Ecobiz.asia – Amerika Serikat masih menjadi pasar strategis bagi produk kehutanan Indonesia. Nilai ekspor produk kayu olahan Indonesia ke Negeri Paman Sam pada 2025 tercatat mencapai US$1,94 miliar atau sekitar 15 persen dari total ekspor produk kayu olahan Indonesia secara global.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia Soewarso mengatakan perubahan lanskap perdagangan global menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi industri hasil hutan Indonesia.
“Perubahan lanskap perdagangan global menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi industri hasil hutan. Karena itu, dialog yang terbuka dan konstruktif antara pemerintah, pelaku usaha, dan mitra dagang menjadi sangat penting untuk menjaga hubungan perdagangan yang adil dan berkelanjutan,” kata Soewarso dalam webinar internasional Navigating U.S. Market Access for Indonesian Forest Products: Trade, Legality, and Sustainability, yang digelar secara hybrid di Washington DC, AS, Kamis (14/5/2026).
Ia menegaskan Indonesia tetap berkomitmen mendorong pengelolaan hutan lestari, perdagangan kayu legal, dan penguatan tata kelola kehutanan yang transparan serta akuntabel. Menurutnya, forum bisnis tersebut menjadi ruang strategis untuk memperluas peluang pasar sekaligus mendorong inovasi dan diversifikasi produk kehutanan Indonesia di pasar global.
Webinar tersebut digelar Kementerian Kehutanan bersama Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington D.C. dan APHI untuk memperkuat akses pasar produk kehutanan Indonesia di Amerika Serikat di tengah meningkatnya tuntutan global terhadap aspek keberlanjutan, keterlacakan, dan kepatuhan rantai pasok.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan hubungan perdagangan kehutanan Indonesia dan Amerika Serikat telah berlangsung lebih dari tiga dekade dan dibangun atas dasar kepercayaan serta komitmen terhadap pengelolaan hutan lestari.
“Kayu lapis Indonesia yang masuk ke Amerika Serikat bukan berasal dari hutan yang dikelola secara ilegal. Produk kami bersertifikat, dapat ditelusuri, dan diverifikasi legalitasnya melalui sistem SVLK+ yang menjadi salah satu sistem paling komprehensif di dunia,” ujar Raja Juli Antoni.
Menhut menjelaskan lebih dari 70 persen ekspor plywood Indonesia ke Amerika Serikat telah memiliki sertifikasi FSC maupun Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian (SVLK+). Pemerintah juga mendorong diversifikasi produk kehutanan Indonesia agar tidak hanya bergantung pada plywood dan kayu dipterokarpa.
Menurut Raja Juli Antoni, Indonesia memiliki potensi besar dari berbagai spesies kayu yang dapat mendukung industri konstruksi, furnitur, hingga recreational vehicle (RV) di Amerika Serikat.
Forum tersebut turut menghadirkan sejumlah pembicara dari pemerintah dan asosiasi industri kehutanan Indonesia maupun Amerika Serikat, di antaranya CEO International Wood Products Association Ashley Amidon dan konsultan Recreation Vehicle Industry Association Mattie Amagai. ***



