APP Group Bersiap Masuk ke Pasar Karbon Kehutanan, Gandeng Fairatmos

MORE ARTICLES

Ecobiz.asia — Raksasa pulp dan kertas APP Group menyiapkan sejumlah proyek di konsesi kehutanan untuk masuk ke pasar karbon sukarela. Langkah ini ditempuh guna memperkuat pendanaan konservasi sekaligus memberikan insentif bagi masyarakat yang terlibat.

Sebagai mitra strategis, APP menggandeng Fairatmos, perusahaan pengembang proyek karbon yang tengah berkembang pesat di Indonesia.

“Ada beberapa proyek di pipeline yang sedang kami persiapkan bersama Fairatmos,” kata Chief Sustainability Officer APP Group Elim Sritaba di sela peluncuran platform keberlanjutan Regenesis di Jakarta, Rabu (10/9/2025).

Elim belum menyebutkan lokasi proyek dan skema sertifikasi karbon yang akan dipilih. Menurutnya, APP juga masih mempertimbangkan standar sukarela yang sesuai dengan kebijakan pemerintah.

Read also:  Kemenhut Sosialisasikan Permenhut 6/2026, Aturan Perdagangan Karbon Libatkan Masyarakat Secara Langsung

“Belum, kami belum putuskan apakah akan menggunakan Verra, REDD+ atau yang lainnya,” ujarnya.

Ia menegaskan tujuan utama keterlibatan di pasar karbon adalah mendukung konservasi dan dekarbonisasi. “Pasar karbon menjadi salah satu peluang offset bagi industri pulp dan kertas APP,” tambahnya.

APP Group saat ini mengelola 1,07 juta hektare konsesi kehutanan secara langsung. Selain itu, APP Group juga bermitra dengan sejumlah perusahaan konsesi kehutanan sebagai pemasok yang luasnya kurang lebih sama.

Read also:  KKP Jelaskan Mekanisme Perdagangan Karbon Biru, Wajib PKKPRL dan Teregistrasi di SRUK

Melalui Regenesis, APP berkomitmen mengalokasikan pendanaan sebesar 30 juta dolar AS per tahun selama satu dekade untuk konservasi dan restorasi satu juta hektare hutan tropis.

Program ini diperkuat dengan Kebijakan Hutan Positif (Forest Positive Policy) yang menekankan tiga pilar utama yaitu restorasi lanskap, pemberdayaan masyarakat, dan pengelolaan rantai pasok yang bertanggung jawab.

Ketua Komite Keberlanjutan APP Group Bernard Tan menilai keterlibatan dalam pasar karbon akan memberi insentif bagi masyarakat agar lebih aktif menjaga hutan.

“Bahkan tanpa pasar karbon pun kami tetap melaksanakan program konservasi. Namun dengan adanya pendapatan tambahan, akan lebih mudah bagi komunitas untuk terlibat,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pendapatan dari perdagangan karbon dapat menopang upaya pertanian berkelanjutan yang tengah didorong perusahaan.

Read also:  Permenhut 6/2026 Buka Peluang Masyarakat Terlibat Perdagangan Kredit Karbon Kehutanan

Bernard juga menekankan pentingnya kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk pelanggan yang memiliki komitmen netral karbon maupun NGO yang semakin fokus pada restorasi.

“Pasar karbon membuat semakin banyak pihak tertarik pada konservasi. Komunitas yang bisa kami libatkan kini jauh lebih luas dibanding 10 tahun lalu. Menurut kami, waktunya tepat untuk melangkah lebih jauh,” kata Bernard. ***

LATEST STORIES

MORE ARTICLES

Pasca Permenhut 6/2026, Kemenhut Bidik Penjualan Karbon Stok Kaltim dan Pipeline Proyek

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) membidik penjualan kredit karbon dari stok penurunan emisi di Kalimantan Timur serta sejumlah pipeline project kehutanan, menyusul terbitnya Permenhut...

Kemenhut Sosialisasikan Permenhut 6/2026, Aturan Perdagangan Karbon Libatkan Masyarakat Secara Langsung

Ecobiz.asia – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mensosialisasikan Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon Sektor Kehutanan di Gedung Manggala...

OJK Revisi Aturan Perdagangan Karbon, Target Rampung Juni 2026

Ecobiz.asia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah menyiapkan revisi regulasi perdagangan karbon sekaligus mengembangkan sistem registri pendukung guna memperkuat kerangka pasar karbon nasional. Ketua Dewan...

Indonesia Siapkan Implementasi Nesting Karbon Kehutanan, Riau Jadi Percontohan

Ecobiz.asia – Pemerintah Indonesia menyiapkan operasionalisasi kerangka kerja nesting karbon kehutanan guna mendorong transaksi berintegritas tinggi dan menarik investasi global. Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari...

Pertamina NRE Sediakan Kredit Karbon, Dukung Kampanye IDXCarbon “Aku Net-Zero Hero”

Ecobiz.asia — PT Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menyediakan kredit karbon untuk mendukung kampanye “Aku Net-Zero Hero” yang diluncurkan bersama IDXCarbon, PT...

TOP STORIES

Asia Pacific Ports Advance Cross-Sector Hydrogen and E-Fuel Development

Ecobiz.asia — Ports across the Asia Pacific are accelerating efforts to develop hydrogen and e-fuel ecosystems through cross-sector collaboration, positioning the region as a...

Two Sumatran Elephants Found Dead in Bengkulu, Investigation Underway

Ecobiz.asia — Two Sumatran elephants have been found dead in Mukomuko Regency, Bengkulu Province, prompting an investigation by Indonesia’s Ministry of Forestry to determine...

Induk dan Anak Gajah Sumatra Ditemukan Mati di Bengkulu, Kemenhut Lakukan Investigasi

Ecobiz.asia — Dua individu Gajah Sumatra ditemukan mati di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memastikan kasus tersebut tengah dalam proses investigasi untuk...

Vale Perkuat Kinerja ESG 2025, Investasi Lingkungan Naik 54,3%

Ecobiz.asia — PT Vale Indonesia Tbk memperkuat kinerja lingkungan, sosial, dan tata kelola (environmental, social, and governance/ESG) sepanjang 2025 dengan peningkatan signifikan investasi lingkungan...

PT Muliaglass dan PT Muliakeramik Indahraya Gandeng Xurya Resmikan PLTS Atap Terbesar di Indonesia Berkapasitas 22,5 MW

Ecobiz.asia -- Kebutuhan energi yang besar dan berkelanjutan di sektor industri mendorong semakin banyak pelaku manufaktur mengintegrasikan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) ke dalam...