percontohan

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia menyiapkan operasionalisasi kerangka kerja nesting karbon kehutanan guna mendorong transaksi berintegritas tinggi dan menarik investasi global. Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari...

Pertamina NRE Sediakan Kredit Karbon, Dukung Kampanye IDXCarbon “Aku Net-Zero Hero”

Ecobiz.asia — PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menyediakan kredit karbon untuk mendukung kampanye “Aku Net-Zero Hero” yang diluncurkan bersama IDXCarbon, PT...

TOP STORIES

Asia Pacific Ports Advance Cross-Sector Hydrogen and E-Fuel Development

Ecobiz.asia — Ports across the Asia Pacific are accelerating efforts to develop hydrogen and e-fuel ecosystems through cross-sector collaboration, positioning the region as a...

Two Sumatran Elephants Found Dead in Bengkulu, Investigation Underway

Ecobiz.asia — Two Sumatran elephants have been found dead in Mukomuko Regency, Bengkulu Province, prompting an investigation by Indonesia’s Ministry of Forestry to determine...

Induk dan Anak Gajah Sumatra Ditemukan Mati di Bengkulu, Kemenhut Lakukan Investigasi

Ecobiz.asia — Dua individu Gajah Sumatra ditemukan mati di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan kasus tersebut tengah dalam proses investigasi untuk...

Vale Perkuat Kinerja ESG 2025, Investasi Lingkungan Naik 54,3%

Ecobiz.asia — PT Vale Indonesia Tbk memperkuat kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) sepanjang 2025 dengan peningkatan signifikan investasi lingkungan...

PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya Gandeng Xurya Resmikan PLTS Atap Terbesar di Indonesia Berkapasitas 22,5 MW

Ecobiz.asia -- Kebutuhan energi yang besar dan berkelanjutan di sektor industri mendorong semakin banyak pelaku manufaktur mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ke dalam...