Ecobiz.asia – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan perusahaan energi nuklir Rusia Rosatom menggelar pertemuan untuk membahas pengembangan energi nuklir berskala besar di Indonesia.
Pertemuan tersebut dilakukan dalam rangka menindaklanjuti pembahasan sebelumnya saat Kepala BRIN Arif Satria mendampingi Presiden Prabowo Subianto menerima Direktur Jenderal Rosatom Alexey Likhachev di Istana Negara.
Arif Satria mengatakan BRIN mendapat tugas untuk melakukan penjajakan kerja sama pengembangan teknologi nuklir dengan Rosatom yang telah dirintis sejak 2006.
“Ini merupakan upaya komprehensif untuk mendalami berbagai opsi teknologi maju bagi masa depan. BRIN bertugas memastikan bahwa setiap langkah dalam penjajakan teknologi nuklir ini terkoordinasi dengan baik antar-instansi,” ujar Arif dalam pertemuan yang digelar di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Selasa (13/5/2026).
Menurutnya, fokus utama kerja sama ke depan diarahkan pada penguatan Joint Working Group untuk penyiapan implementasi energi nuklir berskala besar di Indonesia. Pembahasan mencakup pengembangan roadmap, studi tapak, pemilihan teknologi reaktor, hingga pendalaman siklus bahan bakar nuklir.
Arif menegaskan penguasaan teknologi nuklir perlu dibarengi pendekatan sosial guna memastikan penerimaan publik dan mitigasi dampak sosial-ekonomi.
“Pendekatan sosiologis ini vital untuk memetakan tingkat penerimaan publik serta memastikan setiap tahap penjajakan energi nuklir di Indonesia berjalan secara transparan, aman, dan humanis,” katanya.
BRIN mencatat kerja sama teknis Indonesia dan Rusia di bidang nuklir telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir, di antaranya kolaborasi BATAN-Rosatom pada 2015, BAPETEN-Rostechnadzor pada 2017, serta STTN atau Politeknik Nuklir dengan Rosatom Technical Academy pada 2020.
Selain pengembangan energi nuklir, kerja sama BRIN dan Rosatom juga mencakup modernisasi fasilitas reaktor riset GA Siwabessy di Kawasan Sains dan Teknologi BJ Habibie Serpong, pengelolaan limbah radioaktif, serta fabrikasi elemen bakar reaktor.
Kedua pihak juga membahas pengembangan teknologi High Temperature Gas-Cooled Reactor (HTGR) yang dapat dimanfaatkan untuk produksi hidrogen, desalinasi air, dan kebutuhan industri selain pembangkitan listrik.
Di sektor non-energi, kerja sama diarahkan pada pengembangan radioisotop untuk kebutuhan medis dan industri, teknologi iradiasi untuk pangan dan kesehatan, serta penguatan pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia teknologi nuklir bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi. ***



